Tipe Baru Ledakan Supernova Minim Hidrogen Tetapi Sangat Terang

Tinuku
News KeSimpulan.com - Perbedaan bola lampu 100 watt dengan 1000 watt selama sebulan ada di tagihan listrik. Tetapi Cahaya supernova membingungkan para astronom.

Beberapa objek terang dan aneh sebagai rahmat langit dalam beberapa tahun terakhir menjadi sebuah kelas baru supernova. Namun bagaimana mereka terbentuk tetap menjadi misteri.

Supernova (supernovae) muncul dalam varietas yang berbeda. Tipe ledakan, misalnya, tidak menunjukkan adanya hidrogen dalam spektrum dan terjadi ketika bara bintang mati dengan materi pendamping sangat banyak.

Ledakan Tipe II yang memiliki hidrogen terbentuk ketika core bintang raksasa runtuh.

Sekarang Robert Quimby, astronom dari California Institute of Technology di Pasadena dan rekannya melaporkan enam supernova yang tidak sesuai dengan cetakan tipe yang telah diketahui. Mengandung oksigen tetapi tidak ada hidrogen dan lebih terang dari ledakan tipe Ia pada faktor 10.

Supernova ini juga tetap panas selama beberapa minggu atau bulan, lebih lama dari supernova lain.

"Kecerahan puncak dan jumlah energi yang dilepaskan sangat luar biasa. Mengganti bola lampu di rumah Anda dari 100 watt sampai 1000 watt secara live seperti itu selama sebulan dan tagihan listrik Anda akan menunjukkan perbedaan tersebut," kata Quimby.

Munculnya supernova kelas baru datang ketika empat supernova yang tidak biasa pada tahun 2009 dan 2010.

"Kami tahu mereka aneh, tetapi saya merasa pernah melihat di suatu tempat sebelumnya," kata Quimby.

Quimby melihat kembali spektrum dua benda yang sebelumnya membingungkan astronom yaitu supernova yang hancur meredup setelah diamati pada tahun 2005 dan sebuah objek aneh yang cerah dengan santai selama tiga bulan sebelum memudar pada tahun 2006.

"Saya benar-benar gembira ketika melihat perbandingan ini," kata Quimby.

Bagaimana ledakan langka ini muncul? Salah satu kemungkinan berasal dari bintang kelas berat dengan massa 130 kali Matahari. Bintang tersebut menjalani pulsasi kehidupan akhir, menghembuskan selubung materi secara berkala, seperti cincin asap, selama berbulan-bulan atau bahkan puluhan tahun sebelum core meledak. Selubung hidrogen yang pertama sloughed off sehingga sudah meluncur terjauh pada saat core meledak.

Puing-puing ledakan awalnya terlempar ke dalam selubung kaya unsur-unsur lain seperti oksigen, pemanasan menyebabkan bersinar. Jika selubung hidrogen telah meluas keluar cukup jauh, mungkin luput dari deteksi kita, kata Stan Woosley, teoritikus dari University of California di Santa Cruz.

Skenario lain dimulai dengan supernova yang secara normal minim hidrogen. Jangankan membentuk sebuah bintang neutron berputar cepat khas dalam awan puing meluas yang biasa dilakukan supernova, mereka melahirkan bintang neutron sangat magnetis yang disebut magnetar.

Intensitas medan magnet bintang bertindak sebagai rem yang memperlambat spin selama berbulan-bulan. Energi ini memanaskan puing-puing di sekitar supernova sehingga bersinar.

"Magnetar tersebut melepaskan sejumlah besar energi melambat," kata Quimby.

Woosley sependapat bahwa selubung berdenyut tetapi kedua model dapat menjelaskan intensitas dan durasi objek. Mereka adalah supernova paling terang di alam semesta dan tetap cerah selama berbulan-bulan, bukan minggu.

Kedua model mengandalkan sumber langka baik bintang sangat masif atau magnetar kuat, mengapa begitu sedikit kelas baru tersebut terlihat sejauh ini. Quimby berspekulasi bahwa lingkungan kosmik kita mungkin ada 1000 sampai 10.000 supernova normal untuk satu superluminous.

"Tapi kita bisa melihat jauh lebih besar," kata Quimby.

Supernova ini dapat berguna untuk mempelajari lingkungannya. Semua supernova baru yang cerah telah ditemukan di galaksi kerdil redup yang biasanya sulit untuk dipelajari.

"Ketika sebuah supernova superluminous menyala, kita dapat menggunakannya sebagai lampu latar untuk mempelajari gas dalam galaksi host. Bisa memberitahu kita tentang bagaimana bentuk galaksi dan berkembang," kata Quimby.
  1. R. M. Quimby (Cahill Center for Astrophysics 249-17, California Institute of Technology, Pasadena, California 91125, USA), et.al. Hydrogen-poor superluminous stellar explosions. Nature, 08 June 2011, DOI:10.1038/nature10095
Robert Quimby http://www.astro.caltech.edu/~quimby/
Stanford Woosley http://www.ucolick.org/~board/faculty/woosley.html

Gambar : R. M. Quimby, et.al. Nature, DOI:10.1038/nature10095
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment