Liaoconodon hui Transisi Evolusi Tulang Rahang Menjadi Tulang Telingga

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bagaimana tulang rahang berevolusi menjadi tulang telinga? Tulang telinga tengah anda dulu merupakan bagian rahang nenek moyang mamalia.

Fosil Cretaceous secara luar biasa memberikan gambaran bagaimana perubahan tersebut berlangsung. Rahang bawah mamalia modern hanya memiliki satu tulang yaitu tooth-bearing dentary. Sebaliknya pada reptil didukung tulang kecil di mana tulang rahang bertemu tengkorak.

Para biolog telah lama mendalilkan bahwa mamalia berevolusi lebih mengecil yaitu post-dentary bones menyusut untuk membentuk tulang kecil di telinga tengah. Fosil mamalia kuno seperti Morganucodon dalam kasus ini dimana post-dentary bones masih melekat pada dentary tersebut dan digunakan untuk kedua fungsi pendengaran dan makan. Apa yang terjadi selanjutnya menjadi teka-teki.

Sekarang Liaoconodon hui yang ditemukan di China oleh Jin Meng, paleontolog dari American Museum of Natural History di New York, telah mengisi missing link.

"Ini bukti pertama yang jelas menunjukkan tahap transisi," kata Meng.

Mamalia 120 juta tahun lalu seukuran tikus besar adalah kerabat dekat mamalia awal. Temuan menjadi menarik karena menjadi sebuah jembatan yang disebut tulang rawan Meckel yang menghubungkan tulang kecil di rahang.

Mamalia hidup termasuk manusia memiliki tulang rawan Meckel sebagai embrio, namun hilang pada saat jatuh tempo. Pada fosil L. hui dewasa merupakan ossified dan menunjukkan bagaimana mendukung post-dentary bones saat mereka bergeser ke telinga.

Dua tulang yang mendukung gendang telinga (eardrum), ectotympanic dan malleus telah kehilangan kontak dengan dentary, tetapi masih didukung oleh tulang rawan Meckel. Ukuran dan bentuk gendang telinga dapat keluar dari ukuran tulang ectotympanic dan menunjukkan bahwa L. hui akan memiliki peningkatan pendengaran dibandingkan mamalia sebelumnya.

"Sebuah gendang telinga yang lebih kecil lebih sensitif terhadap suara yang lebih tinggi frekuensi," kata Meng, yang selanjutnya akan membantu proses mendeteksi serangga untuk makanannya.

"Charles Darwin memperkirakan hewan seperti ini pernah ada. Paleontolog telah mengusulkan hipotesis [tentang hal itu] sejak lama. Sekarang kita memiliki spesimen yang sangat terawat baik," kata Rob Asher, evomamalian dari University of Cambridge.
  1. Jin Meng (Division of Paleontology, American Museum of Natural History, Central Park West at 79th Street, New York, New York 10024, USA), et.al. Transitional mammalian middle ear from a new Cretaceous Jehol eutriconodont. Nature, 472, 181–185, 13 April 2011, DOI:10.1038/nature09921
Jin Meng http://rggs.amnh.org/faculty/view/19
Rob Asher http://www.zoo.cam.ac.uk/zoostaff/asher.htm

Gambar & Video : American Museum of Natural History http://www.amnh.org/

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment