Reboisasi Tidak Dapat Mengganti Habitat Hutan Tua

Tinuku
News KeSimpulan.com - Spesies terancam punah butuh hutan tua. Reboisasi hutan tidak dapat memecahkan masalah resiko dari kepunahan spesies.

Laporan temuan baru ini mengolok-olok saran bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dapat diatasi dengan pertumbuhan kembali hutan tropis.

"Pandangan bahwa kita tidak perlu khawatir masa depan keanekaragaman hayati karena ada regenerasi hutan adalah pikiran menyesatkan," kata William Laurance, ekolog dari James Cook University di Cairns, melapor ke Nature.

"Sebagian besar bentuk degradasi hutan memiliki efek sangat merugikan pada keanekaragaman hayati tropis," kata Laurance.

Hutan tua yang berisi pohon-pohon besar berumur 1000 tahun telah terganggu selama berabad-abad terakhir. Laurance mengatakan setengah hutan tua di dunia sepenuhnya telah terhapus dari peta.

Laurance dan rekannya membandingkan kelimpahan spesies di hutan tua dengan spesies di habitat lain termasuk hutan regenerasi, hutan bekas tebangan selektif, lahan perkebunan dan pertanian.

"Ketika Anda membandingkan berbagai jenis habitat, Anda menemukan hutan tua paling penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati," kata Laurance.

Beberapa biolog berpendapat regenerasi hutan dapat mempertahankan keanekaragaman hayati. Meskipun hal ini benar, mereka tidak dapat pengganti hutan tua, kata Laurance.

Spesies hidup di hutan tua sekitar 10-30 kali dibandingkan hutan lainnya. Sangat banyak spesies yang hanya bisa hidup pohon yang berlubang. Spesies membutuhkan habitat hutan tua.

"Anda cenderung menemukan spesies rawan punah hampir secara eksklusif di hutan hujan tua," kata Laurance.

Lantas apa yang harus dilakukan?

Laurance mengatakan hutan perlu dibiarkan tak terganggu selama sekitar 300 tahun untuk memenuhi syarat sebagai hutan tua. Di Amazon Brasil, area seukuran negara Prancis telah terhapus sedangkan pohon reboisasi rata-rata hanya berumur 6-7 tujuh tahun.

Bahkan, Laurance menemukan perbedaan dramatis kelimpahan spesies antara hutan tua dan hutan tebang selektif dimana hanya pohon tertentu yang ditebang dengan habitat asli tetap. Laurance mengatakan Indonesia memiliki 30.000 juta hektar hutan tebang selektif yang secara dramatis menghapus banyak spesies.
  1. Luke Gibson (Department of Biological Sciences, National University of Singapore, 14 Science Drive 4, Singapore 117543, Singapore) et.al. Primary forests are irreplaceable for sustaining tropical biodiversity. Nature, 14 September 2011, DOI:10.1038/nature10425
William Laurance http://www.jcu.edu.au/mtb/staff/academic/JCUPRD_054476.html
Tinuku Store