Trik Kimia Katak Litoria ewingii Bertahan Hidup Dalam Beku

Tinuku
News KeSimpulan.com - Katak bertahan hidup di kedalaman membeku. Trik kimiawi katak Litoria ewingii dapat bertahan hidup dalam kondisi membeku.

Beberapa hewan membuat manusia begidik. Ikan mummichog hidup dalam air tercemar yang sudah cukup membunuh mahkluk apa pun. Kelelawar gurun memiliki sengatan lebih mematikan daripada kalajengking atau lalat Cacoxenus indagator dapat melobangi batu cadas. Untuk menambah daftar para jagoan ini, kita harus mendaftar katak coklat pohon Litoria ewingii yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam membeku.

Litoria ewingii tidaklah unik dalam satu hal dimana banyak hewan dapat bertahan dalam beku termasuk banyak serangga, beberapa reptil dan amfibi seperti salamander Siberia. Tetapi katak ini menjadi hewan pertama yang dikenal membuat pelindung bahan kimia yang diperlukan untuk melayani kulitnya. Mereka tinggal di Australia selatan-timur, Tasmania dan Selandia Baru.

Panjang tidak lebih dari 5 cm, mereka cenderung membuat rumah di tempat dingin dan kering di bawah cabang atau semak kayu dalam suhu di bawah titik beku selama berjam-jam atau hari. Mereka hewan kecil tetapi kuat, bahkan larvanya dapat bertahan di suhu dingin dan berkembang biak sepanjang tahun, tidak seperti katak rumput.

Dalam eksperimen, katak ini handal bertahan 12 jam pada suhu -1oC dan bertahan dengan 47,5 persen air tubuh dalam kondisi beku. Kalinka Rexer-Huber, zoolog dari University of Otago di Dunedin, Selandia Baru, dan koleganya mencari tahu bagaimana mereka melakukannya dan melapor ke Journal of Comparative Physiology B: Biochemical, Systemic, and Environmental Physiology.

Fauna ini mentolerasi kebekuan dengan dua trik utama. Pertama membangun bahan kimia "antibeku" dalam tubuh, biasanya glukosa atau gliserol. Senyawa ini menurunkan suhu beku air tubuh dan memastikan mereka tidak benar-benar beku bahkan jika suhu turun di bawah -0oC.

Rexer-Huber menggeledah 84 katak coklat pohon dan mempelajari respon terhadap suhu di bawah nol. Katak yang dingin menghasilkan gliserol ekstra dan bukan glukosa, menunjukkan gliserol adalah antibeku mereka. Tingkat Glukosa meningkat bila hewan-hewan tersebut mencair lagi, tetapi Rexer-Huber berpikir bahwa ini untuk memastikan mekanisme perbaikan kerusakan dan memiliki energi yang cukup.

Trik kedua dilakukan ketika antibeku tidaklah cukup dan mereka tidak dapat melarikan diri dari pembekuan. Tindakan terbaik adalah mulai membentuk kristal es internal lebih awal dan dilakukan secara terkendali sehingga tidak merusak sel-sel. Untuk melakukan ini, hewan meneggunakan bahan kimia yang disebut ice-nucleating agent atau INA.

Rexer-Huber mengambil sampel sekresi kulit katak dan tanah. Kedua set sampel secara signifikan suhu beku meningkat, menyarankan mereka mengandung INAs. Jadi katak menghasilkan INAs baik di kulit dan mengambil dari tanah. Vertebrata lainnya tidak dikenal dapat melakukan hal ini. Tidak jelas apakah katak pohon coklat memproduksi INAs. Namun katak memiliki kulit sangat serbaguna, mampu membuat antimikroba dan kemungkinan bahan kimia neurotransmiter juga.
  1. Kalinka M. J. Rexer-Huber, Phillip J. Bishop, David A. Wharton (Department of Zoology, University of Otago, Dunedin, 9054 New Zealand). Skin ice nucleators and glycerol in the freezing-tolerant frog Litoria ewingii, Journal of Comparative Physiology B: Biochemical, Systemic, and Environmental Physiology. Friday, March 04, 2011, DOI:10.1007/s00360-011-0561-7
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment