Satu Antibodi Untuk Melawan Semua Strain Subtipe Influenza A

Tinuku
News KeSimpulan.com - Antibodi yang mengenali semua strain influenza A dapat menjadi awal langkah pengembangan vaksin universal.

Virus influenza terus bermutasi sehingga memaksa para ilmuwan mengejar ketinggalan dengan membuat vaksin musiman baru setiap tahun. Tapi Antonio Lanzavecchia, imunologi dari Institute for Research in Biomedicine di Bellinzona, Swiss, menemukan pintu vaksin universal.

Lanzavecchia mengatakan bahwa pengamatan respon kekebalan tubuh manusia untuk flu meyakinkannya untuk merancang vaksin melawan mutasi virus.

"Selama pandemi H1N1 2009, kami menemukan beberapa orang dengan antibodi untuk beberapa subtipe virus," kata Lanzavecchia.

Antibodi yang diproduksi oleh sel darah putih disebut sel B mengikat ke situs target tertentu, menonaktifkan virus sementara untuk dihancurkan oleh sel-sel kekebalan lainnya.

Untuk menguji reaktivitas silang antibodi influenza, tim peneliti menyaring sel-sel B dari 8 donor manusia yang telah terinfeksi atau diimunisasi strain influenza yang berbeda. Mereka mengambil sel B dalam respon imun awal ketika mengeluarkan antibodi yang paling beragam, setelah sekitar 104.000 sel B, serangan dilancarkan.

"Antibodi F16 kami adalah yang pertama ditemukan bereaksi terhadap semua subtipe 16 influenza A," kata Lanzavecchia melapor ke Science.

Temuan ini sejalan laporan penelitian lain tentang reaksi antibodi flu secara luas, tetapi hanya bisa mengikat virus grup 1 seperti 'flu babi' H1N1 dan flu burung H5N1 atau virus grup 2 yang meliputi strain flu musiman H3N2.

"Menemukan antibodi untuk semua strain satu kelompok menarik. Tapi satu untuk kedua kelompok adalah menakjubkan," kata Patrick Wilson, autoimunolog dari University of Chicago, Illinois.

Antibodi ini bukan vaksin, tapi bisa menjadi petunjuk untuk membuat satu saja. Para ilmuwan mengatakan protein kecil meniru bagian virus yang terikat oleh antibodi FI6 mungkin memdorong sistem kekebalan tubuh membuat antibodi reaktif silang.

Lanzavecchia menggunakan kristalografi sinar-X. Struktur menunjukkan antibodi FI6 mengikat area induk protein haemagglutinin influenza. Antibodi influenza yang paling mengikat area lebih mudah diakses haemagglutinin.

Karena banyak area tidak penting untuk fungsi virus maka bermutasi memungkinkan virus menghindari serangan kekebalan tubuh. Sebaliknya, area memiliki struktur yang mudah terganggu oleh mutasi sehingga membutuhkan stabilitas.

"Induk ini sangat baik dilestarikan antar subtipe influenza yang saya harapkan menjadi tekanan selektif tinggi terhadap mutasi di area ini," kata Wilson.

Wilson mengatakan ada peluang nyata vaksin berdasarkan punca haemagglutinin bisa bekerja pada manusia. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan tikus diimunisasi dengan protein yang melindungi terhadap beberapa strain influenza.

Meskipun Lanzavecchia mengakui bahwa mengembangkan situs FI6 mengikat ke vaksin baru butuh waktu bertahun-tahun. Antibodi itu sendiri dapat digunakan sebagai pengobatan sementara.

"Hewan-hewan selamat saat terinfeksi beberapa strain flu yang berbeda pada dosis yang biasanya sudah membunuh mereka. Pada manusia, bahkan mengurangi viral load 10% dapat membantu sembuh," kata Lanzavecchia.
  1. Davide Corti (Institute for Research in Biomedicine, 6500 Bellinzona, Switzerland; Humabs BioMed SA, 6500 Bellinzona, Switzerland) et.al. A Neutralizing Antibody Selected from Plasma Cells That Binds to Group 1 and Group 2 Influenza A Hemagglutinins. Science, 28 July 2011, DOI:10.1126/science.1205669
  2. Damian C. Ekiert (Department of Molecular Biology, The Scripps Research Institute, 10550 North Torrey Pines Road, La Jolla, CA 92037, USA) et.al. A Highly Conserved Neutralizing Epitope on Group 2 Influenza A Viruses. Science, 7 July 2011, DOI:10.1126/science.1204839
A. Lanzavecchia http://www.irb.ch/index.php?option=com_jresearch&view=member&task=show&id=50
Patrick Wilson http://biomed.uchicago.edu/common/faculty/wilson.html
Tinuku Store