Ujicoba VOICE Gel Vagina Tenofovir Pencegah HIV Gagal

Tinuku
News KeSimpulan.com - Berita mengecewakan bagi perempuan karena US National Institutes of Health menghentikan uji klinis vagina dengan gel tenofovir pencegah HIV.

Sebuah studi Vaginal and Oral Interventions to Control the Epidemic (VOICE) di sub-Sahara Afrika dalam untuk mengatasi penularan heteroseksual HIV dihentikan karena data tidak konsisten.

Hasil kemunduran setelah hasil positif tahun 2009, ketika wanita pengguna gel mengurangi risiko infeksi 39 persen dibanding plasebo.

VOICE dimulai 2 tahun lalu di Afrika Selatan, Uganda dan Zimbabwe gagal mengulangi keberhasilan 2009.

Dari 2.000 wanita yang berpartisipasi, 6 persen terinfeksi HIV baik pengguna gel ataupun plasebo.

Penerapan prosedur gel mungkin menjadi faktor. Pada ujicoba 2009 di Afrika Selatan disebut CAPRISA 004, wanita menggunakan pra dan pasca berhubungan seks.

Namun penerapan pra dan pasca sering gagal tanpa pantauan sehingga VOICE mencoba lebih praktis dengan sekali sehari.

"Ini bukan akhir riwayat gel, tapi kita perlu menjelaskan hasil terbaru untuk menginformasikan apa yang harus dilakukan selanjutnya," kata Patrick Kiser dari University of Utah di Salt Lake City

VOICE menguji 3 strategi berbeda yang disebut Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP). Selain gel vagina dicampur tenofovir, VOICE juga mengevaluasi penggunaan sehari-hari tenofovir oral dan Truvada.

"Saya senang jawaban sangat jelas," kata Sharon Hillier dari University of Pittsburgh sebagai kepala Microbicide Trials Network.

Pada bulan September, VOICE menghentikan tenofovir oral. Beberapa wanita terus dalam penelitian untuk mengevaluasi Truvada dibandingkan plasebo.

"Saya tidak berpikir siapa saja yang dicurigai bahwa gel tenofovir tidak akan berhasil," kata John Moore, imunolog mikrobisida dari Weill Cornell Medical College di New York City.

Connie Celum, epidemiolog University of Washington, Seattle, yang menjalankan studi PrPP oral dan Truvada dengan efikasi 73%, mengatakan penting untuk membandingkan variabel terkait perilaku seksual, infeksi, radang cervicovaginal, dan kontrasepsi.

"Sementara kita menunggu data VOICE, saya pikir perlu menyadari pentingnya ujicoba di populasi berbeda karena kita sering tidak bisa memprediksi hasilnya," kata Celum.

VOICE http://www.niaid.nih.gov/news/newsreleases/2009/Pages/VOICE.aspx
CAPRISA 004 http://www.caprisa.org
Patrick Kiser http://www.bioen.utah.edu/directory/profile.php?userID=51
Sharon Hillier http://www.gradbiomed.pitt.edu/mvm/faculty.asp?ID=87
John Moore http://www.med.cornell.edu/research/jpmoore/
Connie Celum http://sph.washington.edu/faculty/fac_bio.asp?url_ID=Celum_Connie

Gambar : USAID

Tinuku Store