Evolusi Mekanisme Ereksi Penis Burung Unta dan Emu

Tinuku
News KeSimpulan.com - Ereksi penis menjawab misteri evolusi. Sebuah pertanyaan lama bagaimana evolusi ereksi penis spesies burung mungkin sedikit terang.

Reptil dan mamalia memperbesar ereksi penis menggunakan sistem vaskular darah namun Burung Unta dan Emu memperbesar ereksi penis mereka menggunakan cairan limfatik.

"Kami menunjukkan mekanisme evolusi ereksi limfatik terjadi pada nenek moyang semua burung," kata Patricia Brennan, bioevolusionis University of Massachusetts Amherst.

Burung Unta (Struthio camelus) dan Emu (Dromaius novaehollandiae) adalah anggota ratite yaitu burung terbang termasuk Rhea dan Kiwi.

Semua ratite laki-laki memiliki penis seperti halnya itik dan rekan lainnya.

Tapi burung tanpa kecuali kawin dengan 'ciuman kloaka' singkat di mana laki-laki mengirim sperma melalui kloaka. Port sama digunakan untuk kencing. Keberadaan penis limfatik pada burung meninggalkan teka-teki evolusi.

"Anehnya, burung berevolusi bukan hanya struktur baru, tapi novel baru yang dulu pernah dilakukan," kata Richard Prum, ornitolog Yale University di New Haven, Connecticut.

Pada tahun 1836, sebuah penelitian di Jerman menunjukkan ereksi burung berbasis darah. Tapi penelitian tahun 1923 mengklaim mekanisme ereksi berbasis lymphatic.

Untuk menyelesaikan pertanyaan, Prum dan Brennan mengeledah alat kelamin Burung Unta dan Emu. Kedua spesies memiliki spons, getah bening produsen jaringan disebut paralymphatic tepat di bawah otot pengontrol sistem lymph.

Ereksi burung dikendalikan oleh sistem getah bening. Namun asal getah bening pendorong ereksi belum terungkap.

Pada itik, penis merupakan senjata evolusi. Bebek laki-laki seringkali memaksakan seks pada perempuan untuk menyebar gen. Tapi wanita mengembangkan senjata kontra evolusi yang mampu ON/OFF inseminasi.

Pada Burung Unta dan Emu, cairan getah bening membuat kaku organ sambil mendorong air mani ke ujung. Perbedaan ini mencerminkan gaya kawin yang berbeda.

"Penis burung adalah evolusi baru, bukan karakter bersama reptil, sebagian karena ereksi limfatik," kata Brennan.

"Temuan kami mendukung hipotesis namun kita benar-benar menemukan ada banyak kesamaan antara penis reptil dan ratite," kata Brennan.

"Kepadatan dan konfigurasi jaringan pembentuk penis pada Burung Unta dan Emu mungkin evolusi dari jaringan yang sama," kata Brennan.

Robert Montgomerie, bioevolusionis Queen University di Kingston, Kanada, mengatakan belum ada orang yang melihat hal ini hingga sekarang. Itik, ratite dan semua spesies lainnya menggunakan sistem limfatik.

Penelitian menunjukkan hal ini harus hadir pada leluhur semua burung. Tetapi sistem berevolusi lebih baru dibanding susunan darah vaskular pada vertebrata lain.

"Saya kira sistem getah bening adalah bukti divergen. Darwin mengatakan penis adalah karakter seksual primer tapi tidak pada burung," kata Montgomerie.

Sebaliknya, penis mungkin sifat seksual sekunder yang membantu rangsangan perempuan, pamer kejantanan reproduksi dan bahkan aspek kompetisi seksual di antara laki-laki tetapi tidak diperlukan.

  1. P. L. R. Brennan dan R. O. Prum. The erection mechanism of the ratite penis. Journal of Zoology, 2 DEC 2011, DOI:10.1111/j.1469-7998.2011.00858.x

Patricia Brennan http://www.bio.umass.edu/biology/about/directories/faculty/patricia-l-r-brennan
Richard Prum http://www.yale.edu/eeb/prum/
Robert Montgomerie http://www.queensu.ca/biology/people/faculty/montgomerie.html

Tinuku Store