Docking Shenzhou 8 Ujian Terberat Teknologi Terbaru China

Tinuku
News KeSimpulan.com - Selasa lalu China meluncurkan wahana tanpa awak menjelang latihan docking dalam usaha mengamankan pijakan jangka panjang eksplorasi ruang.

Long March meroket dari barat laut China sebelum fajar ke orbit awal 200 km di atas Bumi. Dalam dua hari, Shenzhou 8 akan bergabung dengan modul Istana Surgawi Tiangong 1 di orbit 340 km.

Tiangong 10,5 meter panjang dan tak berawak diluncurkan 29 September lalu merupakan bagian dari persiapan eksplorasi China membangun sebuah laboratorium ruang.

Rendezvous dan latihan docking dua modul menjadi ujian terberat upaya China menaklukkan teknologi dan logistik untuk menjalankan laboratorium ruang yang dihuni astronot secara permanen.

"Menguasai teknologi dan docking meletakkan dasar kuat bagi China membangun stasiun ruang angkasa," kata Zhou Jianping, kepala desainer China's Manned Space Engineering Project, kepada Xinhua.

"Begitu kita menguasai teknologi ini, kita memiliki teknologi dasar dan kemampuan membangun stasiun ruang angkasa dan ini membuka kemungkinan lebih besar aktivitas di ruang," kata Zhou.

Para insinyur China harus menjaga tekanan, suhu dan kelembaban Tiangong 1, kata Gregory Kulacki, manajer China Project dan U.S. based Union of Concerned Scientists.

"Memastikan parameter-parameter tersebut stabil sebelum, selama dan setelah docking menentukan apakah misi ini berhasil atau gagal," kata Kulacki.

Beijing masih jauh tertinggal dibanding Amerika Serikat dan Rusia. Tiangong 1 adalah modul eksperimen, bukan bangunan sebuah stasiun ruang angkasa. Namun, misi docking menunjukkan kehebatan terbaru China.

Jika misi ini sukses, tahap selanjutnya dua latihan docking yang sama pada tahun 2012 dengan setidaknya membawa satu astronot. Para pengamat tidak terkejut sebuah laboratorium ruang baru bertengger di orbit dalam beberapa tahun ke depan.

China ingin memiliki sebuah stasiun ruang angkasa lengkap seberat 60 ton pada tahun 2020 dan negara masih mengembangkan roket yang mampu membawa muatan besar tersebut.

"Saya tidak berpikir mereka sedang terburu-buru. Mereka memprioritaskan keselamatan dan keberhasilan daripada kecepatan," kata Kulacki.

Rusia, Amerika Serikat dan negara lain bersama-sama mengoperasikan 400 ton Stasiun Luar Angkasa Internasional tanpa China. Negara-negara lain sepakat mengabaikan China karena khawatir aplikasi untuk militer.

Sementara pemotongan anggaran dan pergeseran prioritas telah membatasi AS meluncurkan wahana berawak. AS tidak akan meroketan crew ke ruang sampai tahun 2017 dan Rusia mengatakan misi berawak tidak lagi prioritas.

Sedangkan Rusia meluncurkan awak ke ruang angkasa pertama untuk memasok Stasiun Luar Angkasa Internasional pada Minggu setelah Soyuz hancur meledak Agustus lalu.

NASA masa depan lebih fokus untuk Mars dan Presiden AS Barack Obama telah mencanangkan ekspedisi awak ke asteroid pada tahun 2025 dan perjalanan ke Mars pada tahun 2030.


Video : ITNnews's Channel http://www.youtube.com/user/itnnews

Tinuku Store