Peralatan Batu Jebel Faya di Uni Emirat Arab Ekspansi Manusia Awal

Tinuku
News KeSimpulan.com - Manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika lebih awal daripada yang kita perkirakan sebelumnya dan iklim cerah yang lebih berperan.

Homo sapiens bermigrasi bukan karena kecanggihan budaya yang memungkinkan mereka untuk menaklukkan alam. Anatomi manusia modern berevolusi di Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu. Kebanyakan paleoantropolog percaya bahwa Homo sapiens tinggal di sana selama 140.000 tahun sebelum menyebar ke seluruh dunia.

Bukti genetik menunjukkan manusia modern menempuh perjalanan dari Afrika ke Timur Tengah sekitar 60.000 tahun yang lalu. Dari sana, mereka dengan cepat menyebar ke seluruh Asia dan Eropa. Di Asia dan Eropa terjadilah kompetisi dengan populasi asli Homo erectus dan Neanderthal. Para antropolog sudah lama berasumsi pengembangan alat yang lebih canggih dan budaya modern yang memungkinkan eksodus ini. Sekarang asumsi ini ditantang oleh temuan arkeologik baru di Jebel Faya di Uni Emirat Arab (UEA).

"Mekanisme Out of Africa harus dipahami dengan cara yang berbeda. Sampai sekarang kita memikirkan perkembangan budaya yang mengarah pada kesempatan orang untuk pindah dari Afrika. Namun kini saya berpikir bahwa lingkungan alam yang menentukan…" kata Hans-Peter Uerpmann, arkeonaturalis dari University of Tübingen di Jerman dan rekan-rekan peneliti dalam konferensi pers.

Di gurun dekat Selat Hormuz, Hans-Peter Uerpmann dan rekan-rekannya menggali alat-alat batu berdating sekitar 125.000 tahun yang lalu. Pola mengelupas pada alat-alat batu menunjukkan bagaimana dibuat yang berbeda dengan alat yang dibuat oleh Neanderthal yang tinggal di utara pada waktu itu, dan tidak seperti alat-alat yang biasa dibuat oleh Homo erectus. Alat batu juga berbeda dari alat yang ditemukan di Israel berdating 120.000 tahun lalu dan berjarak 2.000 kilometer di barat laut.

Tetapi temuan terlihat seperti alat-alat primitif yang dibuat sekitar waktu yang sama oleh manusia modern awal di Afrika timur dan kemungkinan mewakili "out of Africa" yang sebelumnya belum pernah bermigrasi, kata Anthony Marks, arkeolog yang sudah pensiun dari Southern Methodist University di Dallas, Texas.

Dengan demikian, alat-alat temuan baru menunjukkan bahwa Homo sapiens berhasil melakukan perjalanan melintasi semenanjung Arab sekitar 60.000 tahun lalu (lebih awal daripada yang diperkirakan). Inilah "langkah besar pertama" untuk dominasi global, kata Marks. Selain itu, migrasi ke Saudi terjadi jauh sebelum perkembangan alat batu canggih yang biasanya dikaitkan dengan Homo sapiens pertama ke luar Afrika.

Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak membatasi mobilitas nenek moyang kita. Sebaliknya, Uerpmann menunjukkan lingkungan fisik (khususnya Laut Merah dan padang pasir Saudi) mungkin telah menjadi penghambat utama untuk migrasi keluar dari Afrika.

Namun, kendala ini mungkin dapat diatasi pada 125.000 tahun yang lalu karena sekitar 130.000 tahun yang lalu, permukaan air laut rendah pada akhir zaman es, membuat Laut Merah yang lebih sempit dan lebih mudah untuk menyeberang. Segera setelah itu, pemanasan interglasial membawa musim hujan ke Arab, mengubah gurun menjadi savana.

Chris Stringer, palaeoantropolog dari Natural History Museum di London, mencatat masih belum jelas apakah temuan baru menunjukkan aktivitas Homo sapiens yang pada akhirnya tersebar di seluruh dunia atau hanya upaya migrasi lain yang batal dilakukan. Ada kemungkinan bahwa migrasi global sukses tidak terjadi hingga 60.000 tahun yang lalu. Jika alat-alat batu yang dibuat oleh Homo sapiens yang pergi untuk menaklukkan dunia, ini menunjukkan bahwa migrasi global mungkin terjadi lebih lambat.

"Saya pikir di sini ambigu. Mengingat semua H. Sapiens berasal dari Afrika, kemungkinan bahwa pembuat alat memiliki leluhur berasal dari Afrika tetapi belum tentu secara langsung. Seorang arkeolog yang baik perlu waspada," kata John Shea, paleoantropolog dari Department of Anthropology, Stony Brook University.

Karena bukti manusia di Faya Jebel tidak berbasis biologis dari tulang atau hewan lain atau sampel material tumbuhan untuk dating radiokarbon (selain beberapa kerang yang muncul di sedimen berdating sekitar 9.700 hingga 10.400 tahun yang lalu), maka tim peneliti harus menemukan cara berbeda.

"Arkeologi tanpa usia seperti sebuah teka-teki dengan tepi terhapus. Anda punya banyak potongan individu menarik untuk informasi arkeologi, tetapi Anda tidak dapat memasukkan mereka bersama-sama untuk menghasilkan deskripsi besar," kata Simon Armitage, geografer dari Royal Holloway, University of London.

Temuan di UAE tidak menghalangi rute lain keluar Afrika melewati Sungai Nil. "Temuan kami membuka cara kedua. Tetapi rute Arabia lebih masuk akal untuk gerakan masif dari jalur utara," kata Uerpmann.

Stanley Ambrose, paleontolog dari University of Illinois di Urbana-Champaign yang sebelumnya banyak menggali gua di Israel menunjukkan bahwa manusia modern pindah dari Afrika ke Timur Tengah kira-kira 100.000 tahun yang lalu, namun entah karena mereka mati atau kembali ke Afrika, memberi jalan berkembangnya Neandertal pada 70.000 tahun yang lalu.

Sistem musim laut India membasahi Saudi dengan hujan dan memunculkan kawasan hijau dengan danau dan sungai membuka kesempatan iklim bagi H. Sapiens untuk berusaha menyeberangi laut kecil kata Adrian Parker dari Royal Holloway, University of London.

"Ada jendela singkat saat permukaan air laut masih rendah dan Arabia mengalami iklim yang lebih basah," kata Parker.

Ravi Korisettar dari Karnatak University di Dharwad, India, setuju dengan tim peneliti bahwa Saudi mungkin menjadi transit antara Afrika dan Asia untuk migrasi manusia modern. Sejak tahun 2003, Korisettar melakukan penggalian situs di Jwalapuram Valley, India Selatan. Alat-alat batu manusia modern ditemukan di sana berasal dari sedimen abu letusan vulkanik Toba yang menunjukkan bahwa orang-orang tiba sebelum letusan dan mengalami kehancuran.

Ambrose sependapat bahwa bukti sebuk sari letusan vulkanik Toba membuat dingin dan lingkungan ekstrim yang hampir memusnahkan Homo sapiens Afrika.

Jebel Faya dan Jwalapuram menampilkan beberapa kesamaan, tetapi fragmen India tertua mengalami kehancuran sesaat Toba meletus 74.000 tahun yang lalu. Manusia tangguh beradaptasi dan ditempa ke Asia setidaknya 100.000 tahun yang lalu dan disapu Toba. Tetapi poin batu Jebel Faya lebih pendek, lebih tumpul dan kurang banyak ditemukan di seluruh Afrika awal 100.000 tahun yang lalu.

Paul Mellars, paleoevolusioner dari University of Cambridge sejalan dengan Shea, melihat ukuran dan perbedaan fitur antara Jebel Faya dan alat-alat batu Afrika, ragu bahwa alat di Arabia dibuat dari nenek moyang di Afrika.

"Terlalu ambigu untuk menarik kesimpulan terhadap migrasi manusia dari Afrika," kata Mellars.

Shea mengatakan jika temuan di Arab memang sinyal migrasi manusia purba ke Asia, maka penggalian situs Zaman Batu di Iran harus memproduksi alat-alat yang sama. Namun mengingat iklim politik di Iran tidak kondusif, bagaimanapun, studi akan sulit dilakukan.

"Pekerjaan kami dasarnya lamanya waktu Homo sapiens ke tempat ini. Saya jauh lebih nyaman dengan itu," kata Marks.
  1. Simon J. Armitage (Department of Geography, Royal Holloway, University of London, Egham, Surrey TW20 0EX, UK); Sabah A. Jasim (Directorate of Antiquities, Department of Culture and Information, Government of Sharjah, United Arab Emirates); Anthony E. Marks (Department of Anthropology, Southern Methodist University, 3225 Daniel Avenue, Heroy Building 408, Dallas, TX 75275, USA); Adrian G. Parker (Department of Anthropology and Geography, School of Social Sciences and Law, Oxford Brookes University, Headington, Oxford OX3 0BP, UK); Vitaly I. Usik (Archaeological Museum, Institute of Archaeology, National Academy of Sciences, B. Khmelnitsky Street, 15, 01030 Kiev, Ukraine); Hans-Peter Uerpmann (Center for Scientific Archaeology, Eberhard-Karls-University Tübingen, Rümelinstraße 23, 72070 Tübingen, Germany). The Southern Route “Out of Africa”: Evidence for an Early Expansion of Modern Humans into Arabia. Science, 28 January 2011 Vol.331 no.6016 pp.453-456, DOI:10.1126/science.1199113
http://www.kesimpulan.com/2009/12/letusan-besar-vulkanik-gunung-toba.html

Hans-Peter Uerpmann http://www.urgeschichte.uni-tuebingen.de/index.php?id=24
Anthony Marks http://smu.edu/anthro/smu_anthro/FacultyAndStaff.htm#emeritus
Chris Stringer http://www.nhm.ac.uk/research-curation/staff-directory/palaeontology/c-stringer/index.html
John Shea http://www.stonybrook.edu/anthro/staff/jshea.shtml
Simon Armitage http://www.gg.rhul.ac.uk/armitage/
Stanley Ambrose http://www.anthro.illinois.edu/people/ambrose
Paul Mellars http://www.arch.cam.ac.uk/~pam/
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment