Fluktuasi Radiasi Ultraviolet Matahari Pengaruhi Iklim Dingin

Tinuku
News KeSimpulan.com - Orang-orang di wilayah tropis mengeluh ketika terlalu panas, namun orang di belahan Bumi utara mengeluh ketika musim dingin jadi sangat dingin.

Musim dingin yang keras di Amerika utara dan Eropa Utara mungkin sebagian hasil dari perubahan radiasi ultraviolet yang datang dari Matahari.

Sebuah penelitian simulasi iklim menunjukkan bagaimana fluktuasi sinar ultraviolet terkait dengan siklus dekadal 11 tahun aktivitas Matahari yang mengubah pola cuaca musim dingin di belahan Bumi Utara.

"Kami berharap dapat meningkatkan akurasi prediksi," kata Adam Scaife, klimatolog simulator dari Met Office’s Hadley Centre di Exeter, Inggris, melapor ke Nature Geoscience.

Para ilmuwan telah lama mencatat korelasi anekdot aktivitas Matahari yang rendah dan musim dingin Eropa. Bagian dari Little Ice Age yang mencengkeram wilayah tersebut sekitar tahun 1550 dan 1850 bertepatan dengan sejumlah rekor terendah bintik Matahari.

Tapi sampai sekarang tidak ada penjelasan bagaimana perubahan halus radiasi yang memukul bagian atas atmosfer Bumi bisa menerjemahkan perubahan pola cuaca di permukaan.

Jawaban pertama datang dari wahana Solar Radiation and Climate Experiment. Pada tahun 2004 hingga 2007 selama poin terendah siklus Matahari terakhir, satelit mengukur penurunan jumlah radiasi ultraviolet Matahari.

"Saya pikir, kalau benar, menjadi sesuatu yang menarik untuk sistem iklim," kata Scaife.

Untuk mengujinya, para ilmuwan menempatkan penurunan ultraviolet ke dalam program komputer yang dapat mensimulasikan bagaimana laut dan atmosfer merespon perubahan tersebut.

Angin mendinginkan bagian atas atmosfer, anomali bertambah besar dimana pola cuaca terbentuk. Ada perubahan bagaimana badai biasanya akan tumbuh sehingga lebih membentuk cuaca dingin Eropa dan Amerika Utara.

Perubahan ini hanya terjadi di musim dingin dan tidak setiap siklus minimal Matahari. Namun seiring waktu, para ilmuwan menemukan pola dingin selama Surya minimum dibanding selama Surya maksimum.

"Ini mengubah kemungkinan musim dingin. Anda akan mendapatkan jumlah yang signifikan," kata Scaife.

Penelitian baru tidak dapat mengatakan banyak apakah perubahan radiasi Matahari mempengaruhi suhu global. Scaife mengatakan faktor alam lain juga mempengaruhi kuatnya musim dingin termasuk letusan gunung berapi dan semi-reguler pola cuaca seperti El NiƱo.

Model menangkap semua langkah di atmosfer, tetapi detail-detail kecil seperti bagaimana hangat atau dingin dari daratan membuat sulit prediksi perubahan cuaca lokal.
  1. Sarah Ineson (Met Office Hadley Centre, FitzRoy Road, Exeter, Devon EX1 3PB, UK) et.al. Solar forcing of winter climate variability in the Northern Hemisphere. Nature Geoscience, 09 October 2011, DOI:10.1038/ngeo1282
Adam Scaife http://www.metoffice.gov.uk/research/people/adam-scaife

Gambar : http://www.metoffice.gov.uk/
Tinuku Store