Hasil Survei Langit Pertama Misi Planck Petakan Core Awan Dingin

Tinuku
News KeSimpulan.com - Teleskop pesawat ruang angkasa Planck milik European Space Agency (ESA) merilis katalog data baru peta langit dengan core awan dingin.

Temuan awan super dingin dari peta seluruh langit ini diumumkan di dua tempat secara bersamaan pada Selasa lalu 11 Januari pada saat pertemuan rutin musim dingin American Astronomical Society dan pada sebuah jumpa pers di Paris.

Katalog berisi ribuan kepompong berdebu yang belum pernah dilihat sebelumnya di mana para bintang terbentuk dan beberapa kluster galaksi lebih masif dari apa yang pernah diamati. Misi Planck diluncurkan pada Mei 2009 untuk mendeteksi cahaya hanya dari beberapa ratus ribu tahun setelah Big Bang, sebuah peristiwa ledakan pada awal alam semesta sekitar 13,7 miliar tahun yang lalu.

Detektor pesawat ruang angkasa ini melakukan survei seluruh hamparan langit, mengukur latar belakang gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background atau CMB) atau sidik jari radiasi sisa-sisa Big Bang. Data akan membantu para ilmuwan mengurai petunjuk tentang nasib, evolusi dan tabir alam semesta. Meskipun hasil kosmologi tidak akan siap untuk dua tahun ke depan, pengamatan awal objek tertentu di galaksi Milky Way, serta galaksi yang lebih jauh, sedang dianalisis.

"Kami akhirnya mendapatkan sinyal CMB. Tetapi dengan sendirinya, observasi awal ini menghadirkan informasi baru tentang benda-benda di alam semesta kita, baik dekat dan jauh, serta segala sesuatu di antaranya," kata Charles Lawrence, ilmuwan proyek dari AS untuk Planck di NASA's Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, California.

Planck mengamati langit pada sembilan panjang gelombang cahaya, mulai dari inframerah ke gelombang radio. Teknologi telah meningkatkan sensitivitas dan resolusi dibandingkan misi pendahulunya yaitu NASA's Cosmic Background Explorer dan Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP).

Temuan Planck yang sudah masuk katalog sekitar 10.000 form bintang "core dingin". Core adalah rahim pembibitan yang gelap dan berdebu di mana janin bintang mulai terbentuk, juga beberapa tempat terdingin di alam semesta. katalog baru Planck termasuk beberapa core paling dingin yang pernah dilihat dengan suhu hanya 70 di atas nol absolut (minus 4470 Fahrenheit). Untuk melihat gas dan debu terdingin, detektor Planck hanya bersuhu 0,10 Kelvin.

"Sulit untuk memahami bagaimana konsentrasi besar gas tinggal di tempat sedingin ini. Benda terdingin yang dikenal di alam semesta," kata George Helou, astrofisikawan dan anggota tim serta Direktur Infrared Processing and Analysis Center di California Institute of Technology, Pasadena.

Helou yakin pengamatan Planck akhirnya akan mengarah pada "pemahaman yang jauh lebih baik dari langkah-langkah kritis terakhir menjelang kelahiran bintang." Secara khusus, astronom ingin mengetahui bagaimana dan seberapa cepat awan gas runtuh menjadi bintang yang berbeda. Tim Planck percaya berbagai macam core dingin sesuai dengan tahapan yang berbeda dalam evolusi bintang pra-lahir. Dari dingin, gumpalan ke objek protostellar muda yang masih tertanam di awan sekitarnya.

"Kita harus menempatkan setiap obyek tersebut dalam urutan yang benar," kata Helou.

Katalog baru juga berisi beberapa kluster galaksi besar yang dikenal termasuk beberapa yang baru ditemukan. Yang paling besar setara dengan satu juta miliar kali massa Matahari. Galaksi di alam semesta terikat bersama-sama ke dalam kelompok yang lebih besar, membentuk jaringan padat di kosmos. Para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang evolusi galaksi, dark matter dan dark energy (zat hipotetik yang mengontrol sebagian besar alam semesta).

"Karena Planck mengamati seluruh langit, memungkinkan kita melihat lebih komprehensif bagaimana semua struktur yang lebih kecil dalam alam semesta terhubung menjadi kesatuan," kata Jim Bartlett, anggota tim Planck dari AS di JPL dan Astroparticule et Cosmologie-Universite Paris Diderot di Perancis.

"Kami penuh semangat temuan pertama Planck yang telah ditunggu-tunggu. Kami berharap kerjasama dengan ESA tetap dilanjutkan dan ilmu pengetahuan akan banyak datang di masa depan," kata Jon Morse, direktur devisi NASA's Astrophysics di markas besar NASA, Washington.

Planck (ESA) http://www.esa.int/planck
Planck (NASA) http://www.nasa.gov/planck
Credits: ESA/Planck Collaboration
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment