Janjucetus hunderi Missing Link Ikan Paus Balin

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bagaimana mulut terbesar di dunia berevolusi? Paleontolog mengusulkan temuan missing link evolusi filter mulut raksasa mirip Ikan Paus Biru.

Ikan Paus Balin modern adalah salah satu makhluk terbesar yang pernah hidup di Bumi. Panjang 30 meter, Ikan Paus Biru dewasa beratnya sekitar 180 metrik ton dan konsumsi diet harian 3,6 metrik ton.

Mereka tidak memiliki gigi seperti ikan paus lainnya. Makan ikan, cumi-cumi dan organisme laut lainnya yang disebut krill dengan cara menyaring dari air laut, menggunakan bulu di atap mulut mereka yang disebut baleen.

Sistem filter makanan Ikan Paus Balin seperti gua mulut dengan lebar rahang atas dan rahang bawah elastis yang dapat membuka lebar dan memungkinkan tekanan air lebih dari berat badan sendiri dalam satu tegukan.

Rahang bawah atau mandibula ini elastis, tulang berputar di mana gerak sisi kiri dan kanan mampu meregang terpisah, memperluas rahang bawah dan dengan demikian meningkatkan volume air laut dalam sekali teguk.

"Ikan Puas Balin modern memiliki rahang lebih rendah dan sangat mobile yang terus terang aneh karena tidak ada mamalia lainnya memiliki fitur semacam ini," kata Erich Fitzgerald, paleobiolog dari Museum Victoria di Melbourne, Australia.

Para ilmuwan telah lama bertanya-tanya bagaimana leluhur ikan paus balin menggunakan gigi untuk menangkap mangsa besar (seperti dilakukan paus pembunuh) berevolusi menjadi filter pengumpan yang ompong.

"Ini adalah lompatan evolusioner besar," kata Fitzgerald.

Laporan Fitzgerald ke Biology Letters menunjukkan sebuah bukti fosil pertama missing link Ikan Paus Balin bergigi yang tidak memiliki rahang bawah elastis. Rahang balin primitif ini berdating 25 juta tahun disebut Janjucetus hunderi dengan panjang hanya 3 meter, seukuran lumba-lumba botol.

"Ini bukti terjelas Paus Balin awal tidak bisa menyaring makanan karena sebelumnya berpikir bahwa semua Paus Balin adalah filter pengumpan," kata Fitzgerald.

Janjucetus hunderi dengan rahang atas besar dan gigi kerucut. Rahang tidak menyatu, tetapi erat terhubung dan tidak akan membiarkan rahang bawah memperluas. Jadi Janjucetus tidak makan seperti yang dilakukan Paus Balin modern.

Ikan paus bergantung pada hisapan makanan yaitu menjatuhkan lidah dan rahang bawah sehingga menarik air dan menghirup krill. Tengkorak ikan paus yang lebar meningkatkan volume dan pada gilirannya meningkatkan efisiensi hisapan makanan.

Seiring waktu, evolusi balin dan rahang menjadi fleksibel memungkinkan ikan paus menangkap makanan lebih efisien daripada rahang lebar bergigi, kombinasi Ikan Paus Balin tumbuh besar dengan makan sejumlah besar krill kecil tapi banyak.

Temuan mandibula baru adalah penting, kata Nicholas Pyenson, paleontolog vertebrata dari Smithsonian Institution's National Museum of Natural History di Washington, DC. Walaupun ikan paus dan lumba-lumba modern memiliki berbagai makan gaya, jelas bahwa nenek moyang semua ikan paus adalah pengumpan.

"Jika kita ingin memahami faktor-faktor yang menyebabkan gigantisme Ikan Paus Balin, kita harus melihat lebih banyak fosil yang belum dijelaskan," kata Pyenson.
  1. Erich M. G. Fitzgerald (Museum Victoria, GPO Box 666, Melbourne, Victoria 3001, Australia; National Museum of Natural History, Smithsonian Institution, Washington DC, USA). Archaeocete-like jaws in a baleen whale. Biology Letters, August 17, 2011, DOI:10.1098/rsbl.2011.0690
Erich Fitzgerald http://www.museum.vic.gov.au/
Nicholas Pyenson http://paleobiology.si.edu/staff/individuals/pyenson.html

Gambar : Carl Buell dalam Deméré et.al., Systematic Biology, DOI:10.1080/10635150701884632
Tinuku Store