Dating Pemanasan Global Maksimum Paleocene-Eocene 56 Juta Tahun Lalu

Tinuku
News KeSimpulan.com - Dating sebuah episode kuno pemanasan global. Perkiraan akurat batas maksimum Paleocene-Eocene antara 55,728 juta hingga 55,964 juta tahun yang lalu.

Menggunakan metode dating batuan yang canggih, tim peneliti dari University of Southampton berbasis di National Oceanography Centre, Southampton, membidik waktu dimulainya sebuah episode pemanasan global kuno yang dikenal sebagai Paleocene-Eocene thermal maximum (PETM) dan mekanisme implikasinya.

Bagian awal era Kenozoikum (Cenozoic) yang dimulai sekitar 65,5 juta tahun lalu menunjukkan serangkaian peristiwa transien pemanasan global disebut hyperthermals dan paling parah atas hal tersebut adalah PETM di batas Paleosen-Eosen sekitar 56 juta tahun lalu.

Selama periode sekitar 20.000 tahun, hanya sekejap mata dalam istilah geologi, suhu laut global naik sekitar 5oC.

Sudah ada bukti konsentrasi karbon oksida atmosfer meningkat, namun fenomena yang memicu acara tersebut tetap kontroversial.

Salah satu hipotesis, hyperthermals didorong oleh variasi siklik eksentrisitas orbit Bumi mengelilingi Matahari. Pada puncak siklus, peningkatan suhu dapat menyebabkan deposit methane hydrate di laut melepaskan sejumlah besar metana.

Beberapa gas rumah kaca ini potensial memasuki atmosfir mengakibatkan intensifikasi lebih lanjut pemanasan iklim yang akan terus mengubah metana secara cepat menjadi karbon dioksida di atmosfer.

Hipotesis lain, mungkin proses geologi yang tidak berhubungan dengan variasi orbit Bumi yang bisa saja pelaku pemanasan yang terkait PETM tersebut. Dalam skenario ini, magmatisme menyebabkan sedimen organik laut dan pelepasan besar metana dan/atau karbon dioksida, mungkin melalui ventilasi hidrotermal, sehingga memulai pemanasan global yang menyebabkan pelepasan metana.

"Menentukan apa yang memicu PETM memerlukan dating yang sangat akurat atas peristiwa itu sendiri untuk menentukan apakah terjadi selama maksimum yang dikenal di eksentrisitas orbit Bumi," kata Adam Charles, paleoklimatolog di University of Southampton.

Untuk pegangan yang lebih baik terhadap usia numerik batas Paleocene-Eocene, para peneliti mengukur radio isotop uranium dan mineral zircon, ditemukan sebagai kristal dalam dua abu vulkanik yang mengendap selama PETM tersebut. Batuan ini dikumpulkan dari dua lokasi di Spitsbergen, pulau terbesar di Svalbard, Arktik.

Berdasarkan data, para peneliti menentukan dating batas Paleocene-Eocene antara 55,728 juta hingga 55,964 juta tahun yang lalu sebagai perkiraan yang paling akurat.

Analisis menunjukkan peristiwa PETM tidak seperti hyperthermals Eosen lainnya, tidak terjadi pada puncak siklus 400 ribu tahun eksentrisitas orbit Bumi. Sebaliknya terjadi pada siklus ketika pemanasan oleh Matahari tidak maksimum.

"Dibandingkan dengan hyperthermals Eosen awal, tampak bahwa PETM ini dipicu oleh mekanisme yang berbeda. Namun, tes menyeluruh hipotesis ini memerlukan studi dating lebih rinci," kata Adam melapor ke Geochemistry Geophysics Geosystems.
  1. Adam J. Charles (School of Ocean and Earth Science, National Oceanography Centre, University of Southampton, European Way, Southampton SO14 3ZH, UK), et.al. Constraints on the numerical age of the Paleocene-Eocene boundary. Geochemistry Geophysics Geosystems, VOL 12, Q0AA17, 19 PP., 2011, DOI:10.1029/2010GC003426
Adam Charles http://www.noc.soton.ac.uk/palaeo/index.php?action=staff_entry&SID=1643
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment