Mikroba Komensal Usus Melatih Sel T Sebagai Kawan

Tinuku
News KeSimpulan.com - Bagaimana mikroba komensal usus melatih sistem kekebalan tubuh kita. Bakteri usus mampu membujuk sel T agar mereka bisa berteman.

Mikroba yang hidup dalam usus tikus membujuk sel kekebalan host agar berteman daripada memicu respon imun. Proses yang terjadi tidak dalam timus dimana sel-sel kekebalan tubuh biasanya dilatih, tapi tepat di halaman mikroba yaitu usus.

Kapasitas sistem kekebalan tubuh untuk menangkis penyerang yaitu kemampuan membedakan sel-sel diri dari sel-sel asing. Tugas ini dilakukan sebagian besar oleh jenis sel kekebalan yang disebut sel T.

Reseptor sel T mengenali sejumlah besar struktur kimia dikenal sebagai antigen. Pelatiahn sel T yang terjadi di timus menyajikan sejumlah besar antigen ciri khas dari sendiri dan bukan dari mikroorganisme.

Sel T dengan reseptor yang mengenali antigen diri berkembang menjadi regulator yang kemudian beredar ke seluruh tubuh, meredakan turun setiap potensi terhadap jaringan sendiri. Sisa sel T berkembang menjadi sel T efektor dengan peran memicu respon kekebalan terhadap apa pun yang tidak diakui sebagai diri.

Namun tidak semua partikel asing mendapat perintah penghancuran. Mikroba tidak berbahaya dan sering membantu dalam tubuh terhindar dari murka sistem imun, namun para peneliti tidak tahu bagaimana mekanismenya.

Sekarang Chyi-Song Hsieh, imunolog dari Washington University School of Medicine di St Louis, Missouri, dan rekannya melapor bahwa mikroba ini tampaknya memberi instruksi di lokal usus.

Penelitian sebelumnya menyarankan regulasi sel T bisa dibujuk di luar timus, tapi laporan baru menjadi demonstrasi pertama sel-sel perifer yang dihasilkan tersebut benar-benar ada, kata Kenya Honda, imunolog dari University of Tokyo School of Medicine.

Hsieh dan rekannya menemukan asam amino urutan regulasi reseptor sel T dalam usus tikus berbeda dari reseptor pada sel T pada organ lain.

"Ada sesuatu yang sangat berbeda pada usus besar dalam hal antigen yang disajikan," kata Hsieh.

Tim memeriksa apakah antigen regulasi sel T di usus besar menanggapi apa yang dihasilkan oleh bakteri atau sel-sel tikus. Para peneliti menggunakan vektor virus untuk mentransfer gen pada reseptor sel T dari dua titik ke sumsum tulang (di mana sel T berasal) tikus mutan.

"Ini sebuah penelitian tour de force yang secara sistematis meneliti sinyal-sinyal yang membimbing diferensiasi," kata Ivanov Ivaylo, imunolog dari Columbia University Medical Center di New York.

"Idenya bakteri komensal untuk beberapa alasan menginduksi regulasi sel T yang kemudian mendorong toleransi terhadap bakteri ini," kata Ivaylo.

Bagaimana sebenarnya yang terjadi masih belum diketahui, namun Hsieh mengatakan labnya bekerja untuk menjawab pertanyaan itu. Temuan sejauh ini menunjukkan mungkin ada mekanisme yang membedakan antara dua jenis berbeda dari bakteri asing yaitu persahabatan versus berbahaya.

"Mungkin Anda bisa menghasilkan regulasi yang spesifik untuk bakteri usus pasien, kemudian menanamkan ke dalam tubuh mereka," kata Hsieh.
  1. Stephanie K. Lathrop (Department of Medicine, Division of Rheumatology, Washington University School of Medicine, St Louis, Missouri 63110, USA; Laboratory of Intracellular Parasites, Rocky Mountain Laboratories, NIAID, NIH, Hamilton, Montana 59840) et.al. Peripheral education of the immune system by colonic commensal microbiota. Nature, 21 September 2011, DOI:10.1038/nature10434
Chyi-Song Hsieh http://immunobiology.wustl.edu/Hsieh-chyi-song.asp
Kenya Honda http://www.m.u-tokyo.ac.jp/english/
Ivanov Ivaylo http://www.cumc.columbia.edu/
Tinuku Store