DNA Manusia Gua Denisovan Siberia Masuk ke Genome Melanesia

Tinuku
News KeSimpulan.com - Titik poin untuk tipe manusia baru semakin rumit. Sekuensing genome nuklir tulang jari purba membuat asal-usul manusia modern makin kompleks.

Para peneliti mengkonfirmasi temuan tipe baru manusia yang hidup di Pegunungan Altai, Siberia selatan lebih dari 30.000 tahun yang lalu. Kelompok manusia ini telah lama menghilang dimana para peneliti menghubungkan dengan "Denisovans" atau manusia Denisova setelah temuan tulang di gua Denisova yang hidup pada rentang waktu yang sama dengan manusia modern dan Neanderthal di wilayah tersebut dan tampaknya lebih dekat terkait dengan Neandertal daripada kita.

Meskipun manusia Denisovan telah punah, eksistensi mereka cukup luas di Asia hasil kawin silang dengan manusia modern sebelum mereka menghilang dengan meninggalkan warisan hantu dalam genome tipe Melanesia.

Setelah arkeolog menemukan tulang ini pada tahun 2008, para bioantropolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, mengisolasli DNA sebanding dengan DNA beku di permafrost (manusia paleo Eskimo atau Saqqaq Greenland).

Dalam sebuah studi yang dilaporkan awal tahun di Nature, tim sekuensing DNA mitokondria (mtDNA) dari tulang menunjukkan kode bukan milik manusia modern maupun Neanderthal. mtDNA (hanya diturunkan dari ibu dan mewakili sebagian kecil dari total genome) sehingga, bagaimapun, tidak menyediakan cukup data untuk menarik kesimpulan yang pasti tentang identitas siapa pemilik jari.

Dalam studi baru, tim Max Planck melakukan sekuens 70% dari genome nuklir yang berasal dari DNA pada 23 pasang kromosom. Para peneliti kemudian membandingkan untaian ini dengan genome manusia modern dan Neanderthal. Hasilnya menegaskan jari ini milik seorang gadis. Namun DNA lebih mirip Neanderthal daripada manusia modern.

Kesimpulan sementara Neanderthal dan Denisovan adalah kelompok saudara yang memiliki nenek moyang bersama setelah mereka berpisah dengan nenek moyang manusia modern, kata Svante Paabo, genetikawan evolusioner dari Max Planck.

Bagaimanapun, mereka tetap bukan Neanderthal karena DNA menyimpang dari Neanderthal sekitar 640.000 tahun yang lalu dan terlalu primitif bagi seorang Neanderthal, kata David Reich, genetikawan populasi dari Harvard Medical School di Boston juga anggota tim.

Para peneliti juga membandingkan bagian-bagian berbeda dari genome Denisovan dengan segmen DNA yang sama pada 53 populasi manusia saat ini. Data menunjukkan DNA tertentu Denisovan bermutasi dalam genome Melanesia dari Papua Nugini dan Pulau Bougainville, mutasi ini tidak ditemukan di Neanderthal atau populasi modern lainnya. Melanesia tampaknya mewarisi antara 4% dan 6% DNA Denisovans yang telah punah, tim melapor kemarin ke Nature.

Skenario terbaik untuk menyesuaikan data tersebut yaitu setelah pemisahan Neanderthal dan Denisovans dimana Neanderthal kawin silang dengan manusia modern hanya setelah mereka meninggalkan Afrika dan sebelum mereka menyebar ke Eropa dan Asia 80.000 tahun terakhir. Kemudian, Denisovans tinggal di Asia Timur menghadapi sekelompok manusia modern dari Afrika menuju ke timur yaitu Melanesia dan kawin dengan orang-orang di sana.

Akhirnya, Melanesia saat ini membawa DNA dari pertemuan Neanderthal dan Denisovan, membawa sekitar 8% DNA dari populasi kuno, kata Reich. Tim ini berusaha untuk mengidentifikasi dari berbagai variasi fungsi mutasi.

Tim Paleoanthropolog juga mengambil sampel fosil tua di Asia, mencoba mencari tahu kemungkinan paling logis untuk bukti Denisovan jika ada. Seiring dengan temuan Homo floresiensis (si kerdil hobbit) pada tahun 2004 yang hidup di Pulau Flores sekitar 13.000 tahun yang lalu maka setidaknya tiga jenis manusia purba yang masih hidup pada saat yang sama seperti manusia modern dan mengambil alih dunia.

Jelas, ini kisah "asal-usul manusia modern yang secara pasti menambah lebih banyak dan semakin lebih rumit," kata Chris Stringer, paleoantropolog dari Natural History Museum di London.
  1. David Reich, Richard E. Green, Martin Kircher, Johannes Krause, Nick Patterson, Eric Y. Durand, Bence Viola, Adrian W. Briggs, Udo Stenzel, Philip L.F. Johnson, Tomislav Maricic, Jeffrey M. Good, Tomas Marques-Bonet, Can Alkan, Qiaomei Fu, Swapan Mallick, Heng Li, Matthias Meyer, Evan E. Eichler, Mark Stoneking, Michael Richards, Sahra Talamo, Michael V. Shunkov, Anatoli P. Derevianko, Jean-Jacques Hublin, Janet Kelso, Montgomery Slatkin & Svante Pääbo. Genetic history of an archaic hominin group from Denisova Cave in Siberia, Nature, Volume:468, Pages:1053–1060, 22 December 2010, DOI:10.1038/nature09710
  2. Johannes Krause, Qiaomei Fu, Jeffrey M. Good, Bence Viola, Michael V. Shunkov, Anatoli P. Derevianko & Svante Pääbo. The complete mitochondrial DNA genome of an unknown hominin from southern Siberia, Nature, Volume:464, Pages:894-897, 8 April 2010, DOI:10.1038/nature08976
Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology http://www.eva.mpg.de/english/index.htm
MPI EVA Neandertal http://www.eva.mpg.de/neandertal/index.html
MPI EVA Press releases Download

http://www.kesimpulan.com/2010/03/sekuen-dna-mitokondria-mtdna-fosil-jari.html
http://www.kesimpulan.com/2010/04/migrasi-homo-floresiensis-dari-afrika.html
http://www.kesimpulan.com/2009/11/homo-floresiensis-adalah-spesies.html
http://www.kesimpulan.com/2010/02/sekuens-genome-rambut-palaeo-eskimo.html
http://www.kesimpulan.com/2009/12/enam-puluh-kerangka-dari-3k-yang-lalu.html

Credit : David Reich et.al. (Genetic history of an archaic hominin group from Denisova Cave in Siberia), Nature, DOI:10.1038/nature09710.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment