Interprestasi Ekspresi Wajah Proses Evolusi dari Satu Nenek Moyang

Tinuku
News KeSimpulan.com - Simpanse dan manusia mengekspresikan kepribadian pada wajah. Peneliti mengusulkan teori ekspresi wajah merupakan proses evolusi 7 juta tahun yang lalu.

Manusia dengan tangkas menangkap agresifitas dalam ekspresi wajah sepupu evolusioner. Sebuah penelitian baru mengatakan pada simpanse, seperti juga manusia, wajah adalah papan kepribadian. Manusia umumnya dapat mengetahui apakah simpanse lain bertindak dominan dan secara fisik aktif hanya dengan melihat ekspresi mulut, kata Robert Ward, neurokognitif dari Bangor University di Wales yang memimpin tim penelitian.

Temuan konsisten dengan bukti penelitian sebelumnya, Ward dan rekan-rekannya pada tahun 2010 melaporkan bahwa manusia juga dapat secara akurat mendeteksi apakah orang lain ekstrover, emosional stabil, menyenangkan, dan imajinatif dengan melihat foto-foto wajah ekspresi netral. Keterbukaan pada orang dan dominasi dalam simpanse, keduanya berhubungan dengan ketegasan dan sosialisasi, serta sebagian berasal dari genetik individu.

Para peneliti mengajukan mengusulkan teori bahwa kemampuan untuk melihat ciri-ciri kepribadian kunci melalui struktur wajah berakar dari proses evolusi lebih dari 7 juta tahun yang lalu ketika satu nenek moyang bersama manusia dan simpanse, serta melapor ke Evolution and Human Behavior, 14 Januari.

"Fakta bahwa sinyal wajah simpanse dapat dibaca oleh manusia menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk membaca wajah orang lain secara akurat tidak hanya diperoleh melalui budaya, tetapi merupakan bagian dari sistem berevolusi," kata Ward.

Sebuah hipotesis menarik yang membutuhkan pengujian dengan gambar komposit yang menggabungkan gambar digital banyak simpanse yang sama ke dalam satu snap ekspresi, kata Lisa Parr, psikolog primata dari Emory University di Atlanta.

Komposit meminimalkan variasi dari satu foto ke foto yang lain dalam pencahayaan, warna kulit, sudut kepala dan faktor-faktor lain yang dapat menciptakan kesan kepribadian yang berbeda dari individu yang sama, kata Parr.

Ward dan rekan-rekannya sudah mengevaluasi gambar komposit orang, tetapi terhalang kesulitan teknis ketika mengolah wajah komposit simpanse. Landmark anatomi yang digunakan untuk membuat gambar komposit, seperti posisi rahang yang tepat, sulit untuk mengukur di wajah simpanse yang berbulu, kata Ward. Juga komposit tekstur wajah, sehingga wajah simpanse terlihat buram.

Dalam studi baru, Ward melakukan empat pengujian dengan total 139 mahasiswa. Responden melihat sepasang snap ekspresi simpanse yang sebelumnya telah diidentifikasi dalam pengamatan perilaku terkait tinggi atau rendah perilaku dominasi. Setiap simpanse difoto ketika sedang menatap lurus ke depan dan sedikit miring, nampak gigi dan tidak, tatapan mata kuat atau lemah yang mungkin memberikan tampilan mengancam.

Ward berspekulasi bahwa simpanse yang melihat ekspresi wajah simpanse lain bisa membedakan mana yang bertindak dominan dan tidak. Timnya berencana untuk mengeksplorasi kemungkinan ini.
  1. Robin S.S. Kramer, Robert Ward (Bangor University, Bangor, Gwynedd, UK); James E. King (University of Arizona, Tucson, AZ, USA), Identifying personality from the static, nonexpressive face in humans and chimpanzees: evidence of a shared system for signaling personality, Evolution and Human Behavior, DOI:10.1016/j.evolhumbehav.2010.10.005
Robert Ward http://www.psychology.bangor.ac.uk/ward/
Lisa Parr http://userwww.service.emory.edu/~lparr/about.html
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment