Budaya Pertanian Tertua dan Terkecil Amuba Sosial Dictyostelium discoideum

Tinuku
News KeSimpulan.com - Budaya pertanian terkecil dan tertua. Amuba sosial mengolah pertanian jamur lendir untuk menjamin ketahanan pangan di lumbung.

Burung, lebah, dan kutu yang lebih berpendidikan tidak melakukannya, tetapi amuba sosial telah mengisi kolom profesi di formulir KTP sebagai petani dalam bentuk peternakan bakteri. Dictyostelium discoideum (Dicty) adalah anggota terbaru klub spesies kecil yang diketahui berlatih pertanian.

Budaya mereka tidak mewah namun 13 dari 35 strain liar makhluk kecil ini secara rutin menggebala bakteri untuk sumber makanan dan menyisakan beberapa untuk dijadikan benih dan ditanam kembali, demikian laporan peneliti ke Nature 20 Januari.

Tidak ada bukti sejauh ini bahwa amuba mengembala bakteri, kata Duur Aanen, genetikawan evolusi dari Wageningen University di Belanda, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Namun, "laporan ini benar-benar memenuhi definisi pertanian: kebijakan pembibitan dan panen makanan," kata Aanen.

Amuba individu dapat hidup mandiri, menyeruput bakteri dalam tanah. Ketika makanan habis, segera bergabung dengan kawan-kawan memanen organisme dengan panjang sekitar setengah sentimeter di padang rumput hijau yang melepaskan spora, setiap pemijahan memulai siklus dari awal lagi.

Debra Brock, mahasiswa pascasarjana ekologi dan biologi evolusi di Rice University di Houston, Texas, menghabiskan banyak waktu melihat D. discoideum di bawah mikroskop ketika bekerja sebagai teknisi di laboratorium yang mempelajari perkembangan organisme. Laboratorium tempatnya lebih banyak mendapat pesanan strain Dicty, hampir semua yang diturunkan dari satu klon dikumpulkan selama dekade lalu.

Tetapi kerja di laboratorium semakin mendekatkan Brock menggapai Ph.D yang memiliki koleksi besar klon dari alam. Ini pertama kalinya Brock melihat spora dari amuba liar dan melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya: bakteri nongkrong di tubuh berbuah.

"Ini sangat aneh dan menghibur ketika menonton aktivitas mereka," kata Brock.

Brock pikir melihat bahwa bintik-bintik adalah bakteri. Tetapi dia tidak bisa memastikan, semakin membuat penasaran dan akhirnya memulai serangkaian percobaan. Pertama, ia merogoh dengan pipet tipis ke dalam tubuh Dicty, disedot keluar isinya, dan menyebarkannya di piring. Setelah 2 hari, beberapa piring menjadi patch bakteri, beberapa klon D. discoideum sebagai bug dalam spora mereka.

Tetapi apakah bakteri hanya sekedar sebuah infeksi? Untuk mengetahui, Brock membunuh mereka dengan memberi antibiotik. Dia kemudian menempatkan amuba pada sebuah patch bakteri segar. Mengejutkan, klon ini kemudian mengambil bug lagi, menunjukkan bahwa mereka kembali memanen bakteri.

"Ini seperti surga. Saya menari-nari di laboratorium, Yay! Yay...! kata Brock.

Percobaan lainnya menunjukkan bahwa amuba "menanam" lingkungan baru mereka dengan makanan.

"Mereka dapat membawa [bakteri], mengurai, dan mereka menyebar benih di tempat-tempat baru, dan mereka benar-benar memanen. Mereka sudah cukup berprofesi petani," kata Brock.

Para peneliti telah menemukan beberapa hewan yang berprofesi petani seperti semut dan rayap yang menanam jamur, damselfish menanam ganggang, dan siput bertani jamur. Tetapi Dictyostelium discoideum menjadi mikroba pertama yang membangun peradaban pertanian meskipun sangat primitif.

Koos Boomsma, biolog evolusi dari University of Copenhagen yang tidak terlibat dalam studi, mengatakan tidak heran bahwa pertanian tersebar melalui pohon kehidupan.

"Tetapi saya tidak pernah menduga ditemukan pada Dictyostelium discoideum," kata Boomsma.

"Ini laporan yang indah, benar-benar data pertama, jadi selalu akan menjadi pertanyaan," kata Bernard Crespi, biolog evolusi dari Simon Fraser University di Burnaby, Kanada.

Crespi ingin melihat data lebih lanjut tentang lingkungan dimana petani dan bukan petani ditemukan di alam, apakah petani di tempat-tempat pembibitan makanan. Penelitian semacam ini bahkan memungkinkan komparasi untuk pertanian manusia awal.

"Anda selalu mencari konvergensi dalam biologi evolusi," kata Crespi.
  1. Debra A. Brock, Tracy E. Douglas, David C. Queller, Joan E. Strassmann (Department of Ecology and Evolutionary Biology, Rice University, 6100 Main Street, Houston, Texas 77005, USA), Primitive agriculture in a social amoeba, Nature, Volume:469, Pages:393–396, 19 January 2011, DOI:10.1038/nature09668
Debra Brock http://www.ruf.rice.edu/~evolve/DBrock.html
Duur Aanen http://www.gen.wur.nl/UK/Staff/Scientific+Staff/Duur+Aanen/
Koos Boomsma http://www.zi.ku.dk/popecol/webbio/jboomsma.htm
Bernard Crespi http://www.sfu.ca/biology/faculty/crespi/

Credit : Social Evolution (Rice University) http://www.rice.edu/
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment