Paleontolog Tyler Lyson Temukan Fosil Dinosaurus 37 Cm Batas KT

Tinuku
News KeSimpulan.com - Apa yang terjadi dengan dinosaurus? Selama lebih dari 100 juta tahun mereka memerintah dunia. Lalu, tiba-tiba lenyap sekitar 65 juta tahun lalu.

Diterima secara umum bahwa asteroid besar yang menerjang semenanjung Yucatan, Meksiko sekitar 65 juta tahun lalu menyebabkan kepunahan massal. Tetapi perdebatan sengit apakah dinosaurus non-unggas sudah menghilang akibat perubahan iklim, perubahan permukaan laut atau aktivitas gunung berapi.

Kebanyakan ilmuwan menyalahkan sebuah asteroid menabrak Bumi atas kematian dramatis fauna ini.

Beberapa peneliti masih skeptis terhadap hipotesis asteroid tetapi temuan fosil baru di Montana mungkin memberi pandangan baru.

Tahun 1980, fisikawan Nobelis, Luis Alvarez dan putranya Walter Alvarez geolog, pertama kali menhajukan hipotesis asteroid, tetapi mereka menghadapi kesenjangan besar karena hanya sedikit bukti tegas untuk peristiwa bencana ini.

Kemudian bersama peneliti lain mereka menemukan iridium dalam formasi geologi berdating 65 juta tahun antara periode Cretaceous dan Tertiary yang dikenal sebagai batas KT (K-T boundary). Iridium adalah materi umum di asteroid tetapi jarang ditemukan dalam kerak Bumi.

Namun, hipotesis Alverezes menghadapi masalah lain yaitu tidak ada fosil dinosaurus yang ditemukan menempati 3 meter di bawah batas atas KT, celah geologis setara 100.000 tahun.

Kebanyakan peneliti menyimpulkan dinosaurus punah sebelum dampak asteroid dan secara bertahap. Hipotesis alternatif kepunahan ini termasuk peningkatan aktivitas vulkanik Bumi di sekitar waktu yang sama dengan melemparkan abu ke atmosfir, sinar Matahari meredup dan berdampak pada tanaman sehingga mengurangi dinosaurus herbivora, atau pengeringan laut dangkal dimana dinosaurus kehilangan habitat vegetasi.

Tahun 1991, Peter Sheehan, paleontolog dari Milwaukee Public Museum di Wisconsin dan rekannya melaporkan temuan sistematis fosil dinosaurus di North Dakota dan Montana yang mempersempit kesenjangan fosil hanya 60 cm di bawah batas KT.

Tepat sekitar waktu yang sama, Martin Lockley, dinosaurusian dari University of Colorado di Denver, menemukan jejak kaki Tyrannosaurus rex hanya 37 cm di bawah batas atas KT di New Mexico.

Semakin sedikit limit KT maka kebanyakan ilmuwan menerima hipotesis Alvarez. Namun demikian, minoritas vokal masih bersikeras kepunahan dinosaurus terjadi secara bertahap seperti letusan gunung berapi atau surutnya laut.

Sekarang tim yang dipimpin oleh Tyler Lyson, paleontolog dari Yale University, mengklaim temuan tulang dinosaurus di Montana mempersempit kesenjangan fosil-KT hanya 13 sentimeter.

Tahun lalu Lyson dan rekannya memeriksa Hell Creek Formation mencari mamalia yang hidup setelah dampak asteroid. Dua anggota tim dari Yale University, Eric Sargis, antropolog, dan mahasiswa pascasarjananya Stephen Chester, tersandung sepotong tanduk Ceratopsian, fosil 45 sentimeter (Ceratopsian termasuk keluarga Triceratops).

Lokasi tepat di batas KT dan indikator-indikator termasuk deposit tipis iridium serta perubahan spesies tanaman serbuk sari yang ditemukan di bawah dan di atas batas seperti peningkatan tajam spesies pakis.

Data mempersempit kesenjangan fosil hanya 13 sentimeter dan tim melapor ke Biology Letters bahwa dinosaurus masih hidup dan cukup tepat waktu hingga asteroid menghantam.

"Di sini kita memiliki spesimen yang pada dasarnya sampai ke batas KT, setidaknya beberapa dinosaurus baik-baik saja," kata Lyson.

Sheehan setuju dan mengatakan laporan ini "very well done" serta mendukung klaim tim. Kesenjangan 3 meter jelas karena kelangkaan relatif tulang dinosaurus di seluruh Formasi Hell Creek ketimbang kepunahan bertahap hewan-hewan besar sebelum asteroid menghantam.

Tetapi Gregory Retallack, geolog dari University of Oregon di Eugene, yang sebelumnya mengusulkan bahwa kesenjangan ini disebabkan hujan asam yang melarutkan fosil setelah dampak asteroid, mengatakan tim tidak membuat pondasi kuat.

"Sayangnya, hanya satu tulang," kata Retallack.

Menemukan sebuah fosil langka 13 cm di bawah batas KT akhirnya mendukung kedua hipotesis skenario baik dampak asteroid dan kepunahan bertahap. Retallack mengatakan jika kepunahan bertahap yang terjadi, para peneliti berharap menemukan fosil yang lebih sedikit saat semakin mendekati batas.

David Archibald, biolog dari San Diego State University di California, pendukung hipotesis penyusutan laut, menegaskan laporan baru "tidak benar seluruhnya. Menemukan satu fragmen dinosaurus [tidak] tiba-tiba membuat kesenjangan ini hilang... kesenjangan tetap nyata".

Lyson sependapat bahwa laporan ini tidak sepenuhnya mengesampingkan proses kepunahan bertahap, tetapi Lyson bersikeras menolak pada salah satu prinsip utama hipotesis bahwa dinosaurus punah sebelum dampak asteroid. Lyson mengatakan akan menyelesaikan masalah ini secara definitif.
  1. Tyler R. Lyson (Department of Geology and Geophysics, Yale University, New Haven, CT 06511, USA; Marmarth Research Foundation, Marmarth, ND 58643, USA) et.al. Dinosaur extinction: closing the ‘3 m gap’. Biology Letters, July 13, 2011, DOI:10.1098/rsbl.2011.0470
Tyler Lyson http://peabody.yale.edu/collections/vertebrate-paleontology/tyler-lyson
Peter Sheehan http://www.mpm.edu/collections/staff/?id=9
Gregory Retallack http://pages.uoregon.edu/dogsci/doku.php?id=directory/faculty/greg/about
David Archibald http://www.bio.sdsu.edu/faculty/archibald.html/
Luis Alvarez http://nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1968/alvarez-bio.html
Martin Lockley http://en.wikipedia.org/wiki/Martin_Lockley

Foto : Tyler Lyson
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment