Panjang Umur Diwariskan Melalui Mekanisme Non-DNA

Tinuku
News KeSimpulan.com - Panjang umur diwariskan melalui mekanisme Non-DNA. Perubahan enzim tidak hanya memperpanjang umur tetapi juga diwariskan beberapa generasi.

Oktober 2009, genetikawan Stanford University Anne Brunet yang sedang duduk santai di kantornya mendapat pertanyaan agak menyimpang dari mahasiswa pascasarjana Eric Greer.

"Bagaimana jika memperpanjang umur hidup cacing menggunakan enzim SET2 untuk mempengaruhi masa hidup keturunannya, bahkan jika keturunan memiliki enzim normal?" kata Brunet.

Bukan sebuah pertanyaan ortodoks, "gagasan Lamarck bahwa Anda dapat mewarisi sifat-sifat yang selama ini dianggap palsu oleh biolog selama bertahun-tahun."

Tahun 1809, biolog Jean-Baptiste Lamarck mengusulkan teori sifat-sifat yang ditunjukkan suatu organisme selama hidup ditambahkan ke keturunannya. Kemudian Charles Darwin menangkap pikiran Lamarck pada tahun 1859.

Baru-baru ini, para ilmuwan baru sadar perilaku suatu organisme dan lingkungan mempengaruhi gen lolos ke keturunannya. Heritabilitas sifat-sifat diperoleh tidak didasarkan pada DNA tetapi pada perubahan kemasan molekul yang mengelilingi gen.

Sekarang Brunet dan Greer memberi bukti pertama beberapa aspek umur panjang diwariskan orang tua kepada keturunannya, independen dari pengaruh langsung DNA.

"Saya rasa ini temuan fundamental penting. Pertama kalinya umur dipengaruhi perubahan epigenetik yang terjadi pada generasi sebelumnya," kata Matt Kaeberlein dari University of Washington di Seattle.

Cacing Caenorhabditis elegans dengan SET2 sangat rendah dimana enzim biasanya menambahkan molekul metil ke materi kemasan DNA protein. Dengan demikian enzim membuka materi kemasan dan memungkinkan gen disalin.

Efek perpanjangan umur terbawa ke generasi ketiga, namun kembali normal untuk generasi keempat (setelah cicit cacing mutan). Peningkatan harapan hidup dari 20 hari hingga 25 hari atau memperpanjang umur 25-30 persen rata-rata.

"Adalah efek epigenetik dan mungkin salah satu ciri yang paling rumit yang telah dikaitkan dengan pewarisan epigenetik," kata David Katz dari Emory University.

Epigenetika berdampak pada sifat kompleks seperti rentang kehidupan yang membuat ilmuwan penasaran untuk mencari tahu jenis lain seperti sifat kerentanan penyakit, metabolisme dan perkembangan pola warisan epigenetisasi.

Karena efek epigenetik dapat dimodifikasi oleh rangsangan lingkungan, maka beberapa sifat-sifat dapat ditentukan, setidaknya sebagian oleh lingkungan dan gaya hidup orang tua, kakek-nenek atau bahkan kakek-nenek buyut.

"Cacing memiliki kehidupan sangat singkat. Apakah efek berlaku untuk mamalia? Kami sangat antusias untuk mencari tahu," kata Brunet.
  1. Eric L. Greer (Department of Genetics, Stanford University, 300 Pasteur Drive, Stanford, California 94305, USA; Cell Biology Department, Harvard Medical School and Division of Newborn Medicine, Children’s Hospital, 300 Longwood Avenue, Boston, Massachusetts 02115, USA) et.al. Transgenerational epigenetic inheritance of longevity in Caenorhabditis elegans. Nature, 19 October 2011, DOI:10.1038/nature10572
Anne Brunet http://www.stanford.edu/group/brunet/
Eric L. Greer http://www.stanford.edu/group/brunet/
Matt Kaeberlein http://kaeberleinlab.org/
David Katz http://cellbio.emory.edu/lab/katz/katz.htm

Gambar : Xiaoyue Wang dan Ralf Sommer, DOI:10.1371/journal.pbio.1001110.g006
Tinuku Store