Tempelan Label dan Logo Membuat Anda Tidak Berdaya

Tinuku
News KeSimpulan.com - Label dan Logo seperti membuat Anda tak berdaya. Logo memberi label dan label memberi kenyamanan status elit dan kekuatan super power.

Seorang wanita masuk ke café dengan tas Gucci di bahu. Berkelas Orang berstatus tinggi dan elite. Seorang pria berjalan mengenakan ikat pinggang Dolce & Gabbana. Cukup jelas. Penampilan mahal dan berpower.

Jika Anda melihat pemandangan di atas, Anda mungkin yakin bahwa mereka menempati status dan elite teratas dengan barang ditempeli logo dan merek jelas.

Orang-orang berpower benar-benar cenderung membeli barang dan jasa dengan label sebagai upaya untuk tampak lebih unggul.

Prestise dan visibilitas permainan merek ini lucu. Item status murah melekat nama Cibaduyut dan label kurang terlihat.

Elite atas memiliki penanda merek Gucci dan label melekat status sosial orang-orang berduit.

Orang bisa menghabiskan Rp.10.000.000 untuk sepasang sepatu dari desainer Christian Louboutin yang sebenarnya tidak berbeda dalam desain dengan sepatu murah seharga Rp.250.000.

Ini tampaknya tidak masuk akal. Namun jelas para desainer telah menemukan pasar. Apa yang menyebabkannya? Label dan logo sangat relevan untuk fashion. Ada kepastian domain di mana orang-orang berkuasa memamerkan pola isyarat halus, sementara orang-orang tak berdaya lebih di bawah rata-rata.

Baik Cibaduyut dan Gucci saling membutuhkan label lawan. Hubungan ketergantungan ini bersifat dinamis dan ditanamkan ke dalam mindset orang-orang.
  1. Derek D. Rucker dan Adam D. Galinsky. Conspicuous consumption versus utilitarian ideals: How different levels of power shape consumer behavior/ Journal of Experimental Social Psychology, Volume 45, Issue 3, May 2009, Pages 549-555, DOI:10.1016/j.jesp.2009.01.005
  2. Jonah Berger dan Morgan Ward. Subtle Signals of Inconspicuous Consumption. Journal of Consumer Research, Vol.37, No.4 (December 2010), pp.555-569, DOI:10.1086/655445

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment