Wajah Homo Neanderthal Bukan Adaptasi Cuaca Dingin

Tinuku
News KeSimpulan.com - Apakah hidung Homo Neanderthal menyesuaikan iklim dingin? Teori bahwa sinus Neanderthal merupakan adaptasi cuaca dingin mungkin akan tutup buku.

Neanderthal telah lama disebut-sebut sebagai satu spesies dengan "hyperarctic" adaptations. Proporsi kokoh dan pemendekan segmen distal limb yang sering untuk menjelaskan kehangatan tubuh. Demikian pula, tengkorak Neanderthal secara tradisional dikatakan sebagai hasil adaptasi dingin. Namun, sebuah laporan pada 22 Desember lalu di Journal of Human Evolution menantang hipotesis tradisional tersebut, khususnya tentang adaptasi hidung Neanderthal.

Nasal apparatus Neanderthal secara konvensional telah dikutip adaptasi dingin terutama karena perbesaran sinus. Todd C. Rae, morfolog kraniofasial dari Roehampton University di London mengatakan bukti sinus lebih besar pada kenyataannya tidak khas spesies mamalia cuaca dingin.

Melalui studi pengamatan populasi manusia dan mamalia lain menunjukkan semakin dingin iklim berkorelasi dengan rongga sinus lebih kecil. Artinya, mahkluk di belahan Bumi utara umumnya memiliki rongga sinus lebih kecil. Beberapa eksperimen laboratorium pada tikus yang dibudidaya dalam kondisi dingin menunjukkan rongga sinus lebih kecil.

Tetapi mengapa rongga sinus Neanderthal besar? Para peneliti mengajukan teori bahwa ukuran sinus frontal and maxillary benar-benar dalam kisaran ukuran sinus Homo sapiens dari daerah beriklim sub-tropis.

Penelitian ini sangat sugestif bahwa anatomi hidung Neanderthal hidung bukan karena adaptasi cuaca dingin. Adaptasi untuk menjadi cuaca dingin, sinus semakin lebih kecil dan tidak semakin besar seperti banyak para antropolog yang tetap berpandangan lama sejak pertama kali ditemukan.

Jika cuaca tidak dingin, apa yang mungkin menyebabkan perbedaan dalam anatomi wajah antara H. neanderthalensis dan H. sapiens?

Para peneliti tidak menawarkan banyak jawaban, tetapi menawarkan beberapa kemungkinan. Perbedaan stress penggerat (memanfaatkan gigi sebagai alat) atau mutasi genetik menjadi dua alasan untuk dibahas.

John Stewart, Palaeoenvironmentalis dari Bournemouth University di Poole, Inggris, mengatakan "pada dasarnya cerita takdir". Stewart percaya temuan peneliti analog dengan hipotesis bahwa kaki Neanderthal kaki pendek bukanlah sebuah adaptasi dingin tetapi lebih mencerminkan kehidupan hutan di mana anggota badan pendek membantu dalam menavigasi belukar.

Laporan ini dapat mengambil langkah lain untuk meruntuhkan pemahaman tradisional terhadap Neandertal sebagai spesies beriklim dingin. Generasi lama para antropolog telah berlalu dimana Neanderthal berbeda dalam anatomi wajah karena adaptasi cuaca dingin. Sekarang kebenaran data semakian tersingkap.
  1. Todd C. Rae (Centre for Research in Evolutionary Anthropology, Department of Life Sciences, Roehampton University, Holybourne Avenue, London SW15 4JD, United Kingdom); Thomas Koppe (Institut für Anatomie und Zellbiologie, Ernst-Moritz-Arndt Universität Greifswald, Friedrich-Loeffler-Str. 23c, D-17487 Greifswald, Germany); and Chris B. Stringer (Department of Palaeontology, The Natural History Museum, London SW7 5BD, United Kingdom). The Neanderthal face is not cold adapted, Journal of Human Evolution, Volume 60, Issue 2, February 2011, Pages 234-239, DOI:10.1016/j.jhevol.2010.10.003
Todd Rae http://www.roehampton.ac.uk/staff/Todd%20C.Rae/
John Stewart http://onlineservices.bournemouth.ac.uk/academicstaff/Profile.aspx?staff=jstewart

Credit : Todd Rae, et.al (2010)
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment