Sekuens Proteomika Tulang Mammuthus primigenius

Tinuku
News KeSimpulan.com - Tim peneliti internasional mengidentifikasi sekuens 126 protein berbeda dari tulang mammoth berbulu (Mammuthus primigenius) berdating 43.000 tahun.

Analisis proteomika merupakan metode alternatif disamping analisis DNA dalam sampel yang telah terdegradasi parah terkait kandungan materi genetik.

Sekuens protein sebelumnya dari fosil dinosaurus Tyrannosaurus rex berdating 68 juta tahun dan Hadrosaur berdating 80 juta tahun.

Tetapi kedua hasil terbukti kontroversial dan dipertanyakan.

Laporan lain mengidentifikasi protein kuno dari satu atau beberapa protein dalam tulang seperti kolagen, kata Enrico Cappellini, Postdoc di Centre for GeoGenetics di Natural History Museum of Denmark, Kopenhagen.

Cappellini dan tim menggunakan state-of-the-art mass spectrometry untuk mengeledah sampel femur raksasa yang terbaring di lapisan es Yakutia, Rusia tahun 1993.

Ekstrak halus setiap tahap memaksimalkan kepekaan jejak protein dan kontrol dalam menghapus kontaminasi. Para peneliti membersihkan sarung tangan lateks dari pohon karet (Hevea brasiliensis).

"Kami mati-matian mencari informasi biologi wooly mammoth," kata Cappellini.

Tetapi tidak berhasil. Tim melapor ke Journal of Proteome Research.

Meski begitu penelitian sangat menarik karena pertama kali mengembalikan seperti sejumlah besar protein kuno, kata Mary Schweitzer, paleontolog North Carolina State University di Raleigh, yang melaporkan protein dinosaurus.

"Studi ini memegang harapan uji molekuler hipotesis filogenetik menggunakan biomolekul lain dari DNA," kata Schweitzer.

Sekuens protein raksasa ini sangat terkait gajah modern, namun para peneliti melihat beberapa perbedaan. Albumin, misalnya, memiliki asam amino berbeda di 2 tempat dibandingkan gajah Afrika (Loxodonta africana) dan Asia (Elephas maximus).

Sekuens protein tidak memberi banyak informasi DNA tetapi lebih stabil sehingga dapat membuka misteri sampel kuno. Proteomik kuno bisa memberi informasi fungsi protein yang tidak terkandung dalam DNA dan bahkan mencari tanda-tanda mutasi penyakit kuno.

"Sekarang kita dapat menjelajah waktu dan melihat sampel yang lebih tua," kata Cappellini.
  1. Enrico Cappellini et.al. Proteomic analysis of a Pleistocene mammoth femur reveals more than one hundred ancient bone proteins. Journal of Proteome Research, November 21, 2011, DOI:10.1021/pr200721u

Enrico Cappellini http://geogenetics.ku.dk/
Mary Schweitzer http://www.meas.ncsu.edu/faculty/schweitzer/schweitzer.html

Gambar : Tracy O (dalam En Wikipedia)

Tinuku Store