Ketika Burung Pergi Bunga Rhabdothamnus solandri Pun Ikut Menghilang

Tinuku
News KeSimpulan.com - Tidak ada kehidupan tanpa bantuan orang lain dan keragaman. Tanpa kehadiran hewan, bunga tidak dapat melakukan penyerbukan dan berujung kepunahan.

Kepunahan spesies burung di Selandia Baru dan di tempat lain membuat lebih sulit bagi tanaman untuk berkembang. Kehidupan alam dan lingkungan membentuk mata rantai dan lenyapnya satu mata rantai melenyapkan seluruh ikatan rantai. Kini, temuan baru menyarankan tanaman paling menderita dalam ketiadaan hewan yang mereka andalkan untuk penyerbukan atau penyebaran benih.

Studi yang dilakukan oleh tim biolog menunjukkan spesies mistletoe Selandia Baru sedang berjuang karena kurangnya burung penyerbuk setelah semua wilayah di negara tersebut kehilangan hampir setengah spesies asli burung sejak tahun 1839.

Selandia Baru adalah rumah bagi spesies asli Rhabdothamnus solandri atau New Zealand gloxinia yang terkenal karena bunga brilian oranye ini bergantung pada beberapa spesies burung untuk penyerbukan dan ditemukan di tempat lain di dunia. Kesemua burung Tui (Prosthemadera novaeseelandiae), bellbird (Anothornis melanura) dan stitchbird (Notiomystis cincta) memiliki paruh dan lidah panjang yang sangat cocok bagi bunga dengan panjang 10 milimeter.

Tetapi bellbirds dan stitchbirds hilang di kepulauan bagian utara Selandia Baru karena kedatangan hewan pemakan burung yang dibawa bersama oleh para pendatang Eropa seperti kucing rumah (Felis catus), tikus kapal (Rattus rattus), stoats (Mustela erminea) dan brushtail possums (Trichosurus vulpecula).

Untungnya, spesies-spesies burung bertahan hidup pada beberapa pulau kecil di lepas pantai yaitu pulau Little Barrier, Tiritiri Matangi dan Lady Alice karena terlalu kecil dan sedikit kontak dengan manusia atau para pendatang. Dan dalam kasus hama mamalia seperti kucing liar yang berkeliaran Little Barrier Island sampai dengan tahun 1980 sengaja telah dimusnahkan. Jadi biolog harus bekerja keras membuka katalog sampel bunga dan burung di plot kedua pulau dan daratan.

Akibat dari hilangnya burung, semak-semak berbunga menghasilkan buah yang lebih kecil dan hanya 37 biji per bunga, dibandingkan dengan 232 biji per bunga pada pulau yang memiliki burung. Hampir 80 persen bunga di pulau-pulau kecil menunjukkan bukti telah dikunjungi burung dibanding 25 persen di daratan dengan ketiadaan burung.

"Kegagalan penyerbukan sudah berlangsung untuk waktu yang lama sejak tahun 1870 ketika kuantitas bellbirds dan stitchbird di Pulau Utara menyusut," kata Dave Kelly, bioekolog dari University of Canterbury di Christchurch, melapor ke Science.

Kelly mengatakan kemungkinan hewan penyerbuk lainnya seperti serangga tampaknya tidak bisa melakukan tugas yang biasa dilakukan oleh burung karena bunga terlalu besar bagi serangga untuk menyentuh bagian yang tepat bagi penyerbukan. Tentu saja, manusia bisa mengambil alih tugas burung yang punah dengan penyerbukan tangan dan menabur benih. Ketika para biolog melakukannya jumlah R. solandri segera meningkat.

Adapun mengapa penurunan bunga semak berwarna-warni ini tidak terdeteksi, Kelly mengatakan "penurunan bisa dengan mudah lolos dari pengamatan karena proses tersebut bertahap .... Penurunan lambat sebagai akibat dari gagal interaksi ekologis yang telah dimulai di tempat lain."

Banyak wilayah di dunia menjadi rumah bagi tanaman yang bergantung secara khusus pada burung untuk penyerbukan dari wilayah tropis di Amerika Tengah dan Selatan ke Afrika Selatan dan Asia Tenggara.

"Saya berani bertaruh bahwa ada tanaman lain menurun di bagian lain dunia untuk alasan yang sama, tetapi selama ini belum diukur. Di Selandia Baru kami ingin melihat burung lain yang bertugas menyerbuk tanaman untuk melihat apakah mereka juga menurun. Kita tahu bahwa mayoritas dari mereka berkurang," kata Kelly.

Adapun di Amerika Utara abad ke-19, merpati adalah konsumen besar biji hickories, beech dan chestnut di hutan timur. Hutan itu telah menghilang dan sebagian besar chestnut turut musnah oleh penyakit tetapi ada kemungkinan bahwa pohon juga hilang karena salah satu unggas sebagai agen penyerbukan telah punah. Hal ini sangat mudah menjadi masalah bagi tanaman di seluruh dunia, mengingat setidaknya 190 spesies burung telah punah sejak tahun 1500 dan lebih dari seribu spesies saat ini beresiko menghilang.

"Interaksi antar spesies penting untuk menjaga ekosistem berfungsi dengan baik. Jika kita bisa mendapatkan burung yang tepat, konservasi tanaman akan datang sebagai manfaat sekunder," kata Kelly.
  1. Sandra H. Anderson (School of Biological Sciences, University of Auckland, Private Bag 92019, Auckland 1010, New Zealand); Dave Kelly, Jenny J. Ladley, Sue Molloy, Jon Terry (School of Biological Sciences, University of Canterbury, Private Bag 4800, Christchurch 8140, New Zealand). Cascading Effects of Bird Functional Extinction Reduce Pollination and Plant Density, Science, 3 February 2011, DOI:10.1126/science.1199092
Dave Kelly http://www.biol.canterbury.ac.nz/people/kelly.shtml

R. solandri http://www.forestflora.co.nz/Plant%20profiles/Rhabdothamnus%20solandri.htm
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment