Perubahan Iklim Memukul Keragaman Genetik Samar

Tinuku
News KeSimpulan.com - Perubahan iklim memukul keragaman genetik. Kemungkinan hilangnya variasi 'samar' (cryptic) tantangan bagi konservasi.

Perubahan iklim merupakan ancaman tidak hanya keberadaan spesies individu, tetapi juga keragaman genetik tersembunyi di dalamnya. Temuan mempersulit penilaian bagaimana perubahan iklim mempengaruhi keanekaragaman hayati serta tugas pelestari lingkungan.

Penelitian DNA mengungkap spesies tradisional seperti yang didefinisikan oleh taksonomis mengandung sejumlah besar keragaman 'samar' seperti garis keturunan yang berbeda atau bahkan spesies dalam spesies.

Carsten Nowak, biolog konservasi di Senckenberg Research Institutes and Natural History Museum di Gelnhausen, Jerman, dan rekannya membuat upaya pertama untuk memahami bagaimana pemanasan global mempengaruhi bentuk keragaman.

Tim melihat serangga air sungai di Eropa, 9 spesies serangga terbang yang rentan peningkatan suhu. Mereka membutuhkan air dingin dan memiliki kemampuan terbatas untuk bermigrasi.

Nowak sequencing gen mitokondria, energi organel seluler yang memiliki genom kecil mereka sendiri sehingga peneliti dapat membagi masing-masing spesies menjadi beberapa evolutionary significant units (ESUs), istilah teknis suatu populasi dalam satu spesies yang secara genetik berbeda dari jenisnya.

"Keragaman genetik ini adalah bentuk paling mendasar dari keanekaragaman hayati, pada dasarnya adalah substrat untuk evolusi," kata Nowak.

Kemudian menganalisis apakah serangga terkait mampu mentolerir suhu yang lebih tinggi atau pindah ke tempat dingin menggunakan dua model yang dikembangkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Dalam skenario IPCC, 79% ESUs diproyeksi punah pada tahun 2080. Untuk skenario mengurangi emisi turun menjadi 59%. ESUs mengalami tingkat jauh lebih besar kepunahan spesies. Potensi evolusi hilang bisa menghambat kemampuan spesies beradaptasi.

"Studi ini menunjukkan bagaimana perubahan iklim global menyebabkan hilangnya sejumlah besar keanekaragaman tersembunyi, bahkan jika spesies tradisional yang didefinisi bertahan," kata Michael Balke, entomolog di Bavarian State Collection of Zoology di Munich, Jerman.

Tidak jelas bagaimana generalisasi pendekatan ini pada spesies lain dengan kekuatan yang berbeda dalam migrasi atau penyebaran.

"Jika peneliti dapat mencari cara untuk variabel kapasitas penyebaran, dampak terhadap keanekaragaman genetik menjadi jauh lebih reliabel," kata Jim Provan, genetikawan molekuler di Queen's University di Belfast, Inggris.

Steffen Pauls dari Biodiversity and Climate Research Centre di Frankfurt, Jerman, sependapat bahwa faktor-faktor tersebut juga penting.

"Kami berharap pendekatan ini akan dikembangkan lebih lanjut untuk menggabungkan kemampuan migrasi yang berbeda, jenis penyebaran dan adaptasi termal," kata Pauls.

Studi ini memprediksi hilangnya keanekaragaman genetik pada serangga terbesar di wilayah Mediterania sebagai wilayah dengan keragaman genetik terbesar.

"Untuk Eropa, ternyata keragaman genetik juga paling terancam punah," kata Nowak.

Kombinasi keragaman genetik dan kerentanan telah ditemukan pada spesies Mediterania lain seperti rumput laut Chondrus crispus yang bergeser ke utara selama 40 tahun terakhir. Bergesernya populasi ke utara sebagai usaha spesies beradaptasi pada suhu.

"Studi ini menyoroti potensi besar inisiatif sekuens DNA untuk mengungkap keanekaragaman samar, sangat penting untuk membuat keputusan informasi konservasi," kata Balke.

Adopsi perjanjian tahun lalu untuk mengelola dan berbagi manfaat ekonomi sumber daya genetik dunia dengan negara-negara berkembang yaitu Protokol Nagoya juga telah mendorong minat dalam katalogisasi keragaman genetik.

"Kita akan menentukan strategi adaptasi iklim, kita menyadari genetika adalah salah satu cara untuk mendapatkan pandangan lebih baik secara keseluruhan spesies dipengaruhi oleh perubahan iklim," kata Ahmed Djoghlaf, sekretaris eksekutif Convention on Biological Diversity di PBB.

"Negara-negara mulai berinvestasi lebih banyak untuk mendokumentasikan aspek genetik spesies dalam yurisdiksi nasional mereka," kata Djoghlaf.
  1. M. Bálint (Biodiversity and Climate Research Centre (BiK-F), Senckenberganlage 25, 60325 Frankfurt am Main, Germany; Molecular Biology Center, Babeş-Bolyai University, Treboniu Laurian 42, 400271 Cluj, Romania) et.al. Cryptic biodiversity loss linked to global climate change. Nature Climate Change, 1, 313-318, 21 August 2011, DOI:10.1038/nclimate1191
  2. Jim Provan and Christine A. Maggs (School of Biological Sciences, Queen's University Belfast, 97 Lisburn Road, Belfast BT9 7BL, UK) et.al. Unique genetic variation at a species's rear edge is under threat from global climate change. Proceedings of the Royal Society B, May 18, 2011, DOI:10.1098/rspb.2011.0536
Carsten Nowak http://www.bik-f.de/root/index.php?page_id=332
Michael Balke http://www.zsm.mwn.de/col/e/michaelbalke.htm
Jim Provan http://www.qub.ac.uk/schools/SchoolofBiologicalSciences/People/DrJimProvan/
Steffen Pauls http://www.bik-f.de/root/index.php?page_id=293
Ahmed Djoghlaf http://www.suscon.net/default.asp?Menue=58&News=26

Gambar : Martin Withers dalam http://www.wildaboutgardens.org/
Tinuku Store