Pertukaran Gen Bakteri Resisten NDM-1 Melawan Antibiotik

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bakteri semakin cerdas melawan antibiotik. Kelas baru kekuatan resisten antibiotik dari gen dipindahtangankan seperti NDM-1.

Berjuang agar tetap hidup, banyak bakteri seperti MRSA telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik yang umum digunakan. Tetapi bakteri lain menggunakan cara yang lebih cerdas dan berbahaya saat perlawanan yaitu merekrut gen yang dipindahtangankan oleh kalangan umum strain yang beredar.

Salah satu unsur genetik yaitu NDM-1 (New Delhi metallo-beta-lactamase 1) mengembangkan pertahanan berbasis enzim yang membuat mereka kebal terhadap antibiotik berbasis beta-lactam termasuk penisilin serta carbapenems (upaya antibiotik terakhir terhadap Escherichia coli), cephems (seperti cephalosporins dan cephamycins) dan monobactams untuk pasien yang sulit.

Perilaku ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 2008 (pada pasien dengan Klebsiella pneumoniae) dan kasus infeksi NDM-1 positif yang tidak biasa di India, Pakistan dan Bangladesh. Kasus ini juga telah dicatat di Brazil, Kanada, Jepang, Inggris dan Amerika Serikat.

Sebuah laporan yang diterbitkan dalam edisi 16 Desember The New England Journal of Medicine menilik kembali masalah ini dan menyoroti potensi NDM-1 dan gen penawar antibiotik lainnya yang akan membuat mandul banyak gudang farmasi saat ini.

"Penyebaran organisme ini telah meningkatkan kekhawatiran karena beberapa dari mereka resisten terhadap semua agen anti-mikroba kecuali polymyzins," kata Robert Moellering, farmakolog dari Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center.

Awal kasus NDM-1 hanya tampak ditemukan di antara pasien di India dimana penggunaan antibiotik kurang tertata. Tetapi temuan yang lebih baru menyarankan beberapa pasien positif NDM-1 yang di Inggris mungkin telah tertular strain tahan antibiotik tanpa bepergian ke luar negeri.

Gen ini tidak perlu infeksi untuk menghajar malapetaka kepada pasien karena dapat diambil oleh "segala macam bug yang melewati usus kita," kata Brandi Limbago dari Division of Healthcare Quality Promotion di U.S. Centers for Disease Control and Prevention. Tetapi sekali materi genetik tahan obat memasuki bakteri, "maka menghasilkan enzim yang melumpuhkan antibiotik dan mereka mengunyahnya tanpa efek," kata Limbago.

Beberapa enzim memediasi kromosom, namun sebagian dari mereka ditemukan pada unsur genetik menular dan akuisisi gen resistensi tidak menimbulkan biaya besar untuk kebugaran organisme penerima. Perlawanan terhadap oxazolidinones, seperti linezolid dalam kasus S. Aureus merupakan contoh dari mekanisme resistensi. Karena target oxazolidinones pada 23S ribosomal RNA dari ribosome yang ada di beberapa (4-6) salinan. Karena memerlukan beberapa mutasi untuk mengembangkan resistensi organisme dan mutasi ini jelas berhubungan dengan penurunan daya tahan.

Bakteri terus menggagalkan upaya antibiotik dengan membanjiri kode gen, berkembang biak dengan kecepatan yang luar biasa, dan mengembangkan cara-cara yang sangat efisien untuk saling bertukar gen.

Infeksi ini tidak selalu mematikan, tetapi "mengontrak host" seperti trojan menyatu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. "Pasien-pasien terinfeksi organisme ini dan ketika anda tidak memiliki alat yang tepat untuk mengobati mereka, saat itulah Anda mengalami kesulitan," kata Limbago.

"Antibiotik yang lebih baru, seperti cephalosporins dan carbapenems serta beta-lactamase inhibitors, tampak seperti sebuah strategi yang efektif terhadap bakteri ini. Tetapi evolusi baru beta-lactamases seringkali melalui mutasi yang menonaktifkan antibiotik," kata Moellering. Saat ini ada sekitar 890 enzim yang jauh lebih banyak daripada antibiotik yang dikembangkan untuk memerangi mereka.

"Semua carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE) dan bukan hanya NDM yang seharusnya kita khawatirkan," kata Limbago. Meskipun NDM-1 mungkin akan menyebar secara global, Limbago menjelaskan di Amerika Serikat, enzim lain, Klebsiella pneumoniae carbapenemase (KPC) telah menjadi perhatian jauh lebih besar.

Moellering mencatat, kelas lain yang dikenal sebagai CTX beta-lactamases, "akan berkompromi untuk menggunakan antibiotik beta-lactam untuk mengobati masyarakat yang kena infeksi saluran kemih."

Penyalahgunaan antibiotik telah menjadi penggerak utama resistensi pada bakteri strain-spesifik dan resistensi berbasis gen. "Penggunaan antibiotik prudent harus selalu menjadi tujuan. Tetapi sekali gen muncul maka pada saat itu keluarlah jin dari botol," kata Limbago.

Setelah resistensi mulai beredar, pengawasan dan pengendalian infeksi menjadi cara utama untuk memerangi penyebaran lebih lanjut. Amerika Serikat sendiri tidak memiliki strategi untuk KPC atau NDM-1 spesifik, tetapi menawarkan rekomendasi untuk semua infeksi CRE positif. Pemerintah juga tidak memerlukan rumah sakit untuk melaporkan kasus CRE, namun demikian infeksi telah dikonfirmasi setidaknya di 35 negara.
  1. Robert C. Moellering, Jr. NDM-1 - A Cause for Worldwide Concern, The New England Journal of Medicine 2010; 363:2377-2379, December 16, 2010 (Download PDF)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment