Kondisi Mendukung Rute Selatan Migrasi Out of Africa

Tinuku
News KeSimpulan.com - Manusia modern berevolusi di Afrika 200.000 tahun lalu kemudian meninggalkan benua itu untuk mengisi wilayah di seluruh dunia.

Jika Anda melihat peta, tampak rute terbaik melalui utara Mesir, Semenanjung Sinai, Israel dan Yordania. Tapi makin banyak bukti leluhur kita mengambil jalur disebut southern route dari Tanduk Afrika, menyeberangi Laut Merah dan selatan Arab Saudi.

Bukti genetik dan arkeologi menunjukkan rute selatan menjadi alternatif selain utara hingga leluhur mencapai Asia antara 80.000 hingga 60.000 tahun lalu dan tanpa melewati Eropa hingga puluhan ribu tahun kemudian.

Jalur pintas di Semenanjung Arab mungkin cara tercepat bagi leluhur Asia selatan. Para peneliti menemukan bukti manusia awal memang ke tenggara Saudi lebih awal dibanding perkirakan sebelumnya.

Simon Armitage, geoarkeolog Royal Holloway, University of London, dan rekannya melapor temuan alat-alat batu di situs Jebel Faya, Uni Emirat Arab, hanya 35 mil dari Teluk Persia.

Perkakas batu dan kapak tangan berdating 125.000 tahun lalu. Tidak tahu apakah orang-orang membuat alat untuk mengeksplorasi batas-batas baru lainnya atau hanya tetap tinggal di sana.

Geolog berpikir bagaimana manusia modern berangkat dari Afrika. Di Saudi terhampar pasir luas pada hari ini, tapi siklus iklim bergantian antara padang pasir dan padang rumput.

Thomas Rosenberg, geolog Universität Bern di Swiss melapor ada "jendela kesempatan" bagi manusia. Deposit di barat daya Arab Saudi mencatat kehadiran air tawar dangkal sekitar 80.000, 100.000 dan 125.000 tahun lalu sebagai tanda iklim ramah

Namun tidak berarti lingkungan ramah maka layak dilewati manusia. Laut Merah tidak statis seiring waktu. Permukaan laut naik dan turun dibentuk oleh lembaran es yang membeku dan mencair. Aktivitas tektonik menaikkan atau menurunkan dasar laut.

Kurt Lambeck dari Australian National University di Canberra dan rekannya melihat masalah ini dengan mempelajari permukaan dan topografi dasar laut kuno untuk merekonstruksi garis pantai kuno.

Setidaknya 400.000 tahun terakhir tidak pernah ada jembatan tanah yang menghubungkan Afrika dan Arab selatan. Tapi selama 150.000 tahun terakhir ada periode ketika lebar celah dua daratan kurang dari 2,5 mil.

Manusia tidak membutuhkan perahu canggih atau teknologi kelautan. Rakit sederhana sudah cukup. Periode ini menguntungkan karena bertepatan dengan periode lingkungan Arab Saudi basah.

Para peneliti masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum teori southern route mapan. Tapi tidak banyak penelitian dilakukan. Pada hari ini wilayah negara tersebut adalah tempat yang sulit untuk melakukan penelitian lapangan.
  1. Kurt Lambeck (Research School of Earth Sciences, The Australian National University, Canberra 0200, Australia; Département des Géosciences, École Normale Supérieure, 24, rue Lhomond, 75231 Paris, CEDEX 05, France) et.al. Sea level and shoreline reconstructions for the Red Sea: isostatic and tectonic considerations and implications for hominin migration out of Africa. Quaternary Science Reviews, Volume 30, Issues 25-26, December 2011, Pages 3542-3574, DOI:10.1016/j.quascirev.2011.08.008
  2. T.M. Rosenberg (Institute of Geological Sciences, University of Bern, 3012 Bern, Switzerland; Oeschger Centre for Climate Change Research, University of Bern, 3012 Bern, Switzerland) et.al. Humid periods in southern Arabia: Windows of opportunity for modern human dispersal. Geology, October 21, 2011, DOI:10.1130/G32281.1
  3. Simon J. Armitage (Department of Geography, Royal Holloway, University of London, Egham, Surrey TW20 0EX, UK) et.al. The Southern Route “Out of Africa”: Evidence for an Early Expansion of Modern Humans into Arabia. Science, 28 January 2011: Vol.331 no.6016 pp.453-456, DOI:10.1126/science.1199113

Simon Armitage http://www.gg.rhul.ac.uk/armitage/
Thomas Rosenberg http://www.geo.unibe.ch/people/rosenberg/person.php?PID=20793928
Kurt Lambeck http://people.rses.anu.edu.au/lambeck_k/

Gambar : Science/AAAS

Tinuku Store