Data Sloan Digital Sky Survey Melihat Alam Semesta Clumpier

Tinuku
News KeSimpulan.com - Teori harus berlaku universal dan sama dimana-mana. Namun, data baru menunjukkan alam semesta adalah lebih "clumpier".

Setelah menganalisa data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Shaun Thomas, kosmolog dari University College London, dan rekannya menyimpulkan bahwa alam semesta adalah "clumpier" dibanding apa yang selama ini dipikirkan para ilmuwan.

Kesimpulan ini mengarah pada spekulasi bahwa teori-teori baru perlu dibuat untuk menjelaskan mengapa materi yang membentuk alam semesta tidak semulus model yang selama ini disarankan.

Hasil penelitian yang dilaporkan ke Physical Review Letters ini menunjukkan bahwa hukum yang ditetapkan gravitasi tidak berlaku untuk skala lebih besar seperti halnya seluruh alam semesta.

Model yang dikembangkan oleh apra peneliti menunjukkan bagaimana alam semesta datang menjadi seperti saat ini yang didasarkan pada teori relativitas umum Einstein dan menggunakan data yang telah dikenal tentang alam semesta mulai dari Big Bang dan bergerak maju ke dalam rentang seluruh waktu sampai sekarang.

Dengan menerapkan hukum-hukum gerak dan gravitasi, ilmuwan mampu menduplikasi proses di alam semesta dimana semua berasal dari singularitas yang dikenal sebagai Big Bang. Sebuah teori harus menunjukkan bahwa ada keseragaman tertentu di manapun seperti yang kita lihat. Dengan demikian penyimpangan hanya datang dari fluktuasi kepadatan materi itu sendiri.

Thomas dan timnya menganalisis data SDSS dengan membangun peta 3-D dalam proses galaksi sejauh 4 miliar tahun cahaya, kemudian menghitung arus dan membandingkan dengan apa yang disarankan model. Temuan menunjukkan clumpiness normal bukan 1% seperti yang disarankan, tetapi peneliti justru menemukan perbedaan signifikan sebanyak 2%.

Jelas terlalu dini untuk mulai membuang teori Einstein atau bahkan memikirkan kembali materi gelap (dark matter) atau bagaimana elemen lainnya yang membentuk alam semesta mungkin berdampak clumpiness.

Ada faktor lain yang mungkin menyebabkan perbedaan tersebut seperti kesulitan dalam melihat galaksi Bima Sakti atau estimasi yang tidak akurat dari cahaya luar bintang atau galaksi lainnya secara utuh.

Para peneliti menyarankan studi lebih lanjut dengan menggunakan data dari studi-studi lain perlu dilakukan sebelum sesuatu yang pasti dapat dinyatakan dan disepakati.
  1. Shaun A. Thomas, Filipe B. Abdalla, and Ofer Lahav (Department of Physics and Astronomy, University College London, Gower Street, London, WC1E 6BT, United Kingdom). Excess Clustering on Large Scales in the MegaZ DR7 Photometric Redshift Survey. Physical Review Letters, 106, 241301, 13 June 2011, DOI:10.1103/PhysRevLett.106.241301
Sloan Digital Sky Survey (SDSS) http://www.sdss.org/

Gambar : Volker Springel/Max-Planck-Institute for Astrophysics, Garching, Germany
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment