Mengubah Satu Stereotip Membuat Stereotip Lain

Tinuku
News KeSimpulan.com - Mengubah satu stereotip dan membuat stereotip lain. Mendukung penghapusan subsidi BBM tidak hanya menaikkan reputasi diri tetapi juga reputasi lawan.

Stereotip cenderung buruk maka memahami penyebab menjadi upaya penting. Penelitian-penelitian sebelumnya telah tahu berbagai informasi tentang suatu kelompok tertentu atau anggotanya dapat mengubah stereotip.

Namun studi baru menemukan stereotip kelompok juga dapat berubah berdasarkan informasi dari kelompok yang berbeda.

Stefanie Maris dan Vera Hoorens melapor ke Journal of Experimental Social Psychology bahwa stereotip adalah ayunan naik-turun kawan dan lawan.

Lebih khusus lagi, ketika ada 2 kelompok saling eksklusif dengan stereotip berbeda, misalnya laki-laki secara fisik kuat dan wanita lemah.

Informasi yang kongruen dengan stereotip kompeten kelompok (misalnya Budi dan Joni lemah) dapat mengubah stereotip kelompok lain (perempuan sebenarnya tidak lemah).

Mengapa bisa terjadi? Ini agak sederhana.

Ketika populasi dianggap terdiri dari 2 kelompok saling eksklusif dan menyeluruh, orang-orang yang membentuk stereotip kelompok-kelompok ini cenderung saling tergantung.

Misalnya, stereotip bahwa perempuan relatif empatik sedangkan laki-laki cenderung unempatik. Dalam hal ini, informasi tentang laki-laki empati secara langsung tidak sesuai dengan stereotip laki-laki dan secara tidak langsung tidak sesuai dengan stereotip perempuan.

Sejauh ini penelitian dalam domain perubahan stereotipe difokuskan pada directly stereotype-incongruent information dan mengabaikan indirectly stereotype-incongruent information.

Dalam kehidupan nyata yang melibatkan 2 pihak saling eksklusif dan menyeluruh dalam sistem politik Indonesia, misalnya, polemik penghapusan subsidi BBM yang mengerogoti keuangan pemerintah dan tidak mendidik rakyat.

Ketika PDIP dan Gerindra mendukung kebijakan pemerintah (Demokrat dan Golkar), tidak hanya akan mengurangi stereotipe PDIP dan Gerindra yang anti-pasar, namun juga akan mengurangi stereotip Demokrat yang pro-pasar.

Menyedihkan bagi kebaikan publik bahwa menegakkan disiplin partai bahkan lebih penting karena setiap penyimpangan akan merugikan reputasi Anda dan meningkatkan reputasi lawan. Ini alasan lain bahwa kita terikat pada ekuilibrium di mana kedua belah pihak secara sukarela menyensor diri mereka sendiri.
  1. Stefanie Maris (FWO-Flanders, Leuven, Belgium; K.U.Leuven, Leuven, Belgium) dan Vera Hoorens (K.U.Leuven, Leuven, Belgium). The ISI change phenomenon: When contradicting one stereotype changes another. Journal of Experimental Social Psychology, 8 January 2012, DOI:10.1016/j.jesp.2012.01.001

Gambar : Andreia Santos et.al. (2010), DOI:10.1016/j.cub.2010.02.009
Tinuku Store

No comments:

Post a Comment