Kelelawar Vampir Desmodus rotundus Mengevolusi Sensor Inframerah

Tinuku
News KeSimpulan.com - Kelelawar vampir Desmodus rotundus mengecilkan sensor panas dengan mengembangkan protein baru untuk melacak panas tubuh.

Kelelawar vampir Desmodus rotundus berburu dengan mendeteksi hot spot mangsa mereka di mana darah mengalir tepat di bawah kulit, tapi bagaimana mereka melakukannya telah lama menjadi misteri.

Sekarang, peneliti menemukan kelelawar vampir mengevolusi detektor suhu tinggi menjadi detektor untuk melacak panas tubuh mangsa yang lebih dingin. Sensor radiasi inframerah ini menggunakan lubang sensitif di wajah sama seperti yang dilakukan ular.

Sebelumnya, Elena Gracheva, fisiolog postdoc fellow di University of California, San Fransisco, dan rekannya menunjukkan ular Boas menggunakan protein sensitif panas disebut TRPA1 untuk tugas tersebut. Sekarang timnya menemukan kelelawar vampir juga melakukan namun sedikit versi berbeda.

Luar biasa, kelelawar vampir memiliki dua versi protein, kata Nicholas Ingolia, biolog dari Carnegie Institution for Science di Baltimore, Maryland.

"Salah satunya adalah sensitif untuk menghindari panas, tetapi kelelawar menghasilkan versi di lubang wajah mereka yang sensitif terhadap suhu lebih rendah," kata Ingolia.

TRPV1 ditemukan di semua vertebrata. Mendeteksi panas yang dapat merusak jaringan tubuh, memicu sensasi, rasa terbakar. Umumnya aktif pada suhu 43oC ke atas. Tetapi varian tambahan yang dikembangkan kelelawar menanggapi lebih dingin yaitu 30oC yang sesuai dengan tubuh hewan mangsa dimana kelelawar menghisap vena atau arteri yang terletak tepat di bawah kulit.

"Saluran ini seperti termostat," kata David Julius, fisiolog dari University of California di San Francisco.

Tim Gracheva menemukan kelelawar vampir memiliki panjang DNA ekstra biasanya pengkode untuk protein TRPV1. Dalam keadaan tertentu, area tambahan DNA membuat TRPV1-S sebagai gantinya. Sapi, babi dan anjing juga memiliki DNA ekstra sehingga menghasilkan dua bentuk protein tetapi keduanya untuk sensitivitas panas yang sama.

"Tanpa adaptasi ini kelelawar mungkin tidak akan bertahan hidup sebagai spesies," kata Gracheva melapor ke Nature.

Tim peneliti menemukan kesesuaian dengan penelitian sebelumnya bahwa evolusi kelelawar lebih dekat dengan hewan karnivora dan ruminansia daripada hewan pengerat, kata Gareth Jones dari University of Bristol di Inggris.

"Studi ini menunjukkan bagaimana adaptasi khusus deteksi inframerah dapat berkembang dengan mekanisme genetik yang berbeda pada kelelawar vampir dan vertebrata lainnya untuk mekanisme sensori," Kata Jones.
  1. Elena O. Gracheva (Department of Physiology, University of California, San Francisco, California 94158-2517, USA) et.al. Ganglion-specific splicing of TRPV1 underlies infrared sensation in vampire bats. Nature, 476, 88–91, 03 August 2011, DOI:10.1038/nature10245
Elena Gracheva http://physio.ucsf.edu/julius/gracheva.html
Nicholas Ingolia http://www.ingolia-lab.org/
David Julius http://physio.ucsf.edu/julius/julius.html
Gareth Jones http://www.bristol.ac.uk/biology/research/behaviour/batlab/
Tinuku Store