Analisis Filogenomik Menyatakan Sejarah Leluhur Cacing Sudah Terpisah-pisah

Tinuku
News KeSimpulan.com - Ternyata cacing sudah benar-benar terpisah. Studi terbaru menjawab perdebatan panjang para ilmuwan percacingan terkait asal-usul leluhur cacing.

Pertengahan abad ke-19, naturalis Perancis Jean Louis Armand de Quatrefages de Bréau memisah cacing ke dalam klasifikasi wiggler (berambut, gambar atas) yaitu mereka yang merangkak dan berenang seperti ragworm laut dan nonwiggler (tidak berambut, gambar bawah) yaitu mereka yang lebih menetap dan biasanya berbentuk tabung seperti cacing tanah.

Namun, studi genetik mempertanyakan klasifikasi tersebut. Para taksomolog modern menunjukkan, misalnya, fisik mereka tidak mirip karena hasil adaptasi untuk gaya hidup dan lingkungan. Sekarang bukti genetik yang lebih komprehensif dilaporkan ke Nature menunjukkan de Bréau adalah pemenangnya.

Analisis 231 gen dari 34 annelida yang berbeda menyatakan bahwa wiggler dan nonwiggler memang merupakan dua kelompok evolusi yang berbeda. Perpisahan kedua kelompok terjadi sangat awal dalam evolusi cacing. Perpisahan ini tidak terdeteksi para ilmuwan karena tubuh lunak cacing sulit terawetkan menjadi fosil.

Wiggler yang aktif bergerak mencari makan dilengkapi bulu, sedangkan nonwiggler kehilangan bulu karena berevolusi untuk tetap tinggal di dalam liang untuk menunggu makan sedimen dan plankton.

Cacing cincin Annelida adalah filum hewan sangat beragam yang mencakup lebih dari 15.000 spesies dan makrofauna dominan di zona pasang surut ke laut. Pandangan tradisional menyatakan Annelida adalah satu kelompok cacing yang dibagi menjadi dua sub kelompok utama yaitu Clitellata (cacing tanah dan lintah) dan polychaetes (cacing bulu).

Bukti terbaru menunjukkan bahwa taksa lain yang pernah dianggap filum terpisah (Sipuncula, Echiura dan Siboglinidae yang juga dikenal sebagai Pogonophora) harus disertakan dalam Annelida. Namun, hubungan evolusi yang mendalam masih kurang dipahami dan membutuhkan rekonstruksi sejarah evolusi.

Temuan Torsten H. Struck, zoolog dari University of Osnabrück di Jerman, dan rekan-rekannya menunjukkan analisis filogenomik dari 34 taksa annelida menggunakan 47.953 posisi asam amino dan mendukung pandangan bahwa keduanya memang dua kelompok yang berbeda.

Chaetopterida, myzostomida dan sipunculida di bagian dasar evolusi meskipun posisi Myzostomida tetap untuk cabang yang panjang. Taksa yang tersisa dibagi menjadi dua clades yaitu Errantia (termasuk annelida Platynereis) dan Sedentaria (termasuk Clitellata). Rekonstruksi karakter leluhur menunjukkan clades merupakan adaptasi sebagai pengembara atau gaya hidup dengan perubahan atas ciri-ciri morfologi seperti gerakan peristaltik, parapodia dan persepsi indrawi.
  1. Torsten H. Struck (University of Osnabrück, FB05 Biology/Chemistry, AG Zoology, Barbarastrasse 11, 49069 Osnabrück, Germany), et.al. Phylogenomic analyses unravel annelid evolution, Nature, 02 March 2011, DOI:10.1038/nature09864
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment