Leluhur Burung Awal Meningkatkan Indera Penciuman Saat Kepunahan Massal

Tinuku
News KeSimpulan.com - Burung terbang awal adalah penghidu ulung. Sekelompok burung yang selamat karena mengembangkan rasa penciuman yang ditingkatkan.

Sekitar 65 juta tahun lalu ketika sebagian besar dinosaurus dan fauna lainnya beserta tanaman terhapus dari Bumi, mungkin karena sebuah asteroid memukul planet kita. Para peneliti telah lama berdebat bagaimana dan mengapa beberapa spesies selamat dari kepunahan massal Cretaceous-Tertiary yang ditandai dengan batuan kuno oleh transisi yang disebut K-T boundary.

Sebuah studi baru menunjukkan satu kelompok yang selamat yaitu burung, mungkin mengendus perlintasan jalan dengan mengembangkan rasa penciuman yang ditingkatkan.

Para ilmuwan telah lama berpikir burung memiliki indra penciuman yang buruk. Tetapi beberapa studi terbaru menunjukkan burung menggunakan aroma untuk membantu mereka mecari hijau makanan, berkomunikasi dengan burung lain, dan bahkan navigasi dalam penerbangan.

Penelitian tahun 2009 untuk penciuman dinosaurus yang dipimpin oleh Darla Zelenitsky, paleogeografer dari University of Calgary di Kanada, menemukan garis keturunan dinosaurus yang diduga telah memunculkan burung masa kini sekitar 150 juta tahun yang lalu dimana memiliki rasa penciuman lebih tajam pada dinosaurus punah tanpa berbulu meninggalkan keturunan di belakang.

Untuk lebih mengeksplorasi bagaimana indera penciuman mungkin mempengaruhi evolusi burung, Zelenitsky dan rekannya mengeledah kemampuan penciuman 157 spesies dinosaurus, burung punah, dan burung hidup. Seperti pada studi sebelumnya, tim menggunakan parameter yang disebut olfactory ratio sebagai proxy bagaimana rasa penciuman burung.

Pada vertebrata (hewan dengan tulang punggung), bau diproses di olfactory bulb (pada burung dan reptil ditemukan di ujung depan otak). Pada burung, rasio penciuman adalah ukuran relatif bulb dibandingkan dengan belahan otak dan biasanya dinyatakan sebagai persentase.

Sejumlah penelitian pada burung menunjukkan rasio penciuman yang berkisar kurang dari 10% menjadi lebih dari 30% pada beberapa spesies sebagai indikator yang dapat diandalkan dari indera penciuman.

Tim menyusun tabulasi rasio penciuman untuk 20 jenis dinosaurus, 7 jenis burung punah, dan 130 spesies burung hidup, menggunakan data literatur serta melakukan computed tomography scans tengkorak fosil dinosaurus dan burung serta tengkorak burung modern . Rasio pencium rasio kemudian diplot ke pohon evolusioner dimana peneliti lain sebelumnya telah memetakan untuk evolusi burung.

Para peneliti mengasumsikan ukuran relatif olfactory bulb menyusut selama masa transisi dinosaurus ke burung untuk membuat ruang daerah otak dikhususkan untuk indra penglihatan dan keseimbangan yang diperlukan untuk terbang. Tapi Zelenitsky dan koleganya menemukan rasio pencium burung terbang awal di atas 20% setidaknya setinggi dinosaurus leluhur mereka ketika menyesuaikan perbedaan ukuran tubuh di antara kedua kelompok hewan.

Dan seperti burung terus berkembang, rasio penciuman mereka pada awalnya melonjak hingga 30% atau lebih, tim melapor ke Proceedings of the Royal Society B.

Baru kemudian, mungkin hingga 10 juta tahun setelah peristiwa kepunahan KT, rasio penciuman mulai turun di bawah 20% pada kebanyakan burung (walaupun sejumlah kecil burung hari ini mencari makan, seperti kiwi dan burung-burung laut, sangat bergantung pada penciuman dengan mempertahankan rasio di atas 30%).

Tim menyimpulkan indera penciuman awalnya meningkat pada awal evolusi, mungkin karena untuk meningkatkan kemampuan mereka mencari hijau makanan dan menavigasi dalam penerbangan (Homing merpati, misalnya, menggunakan akal berdasarkan aroma bau yang terbawa angin yang terkait dengan tujuan mereka).

Jadi pencium tinggi, "mungkin telah memberikan burung-burung dengan keunggulan kompetitif" yang membantu mereka menghadapi trauma K-T boundary relatif tanpa cedera, kata para peneliti.

Hanya kemudian, ketika burung mulai berkembang kemampuan kognitif seperti mencari makan dan navigasi canggih lainnya dan bahkan menggunakan alat dalam beberapa jenis maka indera penciuman menjadi kurang penting.

"Ini laporan sangat rapi. Temuan bahwa "burung-burung paling awal dan kerabat terdekat dinosaurus memiliki kemampuan penciuman sangat mirip memberikan bukti lebih mencolok bahwa ada sedikit perbedaan biologis di antara mereka," kata Stephen Brusatte, paleontolog vertebrata dari American Museum of Natural History di New York City.

Luis Chiappe, paleontolog dan ahli burung awal dari Natural History Museum of Los Angeles County di California, mengatakan laporan ini merupakan "awal yang baik," tetapi Chiappe mengatakan hipotesis tim bahwa indera penciuman burung melalui massa kepunahan KT adalah "spekulatif" karena tidak ada bukti kuat untuk mendukung.
  1. Darla K. Zelenitsky (Department of Geoscience, University of Calgary, Calgary, Alberta, Canada T2N 1N4), et.al. Evolution of olfaction in non-avian theropod dinosaurs and birds. Proceedings of the Royal Society B, April 13, 2011, DOI:10.1098/rspb.2011.0238
  2. Shannon J. Hackett (Zoology Department, Field Museum of Natural History, 1400 South Lake Shore Drive, Chicago, IL 60605, USA). A Phylogenomic Study of Birds Reveals Their Evolutionary History. Science 27 June 2008: Vol.320 no.5884 pp.1763-1768, DOI:10.1126/science.1157704
Darla Zelenitsky http://www.ucalgary.ca/zelenitsky/
Stephen Brusatte http://sites.google.com/site/brusatte/
Luis Chiappe http://dinosaurs.nhm.org/staff/

Gambar : Witmerlab, http://www.oucom.ohiou.edu/dbms-witmer/lab.htm
Video : Witmerlab’s Channel http://www.youtube.com/user/witmerlab


Tinuku Store

No comments:

Post a Comment