Evolusi Berlari Tendon Achilles Neanderthal Kalah Dibanding Homo Sapiens

Tinuku
News KeSimpulan.com - Kita akan mengalahkan Neanderthal dalam lomba lari. Jika anda buruk berlari, jangan berkecil hati, masih ada kesempatan yaitu lebih cepat dibanding Neanderthal.

Rendahnya kemampuan berlari mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa sepupu nenek moyang kita punah dan nenek moyang kandung kita tidak. Semua ini berawal dari tendon Achilles. Banyak orang mengatakan bahwa Neanderthal adalah pelari buruk dibanding manusia modern, kata David Raichlen, antropolog dari University of Arizona di Tucson, tetapi sampai sekarang tidak ada bukti yang meyakinkan.

Bagi para pelari, tendon bertindak menyimpan energi, meregang seperti pegas karena kaki di tanah kemudian memantul kembali untuk membantu mengangkat. Raichlen beralasan semakin banyak energi yang disimpan di dalam tendon maka seorang pelari lebih efisien.

Raichlen mulai dengan mempelajari ketahanan delapan pelari di treadmill untuk mengetahui berapa banyak energi yang digunakan pada kecepatan yang ditentukan. Dengan melihat scan MRI pada pergelangan kaki, Raichlen menemukan jarak antara titik tulang tumit tepat di bawah tulang pergelangan kaki dan bagian belakang tulang tumit dimana tendon Achilles menempel, berbanding lurus dengan efisiensi pelari.

Semakin pendek jarak ini, semakin besar gaya yang diberikan untuk meregangkan tendon dan lebih banyak energi yang tersimpan di dalamnya. Ini berarti orang dengan jarak titik pendek adalah pelari efisien, lebih hemat energi yang dibutuhkan untuk berlari jarak jauh.

Raichlen kemudian berbalik ke kerangka Neanderthal dan menemukan tulang tumit sepupu jauh kita secara konsisten lebih panjang dari kita. Raichlen menyimpulkan Neanderthal akan kehilangan dalam berpacu dengan Homo sapiens dan melapor ke Journal of Human Evolution.

Bukti meyakinkan, kata Will Harcourt-Smith, palaeoantropolog dari City University of New York.

Raichlen mengatakan tidak seperti spesies kita, Neanderthal mungkin tidak perlu lari jarak jauh dengan baik. Sedangkan H. Sapiens hidup di iklim panas padang rumput kering Afrika di mana mereka berburu dengan mengejar hewan besar jarak jauh sampai roboh karena kelelahan panas.

Di daerah dingin yang ditempati Neanderthal, kelelahan panas tubuh tidak akan menjadi masalah, jadi berlari jarak jauh tidak akan membantu mereka berburu. Sebaliknya, mereka mengambil keuntungan dari lanskap dan menyergap mangsanya.

"Studi ini menusuk ke inti masalah mengapa Neanderthal punah," kata Clive Finlayson, direktur Gibraltar Museum.

John Stewart, paleoenviromentalis dari Bournemouth University di Inggris, mengatakan H. sapiens tetap cenderung berhubungan dengan hewan dari habitat terbuka, sedangkan Neanderthal menemukan hewan dari habitat tertutup. Ketika hutan-hutan di Eropa utara disapu oleh zaman es terakhir, Neanderthal dipaksa juga keluar dari eksistensinya.

Bukti arkeologis menunjukkan es berkembang dari 50.000 tahun yang lalu dan hutan lebat Eropa utara menjadi tundra, Neanderthal terdorong ke wilayah kecil yaitu hutan-hutan terisolasi di Eropa selatan. H. sapiens mampu beradaptasi dengan berburu di tundra Eropa. Neanderthal menemukan diri mereka melangkah keluar dari lingkungan sedangkan manusia modern sangat cocok dengan situasi tersebut.

"Kita eksis di tempat dan waktu yang tepat," kata Finlayson.
  1. David A. Raichlena, Hunter Armstronga (School of Anthropology, University of Arizona, Tucson, AZ 85721, USA); and Daniel E. Liebermanb (Department of Human Evolution Biology, Harvard University, Cambridge, MA 02138, USA). Calcaneus length determines running economy: Implications for endurance running performance in modern humans and Neandertals, Journal of Human Evolution, 26 January 2011, DOI:10.1016/j.jhevol.2010.11.002
David Raichlen http://www.ic.arizona.edu/~raichlen/
Will Harcourt-Smith http://www.lehman.edu/deannss/anthropology/faculty.html#harcourt-smith
Clive Finlayson http://www.gibmuseum.gi/Clive.html
John Stewart http://onlineservices.bournemouth.ac.uk/academicstaff/Profile.aspx?staff=jstewart
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment