Pituitari Tumbuh di Piring Laboratorium dari Sel Embrio

Tinuku
News KeSimpulan.com - Sebuah kelenjar tumbuh sendiri. Pituitari berkembang dalam piring laboratorium. Para peneliti menumbuhkan kelenjar pituitari tikus dari sel embrio.

Lebih tepatnya, kelenjar pituitari tumbuh sendiri setelah peneliti Jepang berhasil membujuk sel induk embrio untuk membentuk jenis jaringan yang biasanya mengelilingi kelenjar.

Satu langkah pertama menuju kelenjar pituitari pengganti bagi manusia nantinya.

Kelenjar tumbuh Self-made di laboratorium juga dapat untuk mengembangkan organ-organ di dalam tubuh.

"Hasil kerja cantik dan benar-benar menarik," kata Sally Camper, genetikawan perkembangan University of Michigan di Ann Arbor.

Camper sebelumnya telah mencoba tetapi gagal membujuk sel induk embrio membentuk kelenjar hipofisis.

"Banyak yang merasa senang, bagi biolog perkembangan atau aplikasi klinis," kata Camper.

Para ilmuwan membujuk sel induk agar membentuk jenis jaringan tertentu, tapi menumbuhkan seluruh organ dalam piring laboratorium begitu sulit, kata Mehul Dattani, endokrinolog pediatrik University College London Institute of Child Health and Great Ormond Street Hospital for Children di London.

Yoshiki Sasai dari RIKEN Center for Developmental Biology di Kobe, Jepang, dan rekan berhasil di mana orang lain telah gagal. Para peneliti menggunakan materi kimia untuk membujuk sel induk embrionik tikus agar membentuk 2 jenis jaringan otak dalam piring laboratorium.

Kedua jaringan bertemu di otak yaitu pituitary sehingga kondisi bisa dimanipulasi seperti jaringan sisi-by-sisi. Para peneliti lalu memberi dosis Hedgehog, sebuah protein yang mengarahkan pengembangan jaringan berbeda.

Sebuah lipat dari jaringan disebut kantong Rathke secara spontan terbentuk di antara 2 jaringan dan akhirnya berkembang menjadi kelenjar pituitari, lengkap dengan 5 jenis sel yang memproduksi hormon.

Dan, kelenjar di piring benar-benar bekerja. Sebuah hormon disebut adrenocorticotropic baik dalam piring dan ketika ditransplantasi di dekat ginjal tikus, menjadi lebih praktis dibanding menempatkan kelenjar di tempat normal di dasar otak.

Pituitari juga membuat hormon-hormon lain yang mengatur fungsi pertumbuhan, tekanan darah, retensi air, organ seks, tiroid, kehamilan dan produksi susu. Namun rincian bagaimana interaksi jaringan menghasilkan kelenjar pituitari masih teka-teki, kata Dattani.

"Kami mendapat beberapa ide, tapi masih jauh. Masih banyak regulasi untuk diidentifikasi," kata Dattani.

Sasai berharap dapat menghasilkan kelenjar pituitari manusia dari sel induk embrionik manusia atau dari sel-sel induk terprogram dalam 3 tahun ke depan.
  1. Hidetaka Suga (Neurogenesis and Organogenesis Group, RIKEN Center for Developmental Biology, Kobe 650-0047, Japan; Division of Human Stem Cell Technology, RIKEN Center for Developmental Biology, Kobe 650-0047, Japan; Department of Endocrinology and Diabetes, Graduate School of Medicine, Nagoya University, Nagoya, 466-8550, Japan) et.al. Self-formation of functional adenohypophysis in three-dimensional culture. Nature 480, 57-62, 09 November 2011, DOI:10.1038/nature10637

Sally Camper http://www.hg.med.umich.edu/faculty/sally-camper-phd
Mehul Dattani http://www.uclh.org/OurServices/Consultants/Pages/ProfMehulDattani.aspx
Yoshiki Sasai http://www.cdb.riken.jp/sasai/

Gambar : Yoshiki Sasai, RIKEN Center for Developmental Biology

Tinuku Store