Asteroid 21 Lutetia Lebih Padat Dari Batu Granit

Tinuku
News KeSimpulan.com - Asteroid adalah sampah sistem surya ketika planet terbentuk. Tapi asteroid 21 Lutetia mengempal dan hampir tak tersentuh sejak kelahiran Tata Surya.

"Kami pikir planet terbentuk seperti Lutetia. Kita mendapat kesempatan melihat salah satu arsitektur sistem surya dari dekat," kata Ben Weiss, planetolog Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge.

10 Juli 2010, wahana Rosetta Eropa mendekati Lutetia pada jarak terdekat 3.162 kilometer dengan kecepatan 50.000 kilometer per jam saat memotret asteroid selebar 121 kilometer dan berkawah.

Lutetia adalah asteroid kedua terbesar yang pernah dikunjungi pesawat ruang angkasa setelah NASA Down berkunjung ke Vesta selebar 560 kilometer.

Umumnya asteroid adalah potongan puing-puing longgar lalu mengumpal karena gravitasi. Tapi Lutetia begitu padat yang tampaknya selamat dan utuh selama benturan di awal tata surya.

"Hal baru yang sebenarnya bukan tumpukan puing-puing, ini batu solid. Benar-benar produk awal Tata Surya," kata Holger Sierks, planetolog Max-Planck Institute for Solar System Research di Jerman.

Lutetia menjadi form batu kepadatan tertinggi yang pernah diukur yaitu 3,4 ton per meter kubik. Lebih padat dibanding granit, mungkin logam berat dalam care.

Jika demikian maka pernah berbentuk cair sehingga elemen berat tenggelam ke pusat saat juta tahun pertama tata surya ketika radioaktif aluminium-26 cukup untuk melelehkan batu angkasa.

Situs Rosetta : http://www.esa.int/esaMI/Rosetta/

Anehnya, instrumen optik Rosetta menunjukkan permukaan dalam kawah tidak memberi tanda tangan interior dipenuhi dengan logam berat.

"Kontradiksi tampak antara suite meteorit dan asteroid," kata Weiss.

Jadi pernah meleleh dari batuan ruang angkasa yang terbentuk periode sangat awal Tata Surya sebelum aluminium radioaktif memiliki paruh pembusukan 700.000 tahun.

"Kita tidak tahu banyak komposisi material. Untuk itu kita harus menganalisis in situ atau mengambil sampel dan membawa kembali ke Bumi untuk analisis laboratorium," kata Weiss.
  1. M. Pätzold (Rheinisches Institut für Umweltforschung, Abteilung Planetenforschung, an der Universität zu Köln, 50931 Cologne, Germany) et.al. Asteroid 21 Lutetia: Low Mass, High Density. Science 28 October 2011: Vol.334 no.6055 pp.491-492, DOI:10.1126/science.1209389
  2. H. Sierks (Max-Planck-Institut für Sonnensystemforschung, Max-Planck-Strasse 2, 37191 Katlenburg-Lindau, Germany) et.al. Images of Asteroid 21 Lutetia: A Remnant Planetesimal from the Early Solar System. Science 28 October 2011: Vol.334 no.6055 pp.487-490, DOI:10.1126/science.1207325
  3. A. Coradini (Istituto di Fisica dello Spazio Interplanetario, Istituto Nazionale di Astrofisica (INAF), 00133 Rome, Italy) et.al. The Surface Composition and Temperature of Asteroid 21 Lutetia As Observed by Rosetta/VIRTIS. Science 28 October 2011: Vol.334 no.6055 pp.492-494, DOI:10.1126/science.1204062
  4. Benjamin P. Weiss (Department of Earth, Atmospheric, and Planetary Sciences, Massachusetts Institute of Technology, Cambridge, MA, USA) et.al. Possible evidence for partial differentiation of asteroid Lutetia from Rosetta. Planetary and Space Science, 8 October 2011, DOI:10.1016/j.pss.2011.09.012

Ben Weiss http://eapsweb.mit.edu/people/person.asp?position=Faculty&who=weissb
Holger Sierks http://www.mpg.de/151101/sonnensystemforschung

ESA Rosetta http://www.esa.int/esaMI/Rosetta/

Gambar : ESA 2010 MPF for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/RSSD/INTA/UPM/DASP/IDA

Tinuku Store