Strain Parasit Toxoplasma gondii dan Peradangan Usus Crohn

Tinuku
News KeSimpulan.com - Para biolog menjelaskan parasit Toxoplasma gondii yang membingungkan. Strain parasit sama tetapi menyebabkan efek yang berbeda.

Temuan baru mengungkap mengapa beberapa bentuk Toxoplasma lebih berbahaya daripada yang lain. Toxoplasma gondii, parasit yang menginfeksi sepertiga penduduk dunia, datang dalam beberapa strain. Beberapa memiliki konsekuensi berat seperti ensefalitis, sementara yang lain tidak menghasilkan gejala nyata.

Jeroen Saeij, biolog dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang telah mempelajari Toxoplasma selama beberapa tahun, sedang mencoba mencari tahu akar perbedaan tersebut.

Saeij menemukan dua dari tiga strain Toxoplasma paling umum menghasilkan protein yang benar-benar menekan peradangan host.

Sebuah temuan yang dapat membantu para peneliti mengembangkan cara baru untuk mematikan peradangan pada pasien yang terinfeksi strain Toxoplasma atau bahkan pada orang dengan penyakit inflamasi lain seperti Crohn.

"Ada banyak penyakit inflamasi dan jika ada jalur umum yang benar-benar baik memadamkan peradangan, mungkin ada [obat] aplikasi," kata Saeij melapor ke Cell Host & Microbe.

Spora Toxoplasma dapat menginfeksi hampir semua hewan berdarah panas sering ditemukan di tanah, manusia dapat terinfeksi karena memakan daging setengah matang atau sayuran tidak dicuci. Parasit menyebabkan ensefalitis dengan menekan sistem kekebalan dan juga berbahaya bagi janin dari ibu yang terinfeksi selama kehamilan. Beberapa strain ditemukan di Amerika Selatan menyebabkan kebutaan.

Ada sekitar selusin tipe utama strain Toxoplasma. Di Amerika Utara dan Eropa paling umum adalah strain tipe II yang juga paling sering diisolasi dari pasien dengan komplikasi Toxoplasma.

Laporan sebelumnya di Journal of Experimental Medicine (JEM), Saeij menunjukkan tipe II menghasilkan protein GRA15 penyebab peradangan, reaksi kekebalan yang dimaksudkan untuk menghancurkan infkesi tetapi juga dapat merusak jaringan host sendiri jika tercentang.

Dalam laporan baru, Saeij menunjukkan tipe II juga memiliki bentuk varian protein lain yang disebut ROP16. Pada tipe I dan III yang kurang sering ditemukan pada pasien dengan gejala Toxoplasma, ROP16 menekan peradangan host. Namun, bentuk ROP16 ditemukan dalam tipe II tidak memiliki efek seperti itu. Ketika para peneliti memasukkan ROP16 tipe I ke strain tipe II, peradangan ditekan.

Mengapa efek yang sebaliknya dari strain parasit yang sama?

Para peneliti percaya berbagai bentuk parasit berevolusi mengambil keuntungan dari reaksi imun yang berbeda dari host potensial. Toxoplasma ingin memprovokasi beberapa peradangan dalam host karena peradangan membantu host bertahan hidup dari infeksi akut.

Akibatnya, parasit dapat membentuk jaringan kista yang menyebar ke korban lain melalui carnivorism. Namun, radang terlalu banyak bisa membunuh host dan tentu saja menghentikan siklus hidup parasit. Dengan menggunakan strategi yang berbeda, parasit dapat berhasil di dalam host dengan berbagai respon inflamasi.

Jon Boyle, bneurolog dari University of Pittsburgh yang tidak terlibat dalam penelitian ini setuju.

"Laporan benar-benar menunjukkan bahwa Anda memiliki strain berbeda dan meskipun mereka sangat mirip, masing-masing beradaptasi dengan lingkungan host yang berbeda," kata Boyle.

Dalam laporan baru, para peneliti mempelajari infeksi Toxoplasma pada tikus. Peradangan dihasilkan dari usus tikus sangat mirip peradangan usus terlihat pada penyakit Crohn yang diderita sekitar setengah juta orang di Amerika Serikat.

Tidak diketahui bahwa kasus-kasus ini sebenarnya disebabkan oleh Toxoplasma, tetapi Saeij mengatakan beberapa penelitian telah menunjukkan insiden yang lebih tinggi Toxoplasma pada pasien Crohn dibandingkan dengan populasi umum.

Saeij sekarang mencoba untuk mengetahui bagaimana protein ROP16 dengan efek anti-inflamasi yang dapat membantu mengidentifikasi pendekatan baru untuk mengembangkan obat anti-inflamasi. Namun membutuhkan bertahun-tahun penelitian, kata Saeij.

"Pada kenyataannya, berangkat dari temuan untuk suatu obat dapat diperoleh selama satu dekade bahkan lebih," kata Saeij.
  1. Kirk D.C. Jensen (Department of Biology, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA 02139, USA) et.al. Toxoplasma Polymorphic Effectors Determine Macrophage Polarization and Intestinal Inflammation. Cell Host & Microbe, Volume 9, Issue 6, 16 June 2011, Pages 445-447, DOI:10.1016/j.chom.2011.04.015
  2. Emily E. Rosowski (Department of Biology, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA 02139) et.al. Strain-specific activation of the NF-κB pathway by GRA15, a novel Toxoplasma gondii dense granule protein. Journal of Experimental Medicine, January 3, 2011, DOI:10.1084/jem.20100717
Download : DOI:10.1084/jem.20100717

Jeroen Saeij http://web.mit.edu/biology/www/facultyareas/facresearch/saeij.html
Jon Boyle http://www.neurology.upmc.edu/faculty/doyle.html
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment