Atmosfer Karbon Planet WASP-12b Bertatahkan Berlian

Tinuku
News KeSimpulan.com - Planet dengan hamburan berlian di langit. Dunia yang kaya karbon ditemukan di planet 1.200 tahun cahaya.

Planet bertatahkan berlian dengan gunung-gunung dan penuh dengan core kaca mungkin mimpi di siang bolong. Sebuah planet seukuran Jupiter yang mengorbit sebuah bintang memiliki atmosfer yang mengandung sebagian besar karbon, para astronom melapor 8 Desember ke Nature.

Planet WASP-12b memiliki atmosfer yang mengandung karbon lebih dari 50 persen seperti yang diukur para ilmuwan. Ini mengejutkan untuk mengundang teori-teori baru tentang pembentukan planet, kata Nikku Madhusudhan, astrofisikawan dari Princeton University yang berpartisipasi dalam penelitian di MIT.

WASP-12b berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini seukuran Jupiter namun bersuhu 2.500 kelvin (lebih panas) dan mengorbit bintang host WASP-12 dengan jarak hanya sekitar seperlimapuluh jarak Matahari dan Bumi.

Menggunakan Spitzer Space Telescope, Madhusudhan dan rekannya mencatat cahaya inframerah WASP-12b yang menyelinap di sekitar bintang host. Ketika planet ini di depan bintang, teleskop mencatat cahaya dari bintang dan atmosfer planet. Atmosfer WASP-12b ditemukan karbon dalam bentuk karbon monoksida, metana dan karbon dioksida.

Keberadaan karbon telah diusulkan dalam hipotesis di masa lalu, meskipun bagaimana planet akan terbentuk masih merupakan misteri. Planet dan bintang host terbentuk dari gas, awan dan debu yang sama, sehingga para astronom berasumsi bahwa atmosfer dari planet-planet raksasa memiliki komposisi mirip dengan bintang-bintang terdekat. Tetapi WASP-12b memiliki setidaknya dua kali lebih banyak karbon di atmosfer dibanding bintang host, sebuah misteri yang tidak bisa dijelaskan.

Pada planet ringan seperti Bumi, gas hidrogen dan helium melarikan diri dari gravitasi planet sehingga kimia atmosfer tidak mencerminkan komposisi bintang. Sementara planet berbatu terbentuk jika jumlah karbon lebih sedikit daripada oksigen dan didominasi silikat seperti Bumi. Tetapi begitu rasio karbon dan oksigen sama maka terjadi perubahan aturan formasi planet.

"Ketika jumlah relatif karbon tinggi, seolah-olah Anda membalik dan merubah segalanya. Semuanya akan berbeda, suatu hari Anda penggemar Yankees, hari berikutnya Red Sox," kata Marc J. Kuchner dari NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Md.

Meskipun sebuah planet raksasa karbon didominasi gas, berbatu, berbasis karbon seukuran Neptunus (sekitar 17 kali massa Bumi) mungkin akan memiliki landskap berlian dan graphite, kata Kuchner. Kehidupan di sebuah planet karbon akan terlihat berbeda seperti Manusia makan karbon. "Anda mungkin akan makan karat dan menggabungkannya dengan udara di planet aneh ini yang mungkin sebagian besar senyawa karbon," kata Kuchner.

Planet karbon lebih mungkin ada dan Jupiter mungkin salah satu darinya. Rasio karbon terhadap oksigen sangat sulit untuk diukur, ketika pesawat ruang angkasa Galileo milik NASA mengunjungi Jupiter pada tahun 1990-an untuk mengukur rasio karbon terhadap oksigen di atmosfer.

"Tidak ada yang percaya," kata Kuchner. Belum ada teori yang dapat menjelaskan bagaimana karbon membentuk planet. Mereka mungkin lahir dalam planetari disk dengan jumlah karbon yang relatif tinggi, kata Kuchner, seperti disk di sekitar bintang Beta Pictoris (63 tahun cahaya) memiliki 18 kali lebih banyak karbon.
  1. Nikku Madhusudhan, Joseph Harrington, Kevin B. Stevenson, Sarah Nymeyer, Christopher J. Campo, Peter J. Wheatley, Drake Deming, Jasmina Blecic, Ryan A. Hardy, Nate B. Lust, David R. Anderson, Andrew Collier-Cameron, Christopher B.T. Britt, William C. Bowman, Leslie Hebb, Coel Hellier, Pierre F.L. Maxted, Don Pollacco & Richard G. West. A high C/O ratio and weak thermal inversion in the atmosphere of exoplanet WASP-12b, Nature, 08 December 2010, DOI:10.1038/nature09602
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment