Xiaotingia zhengi Menggeser Archaeopteryx Sebagai Burung Pertama

Tinuku
News KeSimpulan.com – Laporan terbaru menegaskan Archaeopteryx harus lengser dari tempatnya bertengger sebagai burung pertama digantikan Xiaotingia zhengi.

Kemegahan Archaeopteryx telah menjadi ikon sebagai burung paling awal. Paling tidak 15 tahun yang lalu ketika batas antara burung dan dinosaurus menjadi perdebatan cukup tajam.

Di satu sisi Archaeopteryx, makhluk 150 juta tahun seukuran murai, telah lama dianggap burung pertama di dunia. Di sisi lain ada Deinonychus, karnivora sebesar emu seperti juga dinosaurus atau theropoda dari keluarga yang dikenal sebagai Dromaeosauridae.

Banyak kesamaan fitur kerangka Deinonychus dan Archaeopteryx yang pertama kali diakui oleh paleontolog John Ostrom pada akhir tahun 1960, memberikan bukti penting burung telah berevolusi dari dinosaurus theropoda kecil berkaki dua, hipotesis yang diajukan Thomas Huxley (dijuluki Darwin's Bulldog) tahun 1859.

Archaeopteryx yang berbulu tidak seperti rekan-rekannya, memiliki tulang ekor panjang, paruh bergigi, tiga jari dan mencakar. Di sisi lain Deinonychus jauh lebih besar dari Archaeopteryx belum diketahui berbulu dan jelas tidak bisa terbang.

Jadi meskipun kedua fauna memberi sekilas fitur yang merupakan jurang evolusioner dapat diatasi yaitu jembatan antara dinosaurus dan burung masih sangat tipis.

Memang, banyak palaeontolog berpendapat perbedaan antara Archaeopteryx dan Deinonychus terlalu besar untuk link burung dengan dinosaurus dan setiap persamaan yang mungkin karena evolusi konvergen. Kemudian, mulai tahun 1996, sebuah kebingungan temuan baru mengubah selamanya.

Dinosaurus berbulu, banyak dari mereka dromaeosaurids seperti Deinonychus mulai muncul dengan fosil 125 juta tahun dari Provinsi Liaoning, timur laut China. Beberapa ditutupi rambut seperti tufa halus, lainnya memiliki ekor berbulu, lengan dan bahkan kaki.

Tiba-tiba, batas antara burung dan dinosaurus theropoda menjadi sangat kabur.
Banyak fitur lama dianggap sebagai ciri burung (bulu, tulang, forelimbs panjang dan kapasitas untuk terbang) jelas berevolusi dalam theropods.

Mendefinisikan burung dengan cara membedakan kelompok dinosaurus menjadi sangat rumit. Tapi konsensus di antara palaeontolog bahwa Archaeopteryx masih harus dipertimbangkan sebagai burung pertama "yang sesungguhnya". Posisi evolusi masih mendefinisikan titik di mana dinosaurus beralih menjadi burung sampai hari ini.

Sekarang laporan ke Nature, kita memiliki Xiaotingia zhengi, kecil seukuran ayam, theropoda berbulu, juga dari Liaoning dari China tetapi fosil berdating 155 juta tahun.

Meskipun fosil tidak spektakuler Archaeopteryx, kerangka Xiaotingia menunjukkan bahwa beberapa fitur, termasuk panjang tubuh, lengan kuat yang dianggap khas avialan, karakteristik kelompok yang lebih inklusif dinosaurus mirip burung dan burung yaitu Paraves.

Analisis rinci posisi evolusioner dari Xiaotingia dalam Paraves menunjukkan Archaeopteryx bukan avialan. Dengan kata lain, keduanya bukan burung "yang sebenarnya". Sebaliknya dalam kelompok mereka sendiri, Archaeopteryidae dalam Deinonychosauria, bersama Dromaeosaurids (seperti Deinonychus) dan Troodontids.

"Kita dulu berpikir Archaeopteryx begitu berbeda dari dinosaurus lain yaitu leluhur burung, tetapi temuan terbaru menunjukkan bahwa ini tidak lagi terjadi. Kesimpulan utama kami Archaeopteryx tidak lagi burung," kata Xing Xu, paleontolog dari Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology di Beijing.

Deinonychosaurians tampaknya disatukan oleh sebuah tengkorak yang lebih memanjang, gigi tajam dan mungkin selera daging. Burung-burung pertama sekarang tampak seperti Epidexipteryx, Jeholornis dan Sapeornis.

Hewan ini jauh lebih pendek, tengkorak lebih tinggi, gigi tumpul dan mungkin herbivora. Sementara aturan ini masih bersifat sementara tetapi menunjukkan bahwa transisi evolusi dari dinosaurus ke unggas perlu hati-hati dievaluasi lagi.

"Saya tidak terkejut. Penerbang pertama kali mungkin telah banyak berevolusi di antara dinosaurus theropoda bertubuh kecil," kata Gareth Dyke, paleontolog dari University College Dublin di Irlandia.

Karena semakin banyak dinosaurus mirip burung dan burung mirip dinosaurus yang ditemukan, hal ini menjadi semakin jelas bahwa transisi dari dinosaurus ke burung adalah transformasi bertahap lebih dari jutaan tahun dan melibatkan berbagai jenis hewan dalam pohon keluarga besar kedinosaurusan.
  1. Xing Xu (College of Life Science, Linyi University, Shuangling Road, Linyi City, Shandong 276005, China). An Archaeopteryx-like theropod from China and the origin of Avialae. Nature, 475, 465–470, 27 July 2011, DOI:10.1038/nature10288
Xing Xu http://www.ivpp.ac.cn/
Gareth Dyke http://www.ucd.ie/earth/people/academic/garethdyke/

John Ostrom http://en.wikipedia.org/wiki/John_Ostrom
Thomas Huxley http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Henry_Huxley

Gambar : Xing Xu et.al., Nature, DOI:10.1038/nature10288
Tinuku Store