Evolusi Telinga Serangga Sebelum Kelelawar Datang

Tinuku
News KeSimpulan.com - Fosil 2D jangkrik dan belalang berkisah asal-usul pendengaran. Serangga upgrade telinga ultrasound jauh sebelum predator kelelawar datang.

Beberapa jangkrik dan belalang yang hidup 50 juta tahun lalu terawetkan dengan baik dalam batu. Para ilmuwan sedikit terbantu untuk melacak evolusi telinga serangga dan sekarang kita bisa sedikit tahu misteri lama.

Serangga mendengar dengan bantuan telinga yang tidak biasa. Belalang memiliki telinga di perut. Lacewing memiliki telinga pada sayap. Lalat Tachinid menyelipkan telinga di bawah dagu.

"Serangga memiliki telinga hampir di setiap bagian tubuh mereka," kata kata Roy Plotnick, paleontolog University of Illinois Chicago, melapor ke Journal of Paleontology.

Serangga mengevolusi telinga minimal 17 kali dalam garis keturunan berbeda.

Plotnick dan Dena Smith, paleontolog University of Colorado Boulder, mencoba mengetahui kapan serangga berbeda memiliki telinga dan apakah predator memainkan peran.

Serangga modern seperti jangkrik mengerik seperti paduan suara saat mencari cinta. Tapi banyak spesies membuat suara di luar jangkauan pendengaran manusia.

Jangkrik, ngengat dan serangga terbang lain memiliki pendengaran ultrasound dan bisa mendengar untuk menghidar dari serangan kelelawar yang terbang malam. Serangga mengevolusi pendengaran supersensitif untuk bertahan hidup.

"Pemicu evolusi pendengaran pada banyak serangga sebagai respon ancaman predator kelelawar. Sebelum evolusi kelelawar kita menduga serangga relatif tidak memiliki telinga," kata Plotnick.

Selama 15 tahun, Plotnick dan Smith mengeledah deposit danau di Wyoming, Utah dan Colorado dikenal sebagai Green River Formation di mana beberapa kelelawar paling awal ditemukan.

Sekitar 50 juta tahun lalu, sedimen berbutir halus yang menutupi dan mengubur hewan yang tinggal di sana dan berhasil menjaga secara utuh dan rinci hingga hari ini.

"Anda bisa melihat setiap fitur kecil dari pembuluh darah sayap hingga bulu kaki," kata Smith.

Fosil telinga memiliki panjang setengah milimeter dan hampir identik dalam ukuran, bentuk, dan posisi dengan rekan-rekan modern mereka. Temuan menunjukkan serangga mengevolusi pendengaran supersensitif jauh sebelum predator kelelawar datang.
  1. Roy E. Plotnick (Department of Earth and Environmental Sciences, University of Illinois at Chicago, 845 W. Taylor St., Chicago, IL 60607, USA, ) dan Dena M. Smith (CU Museum of Natural History and Department of Geological Sciences, 265 UCB, University of Colorado, Boulder, CO 80309-0265, USA, ). Exceptionally Preserved Fossil Insect Ears from the Eocene Green River Formation of Colorado. Journal of Paleontology, January 2012, Vol.86, No.1, pp.19-24, DOI:10.1666/11-072.1

Roy Plotnick http://tigger.uic.edu/~plotnick/plotnick.htm
Dena Smith http://spot.colorado.edu/~dena

Gambar : Dena Smith/University of Colorado Museum

Tinuku Store