Mimikri Müllerian Kupu Heliconius numata Hindari Predator

Tinuku
News KeSimpulan.com - Seleksi predatori mengevolusi warna. Kupu Heliconius numata mengubah warna sayap agar mirip seperti spesies yang tidak enak dimakan burung.

Para ilmuwan menemukan spesies kupu-kupu Amazon Heliconius numata meniru spesies lain untuk menghindari burung predator, memecahkan misteri yang telah membingungkan para ilmuwan sejak Charles Darwin.

Individu tunggal mungkin menunjukkan hingga 7 pola sayap yang berbeda dengan masing-masing pola terlihat persis seperti spesies kupu-kupu dari keluarga Melinaea lain yang jauh terkait dan tidak enak dimakan.

"Charles Darwin bingung bagaimana kupu-kupu mengevolusi pola seperti warna peringatan," kata Siu Fai Lee, biolog dari University of Melbourne.

H. numata dan spesies Heliconius lainnya menggunakan strategi yang dikenal sebagai Müllerian mimicry di mana dua atau lebih spesies yang menyenangkan predator yang sama berbagi tanda.

Predator belajar dari pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan dan menghindari makan mangsa yang mirip di masa depan. Müllerian mimicry berbeda dengan Batesian mimicry di mana spesies meniru pewarnaan dari satu hewan beracun.

"Strategi dua saudara jauh menyatu ke dalam bentuk tunggal berarti mereka berbagi biaya dalam mendidik predator, dalam kasus ini burung. Beberapa individu dikorbankan dalam proses, namun menguntungkan kedua spesies," kata Lee.

Meskipun memiliki DNA sama, tiap-tiap H. numata dapat terlihat jauh berbeda yang secara luas sebagai tekanan seleksi, apapun yang tidak sesuai dengan pola warna secara optimal akan dimangsa dan tidak mungkin mewariskan gen ke generasi berikutnya.

Para ilmuwan ingin menentukan bagaimana kombinasi warna secara sukses muncul di tempat pertama. Juga mengeledah apakah mutasi yang menghasilkan satu spesies mengadopsi pewarnaan mirip spesies lain terjadi dalam satu langkah tunggal, ataukah hasil dari perubahan inkremental populasi.

Dengan memetakan hubungan antara penanda genetik dengan pola sayap yang berbeda, peneliti menemukan mekanisme yang bertanggung jawab untuk memproduksi variasi yang terkandung dalam satu wilayah kromosom.

Dikenal sebagai supergen yaitu bagian kromosom yang menggunakan proses sama untuk mengocok satu pak wadah kecil.

"Supergen adalah saklar yang memegang beberapa faktor mimikri secara bersama-sama," kata Lee melapor ke Nature.

"DNA di sepanjang kromosom membalik untuk menghasilkan kombinasi yang berbeda sehingga memungkinkan kupu-kupu berubah menjadi bentuk yang berbeda," kata Lee.

Berbagai jenis supergen yang secara sempurna dengan pola sayap yang paling berhasil diadaptasi ditemukan dalam spesies ini. Supergen adalah hotspot adaptasi berbagai spesies lain termasuk bunga primrose dan pola cangkang bekicot.

"Hal ini memungkinkan faktor mimikri bekerja terbaik untuk bersama-sama, sementara mencegah kombinasi yang terus menghasilkan pola-pola lain dalam populasi," kata Lee.

Temuan baru juga menunjukkan perubahan kecil dapat melestarikan kombinasi gen kromosom yang sukses dan membantu spesies beradaptasi. Supergen dan dasar genetik lainnya menjadi kunci untuk memahami mekanisme adaptasi dalam menanggapi perubahan ekologi.

"Ini strategi adaptif dan solusi genetik yang elegan," kata Lee.

H. numata membangun keuntungan bersama-sama sambil menghentikan kombinasi yang timbul. Setiap anak lahir yang memiliki pewarnaan salah dengan cepat ditembak mati oleh burung, menghapus diri dari lahan gen dalam proses seleksi alam.

"Saya tidak bisa memikirkan solusi yang lebih baik selain ini," kata Lee.
  1. Mathieu Joron (CNRS UMR 7205, Muséum National d’Histoire Naturelle, CP50, 45 Rue Buffon, 75005 Paris, France; Institute of Evolutionary Biology, University of Edinburgh, Ashworth Laboratories, King’s Buildings, West Mains Road, Edinburgh EH9 3JT, UK; Institute of Biology, Leiden University, Postbus 9505, 2300 RA Leiden, The Netherlands) et.al. Chromosomal rearrangements maintain a polymorphic supergene controlling butterfly mimicry. Nature, 14 August 2011, DOI:10.1038/nature10341
Siu Fai Lee http://www.bio21.unimelb.edu.au/

Gambar : Mathieu Joron http://heliconius.zoo.cam.ac.uk/joron/
Tinuku Store