KeSimpulan.com Dokumentasi Berita Sains
(2008-2013)
HOME - ARSIP - PENCARIAN

Selasa, 06 September 2011

Sel Induk Harus Selamatkan Badak Putih Utara Dari Kepunahan

News KeSimpulan.com - Sel induk harus mencegah kepunahan. Badak Putih Utara tinggal 5 ekor di Bumi dan sudah putus asa kawin. Satu-satunya cara adalah sel induk.

Para ilmuwan berpikir keras karena 5 Badak Putih Utara (Ceratotherium simum cottoni) laki-laki sudah malas mencari cinta. Hanya 2 wanita tersisa dan kepunahan dalam waktu dekat tidak juga membuat badak terangsang untuk kawin.

"Cara terbaik untuk mengelola kepunahan adalah melestarikan spesies dan habitat tetapi itu tidak selalu berjalan," kata Oliver Ryder, direktur genetika di San Diego Zoo.

Bayi badak terakhir yang lahir terjadi pada tahun 2000. Situasi semakin gawat dan sekarang tidak ada jalan lain. Satu-satunya cara adalah menyemai sel induk. Bukan seks.

"Teknologi sel induk menyediakan harapan bahwa mereka tidak punah meskipun telah terhapus dari habitat," kata Ryder.

Sel-sel kulit beku dibuat sel induk yang bisa menjadi sel apapun termasuk sperma dan telur. Metode ini dapat digunakan untuk menghamili hewan mirip in vitro fertilisation (IVF).

Jeanne Loring dari Scripps Research Institute di La Jolla, California, dan tim menggunakan sampel beku hewan dalam es yang disebut Frozen Zoo yaitu kumpulan sel kulit lebih 8.600 hewan dari 800 spesies di San Diego Zoo Institute for Conservation Research, California.

"Jika segala sesuatu jatuh ke tempatnya dan semuanya berfungsi, ada cara untuk membuat hewan baru," kata Loring.

Para peneliti menggunakan virus untuk membuat 4 gen sel induk embrionik menjadi sel-sel kulit. Beberapa minggu kemudian para peneliti memiliki koloni induced pluripotent stem cells (iPSCs).

Para peneliti berharap iPSCs badak ke sel telur melalui teknik mirip IVF dan tidak memerlukan Badak Putih Utara hidup agar hamil.

Tapi mengubah iPSCs menjadi gamet sangat sulit. Sebelumnya para peneliti berhasil membujuk sel induk dari tikus dan manusia menjadi sel-sel germinal primordial yaitu nenek moyang sperma dan telur, tetapi memproduksi sel germ normal dapat meleset.

"Ini langkah besar berikutnya untuk mendapatkan iPSCs ke gamet fungsional," kata Debra Mathews, bioetikawan dari Johns Hopkins University di Baltimore, Maryland.

Namun demikian, "Apa yang kami lakukan adalah menciptakan sumber daya dan dunia konservasi tidak mampu memikirkan hal ini," kata Loring melapor ke Nature Methods.
  1. Inbar Friedrich Ben-Nun (Center for Regenerative Medicine, Department of Chemical Physiology, The Scripps Research Institute, La Jolla, California, USA) et.al. Induced pluripotent stem cells from highly endangered species. Nature Methods, 04 September 2011, DOI:10.1038/nmeth.1706
Jeanne Loring http://www.scripps.edu/loring/people.html
Debra Mathews http://www.bioethicsinstitute.org/mshome/?ID=75
Oliver Ryder http://www.sandiegozoo.org/conservation/about/administrators/oliver_ryder_ph.d/

San Diego Zoo Institute http://www.sandiegozoo.org/conservation/

Gambar : San Diego Zoo Library http://library.sandiegozoo.org/

Artikel Lainnya:

Jurnal Sains