Teleskop Radio Darat Raksasa ALMA Telah On Air

Tinuku
News KeSimpulan.com - Pedal kopling dilepas dan teleskop radio ALMA merilis tes pertama, panorama spektakuler terbentuknya bintang hasil tumbukan di Galaksi Antennae.

ALMA melihat patch oranye dan kuning penyemaian bintang berjarak 80 juta tahun cahaya dimana instrumen lain termasuk Hubble Space Telescope hanya melihat bercak biru, putih dan merah muda.

Tes awal menandai observatorium berbasis darat paling kompleks Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di gurun dataran tinggi 16.500 kaki di Chile utara sudah siap bekerja.

Ribuan ilmuwan seluruh dunia berkompetisi menjadi peneliti pertama mengeksplorasi objek paling tersembunyi di kosmos. Salah satu proyek awal ALMA Sains dilakukan Daud Wilner dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics (CFA).

"Tim kami berburu untuk sistem surya dan ALMA secara unik dilengkapi untuk melihatnya," kata Wilner.

Target Tim Wilner adalah AU Microscopii, bintang 33 tahun cahaya yang hanya berumur 50 juta tahun. Mereka akan berbagi data dengan tim Eropa yang juga meminta pengamatan bintang ini.

"Kami menggunakan ALMA untuk melihat 'cincin kelahiran' planetesimal yang mengorbit bintang muda. Hanya dengan ALMA kita menemukan planet yang tertutup sabuk asteroid berdebu," kata Wilner.

Bahkan saat masih dibangun, ALMA menjadi teleskop terbaik di dunia dan para astronom tidak segan menempati daftar tunggu untuk menggunakannya. Mengingat terbatasnya jumlah jam yang dialokasikan maka tahap pertama ALMA hanya menjalankan sekitar 100 proyek.

"Kami terkejut menerima lebih dari 900 permohonan dari seluruh dunia!" kata Lewis Ball, Deputi Direktur ALMA dan Kepala Staf ALMA di National Radio Astronomy Observatory (NRAO).

"Tidak ada teleskop lain di darat atau di ruang yang mendapat permintaan sebanyak itu," kata Ball.

Proyek-proyek yang dipilih berdasarkan pada nilai ilmiah, keragaman wilayah, dan relevansinya dengan tujuan utama sains ALMA.

"M di ALMA singkatan gelombang 'milimeter/submillimeter' karena melihat alam semesta dalam cahaya gelombang panjang, lebih panjang dari cahaya optik yang dilihat dengan mata kita," kata Alison Peck, astronom NRAO di ALMA Deputy Project Scientist selama konstruksi.

ALMA http://science.nrao.edu/facilities/alma
ALMA Explorer http://www.nrao.edu/explorer/alma/

"Dengan gelombang milimeter dan submillimeter, kita melihat terbentuknya planet, astrokimia dan melacak cahaya yang akhirnya mencapai awal alam semesta," kata Peck.

ALMA akan melanjutkan fase konstruksi Andes Chili di Dataran tinggi Chajnantor yang terpencil di Gurun Atacama. Tahun 2013, ALMA memiliki lebar array 11 mil dari 66 ultra-presisi teleskop radio milimeter/submillimeter sebagai satu kesatuan yang dibangun oleh mitra multinasional di Amerika Utara, Asia Timur, dan Eropa.

CFA; NRAO/AUI/NSF; ALMA (ESO/NAOJ/NRAO); HST (NASA, ESA, and B. Whitmore - STScI); J. Hibbard (NRAO/AUI/NSF); NOAO/AURA/NSF.
Tinuku Store