Formula Matematika Prediksi Serangan Random Teroris

Tinuku
News KeSimpulan.com - Apakah ada cara untuk memprediksi 'Kekerasan acak' dalam Perang? Fisikawan terorisme memprediksi jarak waktu setiap serangan di masa depan.

Taliban pendukung pengeboman bunuh diri yang menewaskan 21 orang di sebuah hotel di Kabul Selasa lalu datang entah dari mana. Serangan terorisme di Irak dan Afghanistan juga terbukti tidak terduga dengan beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan antara satu pengeboman mematikan dengan pengeboman berikutnya.

Namun sebuah studi baru, serangan yang tampak sporadis di awal mulai menunjukkan pola bahwa agresor memperbaharui metode mereka.

Temuan ini dapat memberikan cara bagi para petugas keamanan untuk mengukur waktu serangan di masa depan dalam suatu konflik, mengalokasikan pasukan, senjata, dan sumber daya lebih aman dan efisien, bahkan mengantisipasi kejadian acak seperti bom bunuh diri.

Untuk mencari urutan di tengah kekacauan perang, Neil Johnson, fisikawan dari University of Miami di Florida dan rekannya menyaring data kematian publik dan militer selama periode 10 tahun pertempuran di Afghanistan dan 7 tahun di Irak.

Analisis data oleh para peneliti menemukan setelah gap awal pada dua "peristiwa mematikan" (serangan atau pemboman yang mengakibatkan kematian) dengan serangan berikutnya datang lebih cepat yang mengikuti pola matematika tertentu. Pola yang disebut power curve di mana pengalaman lebih mengarah semakin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas.

"It's the same pattern of adaptation we find in shipbuilding, manufacturing, software development, even surgery. You get better by doing," kata Johnson.

Interval antara dua kejadian pertama begitu kuat meramal momentum serangan di masa depan. Para peneliti merancang sebuah persamaan dan grafik yang menyertai untuk memperkirakan arah permusuhan dalam banyak situasi.

Sebagai contoh, jika sebuah bom bunuh diri pertama seperti hotel di Kabul diikuti oleh bom kedua kira-kira 3 bulan (katakanlah, 100 hari) kemudian, para peneliti akan mengisi 100 hari ke dalam persamaan. Level eskalasi yang dihasilkan menempatkan serangan ketiga sekitar 2 bulan (66 hari) setelah serangan kedua dan keempat diperkirakan 52 hari setelah itu.

Ketika para peneliti menguji persamaan di arena lain terbukti konsisten. Selain pertempuran di Irak dan Afghanistan, para peneliti mencoba grafik di lebih dari 3000 serangan fatal oleh kelompok teroris di seluruh dunia serta pemboman bunuh diri oleh Hizbullah Libanon dan militan di Pakistan. Dalam semua situasi ini, perkiraan matematis terhadap eskalasi korban cocok dengan "program kematian" yang sebenarnya, tim melapor ke Science.

Karena pelaku bom bunuh diri di Lebanon tidak berkoordinasi dengan teoris di Afghanistan, misalnya, konsistensi berlangsung dengan poin serangan ke sebuah prinsip adaptasi umum, kata Johnson.

Johnson menyamakan prinsip dengan hipotesis Red Queen dalam biologi evolusi setelah karakter dalam Alice in Wonderland yang harus tetap berjalan lebih cepat hanya untuk tinggal di tempat yang sama. Meskipun musuh meningkatkan kecepatan karena pengalaman, orang-orang juga beradaptasi.

"In any arms race, one side is always a little ahead until the other side adapts to its actions. By using our data to see when, and by how much, the Red Queen [i.e., the terrorist group] is ahead, the military can evaluate precisely what it's doing, what's working, and what isn't," kata Johnson.

Michael Spagat, ekonom dari Royal Holloway, University of London, mengatakan laporan ini "menakjubkan" dimana para peneliti menemukan korelasional antara jarak serangan awal dan waktu yang akan datang.

"It would be good to see if the same pattern holds up in even more contexts and other wars," kata Spagat.

Namun Spagat mengingatkan studi ini belum pada titik di mana dapat memprediksi tanggal dan waktu serangan tunggal.

Sekarang tim Johnson mendapat dana dari United States Office of Naval Research untuk proyek penelitian yang lebih besar yang bertujuan untuk memprediksi korban sipil dan militer secara lebih akurat dengan data yang lebih komprehensif.

"It doesn't just apply to boots on the ground," kata Johnson.
  1. Neil Johnson (Department of Physics, University of Miami, Coral Gables, FL 33124, USA), et.al. Pattern in Escalations in Insurgent and Terrorist Activity. Science 1 July 2011: Vol.333 no.6038 pp.81-84, DOI:10.1126/science.1205068
Neil Johnson http://web.physics.miami.edu/People/NeilJohnson.html
Michael Spagat http://pure.rhul.ac.uk/portal/en/persons/michael-spagat(2ff0d241-d999-41bf-bb08-eccbc8b1a917).html
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment