Konstruksi Tulang Metatarsal Australopithecus afarensis Lucy Berjalan di Tanah

Tinuku
News KeSimpulan.com - Konstruksi kaki Lucy dibuat untuk berjalan. Penempatan kelengkungan tulang Toe hominid kuno mirip langkah manusia.

Salah satu metatarsal paling terkenal yang diulas media yaitu milik David Beckham yang patah dan membuat berita di Piala Dunia 2002 karena tulang kaki Beckham menjadi sangat penting bagi negara Inggris. Tetapi para palaeontolog lebih gembira dengan temuan metatarsal untuk menganalisis apakah milik Lucy melengkung atau datar.

Tulang ini milik Australopithecus afarensis (hominin awal) yang hidup sekitar 3,2 juta tahun yang lalu di desa Hadar, Ethiopia. Lucy (fosil hominin paling terkenal) ditemukan pada tahun 1974. Fragmen kerangka Lucy lengkap sekitar 40 persen, tetapi tidak memiliki metatarsal dan tanpa bukti tulang kecil ini maka sulit dipastikan apakah Lucy sepenuhnya beradaptasi dengan kehidupan di dua kaki ataukah dia masih datar seperti kaki kecil kera.

Lengkungan di kaki adalah adaptasi kunci untuk berjalan dan berlari, dua kali lipat baik sebagai shock absorber dan sebagai tuas kaku untuk bergerak dengan berat badan kita maju ke bola kaki. Sistem ini tidak dimiliki oleh kera pada hari ini yang memiliki fleksibilitas lebih di kaki untuk memberikan pegangan yang lebih baik dan bergerak di atas pohon.

Apakah Australopithecus afarensis memiliki lengkungan di kakinya? Beberapa adaptasi menyarankan hidup bipedal (panggul sangat mirip manusia) tetapi tangan dan bahu mirip kera untuk menyarankan mereka masih lebih suka berayun dari pohon. Bahkan ketika satu set jejak kaki hominin bipedal yang ditemukan di batuan berdating 3,5 juta tahun di Laetoli, Tanzania, pada tahun 1976, beberapa palaeontolog enggan untuk mengkaitkan spesies Lucy, meskipun hominin hanya diketahui telah hadir di daerah tersebut pada saat itu.

Temuan tulang fosil baru mungkin bisa mengakhiri perdebatan yaitu empat metatarsal pertama yang dikenal milik spesies Lucy. Carol Ward, antropolog dari University of Missouri di Columbia dan rekan-rekannya menganalisis sebuah tulang kaki (seperti pertama fosil A. Afarensis ditemukan) yang menyediakan bukti penting bahwa lengkungan di kaki spesies ini mendukung kenyamanan langkah kaki bipedal, demikian laporan para peneliti ke Science hari ini.

"Kami sekarang memiliki kurang lebihnya bukti bahwa A. afarensis sepenuhnya mengembangkan lengkungan permanen di kakinya," kata Ward.

Ward mengusulkan survival bagi Lucy dan kawan-kawanya harus meninggalkan ketergantungan dari pohon dan memulai gaya kehidupan kehidupan berbasis di tanah. Fosil baru menegaskan anggota spesies Lucy sudah bisa membuat jejak kaki sebelum 3.6 juta tahun lalu yang ditemukan dalam abu vulkanik yang mengeras di Laetoli, Tanzania. A. afarensis hidup sekitar 4 juta hingga 3 juta tahun yang lalu.

Para ilmuwan berdebat selama lebih dari 30 tahun terakhir tentang apakah Lucy dan kerabatnya lebih dominan berjalan di atas lansekap semak-semak atau memanjati kanopi pepohonan, ataukah menempati era peralihan dari keduanya.

Berita kaki melengkung pada hominid dari tumit yang melaporkan bahwa temuan kerangka baru A. afarensis yang dijuluki Big Man menampilkan kaki panjang, depan relatif sempit dan melengkung ke dalam menjadi tanda-tanda gaya berjalan hampir mirip manusia.

"Ada adaptasi sangat rinci yang sangat banyak di setiap bagian dari kerangka A. afarensis berjalan tegak lurus dan perjalanan darat secara eksklusif tidak muncul," komentar Owen Lovejoy, antropolog dari Kent State University di Ohio, yang masih menganalisis Big Man.

Lovejoy mengatakan kaki dalam penelitian Ward banyak kemiripan dengan Lucy sudah berevolusi 4,4 juta tahun yang lalu saat awal hominid Ardipithecus. Meskipun Ardipithecus memiliki ibu jari saling berlawanan mampu mendorong gaya berjalan berkaki dua, makhluk ini berjalan secara efektif dengan menggunakan jari-jari kaki lainnya.

Berdasarkan temuan baru A. afarensis memang tampaknya memiliki kaki melengkung, kata William Jungers, antropolog dari Stony Brook University School of Medicine di New York. Tetapi fitur kaki yang lain (termasuk panjang kelima jari kaki melengkung) menunjukkan bahwa sistem kerangka untuk berjalan tegak belum sepenuhnya berevolusi pada Lucy.

Jungers mengatakan perbedaan yang signifikan dalam anatomi kaki mungkin telah ada di antara anggota A. afarensis. Analisis tulang pergelangan kaki fosil yang dilaporkan pada tahun 2010 oleh peneliti lain menyimpulkan bahwa Lucy berkaki datar sementara banyak kawannya memiliki lengkunganan di bagian belakang kaki.

"Bahkan jika kelengkungan Lucy lebih rendah dari yang lain, ia masih akan memiliki struktur kaki kaku mirip manusia yang kita lihat tetapi tidak pada kera," kata Ward.

Pada tahun 2000 dalam penggalian di salah satu situs di Hadar, Ethiopia, menemukan tulang kaki kuno. Sejak tahun 1975, lokasi ini telah menghasilkan lebih dari 250 spesimen fosil mewakili paling sedikit 17 A. afarensis. Bentuk dan desain fitur fosil kaki memiliki kecocokan erat dengan jari kaki manusia medern dan tidak seperti simpanse atau gorila.
  1. Carol V. Ward (Department of Pathology and Anatomical Sciences, M263 Medical Sciences Building, University of Missouri, Columbia, MO 65212, USA); William H. Kimbel and Donald C. Johanson (Institute of Human Origins, School of Human Evolution and Social Change, Post Office Box 874101, Arizona State University, Tempe, AZ 85287-4101, USA). Complete Fourth Metatarsal and Arches in the Foot of Australopithecus afarensis, Science, 11 February 2011: Vol.331 no.6018 pp.750-753, DOI:10.1126/science.1201463
Carol Ward http://web.missouri.edu/~wardcv/Carol_Wards_site/Carol_Ward.html
Owen Lovejoy http://dept.kent.edu/anthropology/lovejoy.html
William Jungers http://www.anat.stonybrook.edu/people/facultypage/jungers

Credit: Carol Ward/University of Missouri
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment