Mampukah Iran Membangun Hulu Ledak Senjata Nuklir

Tinuku
News KeSimpulan.com - Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) mengatakan Iran diam-diam mengembangkan senjata nuklir.

IAEA dalam laporan 8 November lalu mengatakan berbagai proyek klandestin tampaknya Iran melakukan upaya-upaya terpadu sejak tahun 1998 dan 2003 untuk mengembangkan bom nuklir.

Beberapa pertanyaan paling penting apakah Iran memiliki grade senjata diperkaya uranium-235 dan jika ya berapa banyak?

Laporan IAEA terbaru belum pernah terjadi sebelumnya dengan detail skala tentang ambisi program senjata rahasia nuklir asli Iran yang disebut "Amad".

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, selalu mengulang di Al-Jazeera bahwa program nuklir negara itu murni untuk sipil.

Namun paling penting adalah detail teknis program pengayaan yang mungkin dilakukan sejak tahun 2003. IAEA mengatakan sumber laporan setebal 1000 halaman adalah informasi dari 10 negara dan data yang dikumpulkan dari inspeksi di Iran.

Senjata grade uranium atau plutonium adalah awal bom nuklir. Namun sejumlah teknologi kompleks lainnya juga diperlukan dan itulah yang membuat laporan IAEA begitu menarik.

Apakah Iran mampu membuat senjata nuklir?

Begitu sebuah negara memiliki cukup uranium untuk bom maka perlu mengembangkan wadah di mana material dapat segera dikompresi atau meledak, sehingga cukup padat reaksi berantai nuklir untuk memulai.

Kompresi ini membutuhkan detonator mikroskopis di bagian dalam wadah, tersetel untuk ON secara simultan dan dengan kekuatan tepat memicu ledakan nuklir. Sebuah bom juga membutuhkan sumber neutron untuk memicu reaksi berantai.

Bahkan jika suatu negara menyelesaikan semua masalah tersebut masih perlu memastikan bom bertahan di hulu rudal hingga sampai tujuan. Perlu fasilitas dan program komputasi untuk mengembangkan dan uji fisik semua teknologi.

Melalui proyek "green salt", Iran mencari sumber uranium yang cocok bagi pengayaan material grade senjata karena bahan bakar nuklir sipil kurang dari 1 persen uranium. Namun pengadukan berulang maka konten dapat menjapai 80 atau 90 persen.

Iran telah membangun setidaknya 2 fasilitas pengayaan bahan bakar yaitu Natanz dan Fordow yang sejak tahun 2005 mampu memperkaya 20 persen uranium.

Mark Fitzpatrick, analis di International Institute for Strategic Studies (IISS) mengatakan jika persediaan uranium tersebut terus diperkaya maka cukup untuk 2 senjata nuklir dalam waktu 2 tahun. Tetapi untuk hulu ledak memerlukan bertahun-tahun di fasilitas klandestin.

"Untungnya, Iran tidak mampu menjaga kerahasiaan fasilitas," kata Fitzpatrick.

IAEA menemukan bukti Iran mengembangkan komponen yang dapat diaplikasi di senjata nuklir termasuk detonator canggih dan "multipoint initiation systems" yang mengatur gelombang ledakan untuk menghasilkan kompresi material nuklir.

IAEA menemukan bukti dari kamera canggih kecepatan tinggi yang memonitor gelombang kejut. Bukti penguat adalah dimensi dan detonator persis sama pada muatan sistem rudal Shahab 3 yang dapat membawa materi nuklir.

Melalui Project 111, insinyur melakukan eksperimen tekanan yang dirancang untuk memastikan sebuah bom bisa bertahan tidak meledak selama penerbangan.

Banyak pengembangan bom nuklir bergantung pada pengujian materi pengganti dan IAEA menemukan dokumen yang menunjukkan Iran menggunakan tungsten sebagai bahan simulasi peledak nuklir.

Melalui eksperimen "hydrodynamic", tungsten dipanaskan dan dikompresi seperti bahan bakar nuklir untuk membentuk senyawan cair.

Selain itu, citra satelit mengidentifikasi silinder besar dan dideklarasikan hingga 70 kilogram bahan peledak dengan aman dan diledakkan dalam model eksperimen kompresi dan detonasi.

IAEA mengatakan informasi tahun 2008 dan 2009 menunjukkan Iran telah menggunakan program komputer canggih dan model simulasi interaksi gelombang kejut logam, arus neutron dan efek kompresi. Ini hanya semacam data persiapan yang diperlukan untuk membangun sebuah hulu ledak.

Salah satu tujuan Proyek 111 adalah mengembangkan sistem prototipe tembak yang memungkinkan sebuah bom meledak di udara, jadi bukan pada dampak. Para ahli IAEA mengatakan satu-satunya aplikasi adalah senjata nuklir dibanding senjata kimia atau jenis lainnya.

Namun analisis yang paling penting jika Iran tidak memiliki ambisi senjata nuklir untuk militer, mareka secara mandiri tidak akan mampu melewati tahapan tersebut sejak tahun 2003 dan pada hari ini masih pada tahap sangat dasar.

Jadi, apakah Iran mampu membuat senjata nuklir?

"Tidak ada indikasi Iran menguasai berbagai proses yang terlibat dalam desain dan pembuatan senjata nuklir," kata Fitzpatrick.

"Gedung Putih sudah tepat bahwa AS terus fokus menggunakan saluran diplomatik untuk meminta Iran agar meninggalkan kegiatan nuklirnya," kata Fitzpatrick.


International Atomic Energy Agency http://www.iaea.org/
US Arms Control Association http://www.armscontrol.org/
Mark Fitzpatrick http://www.iiss.org/about-us/staffexpertise/list-experts-by-name/mark-fitzpatrick/

Tinuku Store