Iri Hati dan Dengki Setingan Default Manusia

Tinuku
News KeSimpulan.com - Iri hati default setting manusia. Iri dan dengki adalah menyebalkan. Selain merasa buruk, iri menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak kita miliki.

Anda sering merasa kusut dan betapa bodohnya Anda merasa iri. Sekarang ada kabar baik. Jan Crusius dan Thomas Mussweiler menunjukkan bahwa iri menjadi setelan standar manusia. Hanya ongkos sumber daya kognitif yang mampu mengelola perasaan iri.

"Kami mengusulkan perbandingan sosial dengan orang lain yang lebih mampu memicu respon iri impulsif," kata Crusius dan Mussweiler.

"Iri membutuhkan kecenderungan perilaku untuk berjuang menjadi lebih baik dibanding atasan Anda."

"Namun, mengingat pengalaman iri hati menyakitkan, mengancam diri sendiri, dan permusuhan sosial, orang biasanya berusaha untuk mengendalikan reaksi ini".

"Untuk mengelolanya dibutuhkan kapasitas kontrol diri sehingga reaksi iri hanya nampak jika kontrol diri terpotong pajak"

Kita sering mengabaikan betapa banyak kehidupan sehari-hari didorong oleh proses psikologis yang berevolusi dalam mengatasi masalah tekanan hidup leluhur selama ratusan ribu tahun yang lalu dan iri hati menjadi contoh dalam hal ini.

Tujuan utama setiap primata dalam hidup untuk meningkatkan peluang dalam reproduksi dengan menjadi laki-laki alpha. Iri hati menjadi pondasi integral dalam maintaing bagi tujuan ini.

Salah satu pertanyaan tentang masa depan umat manusia adalah bagaimana sukses dalam mengidentifikasi dan menghilangkan mekanisme psikologis maladaptif yang berkembang melalui proses evolusi selama jutaan tahun. Anda berdiri tanpa kaki penopang!

Bayangkan jika Anda menghapus iri hati dalam situasi yang memungkinkan menjadi tidak produktif. Selamanya Anda menjadi pegawai rendahan sementara orang lain telah bersanding dengan pacar cantik. Sistem pendidikan formal masa depan harus bisa fokus untuk pengajaran trik mekanisme psikologis yang telah teruji selama jutaan tahun ini.
  1. Jan Crusius dan Thomas Mussweiler. When people want what others have: The impulsive side of envious desire. Emotion, Vol 12(1), Feb 2012, 142-153, DOI:10.1037/a0023523

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment