Molekul Gula Maltodextrin Membuat Bakteri Menyala

Tinuku
News KeSimpulan.com - Molekul gula membuat bakteri menyala. Maltodextrin membuat bakteri terlihat meskipun bersembunyi di situs paling rahasia di tubuh Anda.

Dokter suatu hari dapat mendeteksi bakteri berbahaya dalam tubuh kita sebelum infeksi berlangsung. Satu potensi pencegahan menggunakan antibiotik secara berlebihan dan pengembangan resistansi obat serta menyelamatkan nyawa.

Sebuah studi dilaporkan ke Nature Materials, Niren Murthy, bokimiawan dari Georgia Institute of Technology (Gatech) menggunakan metode baru sangat sensitif deteksi bakteri. Saat ini, tidak ada cara khusus dan akurat bakteri kecil secara in vivo.

"Pencitraan CT, Anda hanya melihat kerusakan jaringan. Ini sangat sulit untuk membedakan antara infeksi bakteri dan berbagai jenis penyakit yang menyebabkan nekrosis," kata Murthy.

Infeksi bakteri yang tidak terdeteksi sampai mereka mapan bisa sangat sulit diobati dan penyebab utama amputasi tungkai. Jenis infeksi paling berbahaya adalah patogen bakteri hidup dalam komunitas yang disebut biofilm yaitu ribuan kali lebih tahan terhadap antibiotik dari bakteri yang hidup bebas.

Murthy mengatakan meski ada beberapa agen kontras untuk bakteri pencitraan yang telah digunakan pada hewan, mereka juga menargetkan peradangan yang disebabkan oleh bakteri atau permukaan bakteri. Tim Gatech memilih agen yang bisa masuk patogen.

"Kami pikir transporter maltodekstrin adalah apa yang kita targetkan, maltodextrin-based imaging probes (MDPs) yang diinternalisasi oleh bakteri pada tingkat yang sangat cepat sehingga Anda dapat memberi konsentrasi sangat tinggi," kata Murthy.

Maltodextrin adalah molekul gula yang aktif diangkut ke dalam sel bakteri (tetapi bukan mamalia) dalam mendapat energi bakteri. Dengan melampirkan probe neon untuk maltodekstrin, para peneliti secara khusus dapat mendeteksi bakteri yang telah menelannya.

Konsentrasi tinggi probe di dalam bakteri memastikan mereka terlihat jelas bahkan ketika hadir dalam kuantitas rendah. Para ilmuwan menunjukkan berbagai spesies bakteri yang berbeda dapat dideteksi termasuk mereka yang tinggal dalam biofilm. MDPs tidak mengambil bakteri usus atau bakteri tidak aktif atau mati.

"[MDPs] juga berguna dalam menilai kemanjuran antibiotik dan apakah infeksi bakteri telah sepenuhnya dibasmi," kata Murthy.

Dalam tes vivo, Murthy menyuntik bakteri ke dalam otot paha tikus. Kemudian MDPs disuntikkan ke dalam vena sehingga menyebar ke seluruh tubuh. Enam belas jam kemudian, sistem pencitraan fluoresensi mengambil foto situs infeksi. Bakteri dan tingkat infeksi secara jelas dibedakan.

Tetapi ada keterbatasan. Deteksi fluoresensi dan oleh karena infeksi hanya terlihat sampai satu sentimeter di bawah permukaan kulit.

"Apa yang kita lakukan sekarang adalah untuk membuat MDPs untuk bakteri dengan positron emission tomography (PET imaging) yang pada akhirnya dapat mengatasi masalah ini," kata Mirthy.
  1. Xinghai Ning (The Wallace H. Coulter Department of Biomedical Engineering and the Parker H. Petit Institute for Bioengineering and Bioscience, Georgia Institute of Technology, Atlanta, Georgia 30332, USA) et.al. Maltodextrin-based imaging probes detect bacteria in vivo with high sensitivity and specificity. Nature Materials, 17 July 2011, DOI:10.1038/nmat3074
Niren Murthy http://www.bme.gatech.edu/facultystaff/faculty_record.php?id=58
Tinuku Store