Analisis Isotop Strontium Enamel Gigi Hominim Australopithecus dan Paranthropus

Tinuku
News KeSimpulan.com - Awal hominin memanfaatkan lansekap. Metode analisis isotop strontium untuk sidik jari enamel gigi hominim Australopithecus africanus dan Paranthropus robustus.

Kembali sekitar 3 juta tahun yang lalu ketika leluhur perempuan kita bergerak lebih banyak daripada laki-laki dalam mengekplorasi kelompok dimana mereka lahir pada kelompok-kelompok sosial baru lebih mirip simpanse, bonobo, dan manusia modern sehingga berbeda dengan gorila dan primata lainnya.

Sejauh ini pola permukiman di antara hominin awal telah disimpulkan secara tdak langsung dari morfologi dan alat batu yang dibandingkan dengan primata hidup dan model filogenetik.

Sekarang sebuah tim peneliti internasional dipimpin Sandi Copeland dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, menggunakan analisis isotop strontium yaitu metode untuk mengidentifikasi substrat geologi hewan hidup yang menempel pada mineralisasi gigi.

Copeland menggunakan landscape situs Australopithecus africanus (fosil berdating 2,8 hingga 2,0 juta tahun) dan Paranthropus robustus (fosil berdating 1,9 hingga 1,4 juta tahun lalu) di situs Sterkfontein cave dan Swartkrans cave di Afrika Selatan.

Tim peneliti menunjukkan tingkat proporsi gigi hominin memiliki komposisi isotop strontium non-lokal. Mengingat tingkat yang relatif tinggi dimorphisme seksual di hominins awal, gigi yang lebih kecil mungkin milik perempuan yang menunjukkan bahwa perempuan lebih mungkin bergerak luas dibandingkan laki-laki setelah mereka dilahiran dalam kelompok.

Hal ini mirip dengan pola penyebaran yang ditemukan pada simpanse, bonobo, dan banyak kelompok budaya manusia, tetapi berbeda dengan kebanyakan gorila dan primata lainnya.

Pendekatan metodologis paleontologi dan arkeologi memberikan sedikit bukti nyata bagaimana hominin awal bergerak dan memanfaatkan di lanskap. Misalnya, ukuran luas rumah telah diestimasi berdasarkan pada korelasi kasar dengan massa tubuh, dan model penyebaran hominin awal yang didasarkan pada perilaku umum di antara hominoid dan diduga hadir dalam satu nenek moyang.

"Namun karakteristik rekonstruksi sangat tidak pasti seperti batas pemahaman kita tentang ekologi hominin awal, biologi, struktur sosial, dan evolusi," kata Copeland.

Sekarang, Copeland bersama tim menggunakan proxy geokimia yaitu analisis isotop strontium enamel gigi untuk meneliti bagaimana hominin awal memanfaatkan landscape.

Untuk menelusuri strontium menghiasi gigi, pertama, para peneliti menentukan isotop strontium dalam sampel tanaman yang dikumpulkan dalam radius 50 km dari situs Sterkfontein dan Swartkrans untuk menetapkan latar belakang biologis strontium yang tersedia di seluruh laskap.

Kedua, analsis serangkaian sampel mahkota gigi hominin menggunakan metode yang relatif baru untuk mengukur isotop strontium yang disebut laser ablation multicollector inductively coupled plasma mass spectrometry (LA-MC-ICP-MS). Metode ini hampir tidak destruktif meskipun hanya jejak kecil pada permukaan enamel.

Tim menemukan, meskipun tidak ada perbedaan signifikan antara proporsi non-lokal di gigi P. robustus (36%) dan A. africanus (25%), tetapi ada perbedaan yang signifikan antara subset hominin yang didefinisikan dari ukuran gigi.

"Data isotop strontium menyarankan perbedaan penggunaan lanskap antara pria dan wanita," kata Copeland melapor ke Nature.

"Karena strontium masuk ke dalam gigi sebelum dewasa, ketika leluhu awal ini mungkin bepergian dengan ibu mereka, data tidak mungkin untuk menjelaskan perbedaan dalam kawasan pencarian makanan antara pria dewasa dan wanita dewasa. Sebaliknya, isotop strontium mungkin menunjukkan perempuan secara preferentional berpindah kelompok permukiman," kata Copeland.

Pola penyebaran hominim oleh perempuan tetapi tidak pada laki-laki ini mirip dengan yang ditemukan pada simpanse, bonobo, dan banyak kelompok manusia modern, tetapi berbeda dengan yang kebanyakan dilakukan gorila dan primata lainnya. Hal ini menunjukkan struktur sosial hominin awal tidak seperti gorila di mana satu atau beberapa kelompok laki-laki mendominasi perempuan.

Proporsi hominim non-lokal dapat menunjukkan bahwa australopiths laki-laki kurang memanfaatkan laskap. Ini mengejutkan mengingat evolusi bipedalisme umumnya dikaitkan dengan kebutuhan untuk bergerak dengan jarak luas. Temuan ini juga bisa berarti australopiths laki-laki lebih memilih jenis sumber daya yang terdapat pada lanskap dolomit.

Penelitian ini merupakan pertama untuk menerapkan metode isotop strontium untuk fosil hominin awal dan meletakkan dasar untuk studi masa depan pada spesies fosil lain termasuk Australopithecus dan Paranthropus di Afrika Timur dan kemudian tentu saja hominin milik genus kita yaitu Homo.
  1. Sandi R. Copeland (Department of Human Evolution, Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Deutscher Platz 6, 04103 Leipzig, Germany), et.al. Strontium isotope evidence for landscape use by early hominins. Nature, 474, 76–78, 01 June 2011, DOI:10.1038/nature10149
Kontributor tim penelitian ini yaitu Max Planck Institute für Evolutionary Anthropology, Leipzig, Germany; University of Colorado, Boulder, USA; Texas A&M University, College Station, USA; Oxford University, Oxford, UK; University of Cape Town, Cape Town, South Africa; University of Zurich, Zurich, Switzerland; Memorial University, St. John’s, Canada; University of British Columbia, Vancouver, Canada.
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment