Satelit Nano ExoPlanetSat Untuk Memburu Alien Ekso Planet

Tinuku
News KeSimpulan.com - Nanosatellite mencari alien. Satelit kecil pertama untuk mencari planet mirip Bumi dijadwalkan akan meruang angkasa pada tahun 2012.

Draper Laboratory dan MIT mengembangkan sebuah satelit seukuran roti tawar yang akan menggemban salah satu tugas terbesar astronomi yaitu menemukan planet Earthlike di luar sistem Matahari (ekso planet) yang mendukung kehidupan. Dijadwalkan pada tahun 2012.

Satelit nano ini dinamakan ExoPlanetSat, paket optik kuat, kinerja tinggi dengan sistem kontrol baru dan teknologi stabilisasi dalam paket kecil. Meskipun ada banyak satelit kecil, biasanya digunakan untuk melakukan komunikasi sederhana atau misi observasi.

"Kami sedang melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya," kata Seamus Tuohy, direktur sistem ruang di Draper.

ExoPlanetSat akan mencari planet dengan mengukur peredupan bintang sebagai planet yang mengorbit lewat di depannya, teknik yang disebut observasi transit. Lampu detektor satelit memiliki dua array bidang fokus, satu untuk pelacakan bintang dan lainnya untuk pengamatan transit.

Mengukur dip kecerahan bintang juga memungkinkan untuk menghitung ukuran planet. Selain itu mengukur jumlah waktu yang diperlukan planet dalam menyelesaikan orbit, peneliti dapat menentukan jarak planet dari bintang host.

Teknik tersebut mapan, namun hanya bisa digunakan oleh spacecrafts yang mengorbit jauh lebih besar, termasuk satelit CoRot milik Perancis yang telah membuat temuan planet secara signifikan pada tahun lalu, dan satelit NASA Kepler yang diluncurkan pada tahun 2009.

ExoPlanetSat tidak dimaksudkan untuk menggantikan pesawat ruang angkasa yang lebih besar, tetapi untuk saling melengkapi, kata Sara Seager, profesor planetologi dan fisikawan senior dari MIT. Nanosatellite fokus pada bintang individu yang telah diidentifikasi pesawat yang lebih besar dan memiliki kandungan ilmiah menarik.

Pesawat ruang angkasa seperti Kepler melihat sekitar 150.000 bintang, sedangkan sebuah nanosatellite seperti ExoPlanetSat dirancang untuk melacak sebuah bintang tunggal.

Untuk mengukur secara akurat kecerahan bintang, insinyur harus menjaga pesawat agar stabil menangkap foton yang memukul fraksi pixel setiap saat, kata Seager.

"Setiap gangguan yang mengguncang pesawat membuat gambar kabur dan pengukuran tidak dapat digunakan. Dan spacecrafts lebih kecil lebih mudah bergoyang," kata Seager.

Untuk mengontrol dan menstabilkan ExoPlanetSat, Draper dan peneliti MIT membangun avionik dan roda reaksi yaitu alat mekanis yang digunakan untuk mengendalikan sikap di dasar pesawat dalam melakukan manuver ke posisinya.

Baterai piezoelectric mengendalikan gerak detektor imaging yang secara unik dipisahkan dari pesawat ruang angkasa, sehingga beroperasi secara terpisah. Baterai akan dibebankan oleh panel surya. Nanosatellite memiliki volume tiga liter, tinggi 10 cm, lebar 10 cm dan panjang 30 cm.

"Drive memindahkan detektor counter untuk pesawat ruang angkasa sehingga justru mata manusia tidak bisa melihat gerak," kata Seager.

"Ini prestasi teknik semua perangkat keras, termasuk kekuatan pemrosesan yang diperlukan dan penyimpanan data, menjadi seperti paket kecil," kata Tuohy.

Biaya setiap nanosatellite minimal US$600.000 sekali produksi (biaya ExoPlanetSat sekitar US$5 juta) dan masa estimasi orbit satu sampai dua tahun. NASA's Jet Propulsion Laboratory dan Goddard Spaceflight Center menyediakan sejumlah kecil uang untuk pembangunan ExoPlanetSat, dan Goddard akan melakukan pengujian performa di pesawat ruang angkasa secara sukarela.

Sara Seager http://seagerexoplanets.mit.edu/

Satelit CoRot http://www.esa.int/esaMI/COROT/SEMMY0D4VUE_0.html
Satelit Kepler http://kepler.nasa.gov/
Jet Propulsion Laboratory http://www.jpl.nasa.gov/
Goddard Spaceflight Center http://www.nasa.gov/centers/goddard/home/index.html
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment