Penyebab Terorisme Adalah Ajaran Agama Itu Sendiri

Tinuku
News KeSimpulan.com - Apa yang memotivasi bomber bunuh diri? Orang-orang marah jika ditunjukkan bahwa penyebab terorisme agama adalah ajaran agama itu sendiri.

Namun kita tidak bisa terus membohongi realita. Terorisme bunuh diri adalah bisnis aneh. Sebagai sarana membunuh warga sipil maka aksi ini sangat efisien. Selama tahun 1980 mencatat rata-rata sekitar 5 serangan bom bunuh diri per tahun. Tahun 2000-2005 jumlah melejit menjadi 180.

Sasaran beragam. Israel, Irak, Afghanistan dan Pakistan, tapi Somalia, Sri Lanka dan Indonesia mengalami peningkatan kehancuran selama beberapa tahun terakhir.

Terorisme bom bunuh diri menjadi hal yang sulit dipahami dari sudut pandang psikologis.

Seseorang masuk ke pasar yang ramai mengenakan mantel penuh paku, mur dan racun tikus di pinggang. 99 persen pelaku adalah laki-laki.

Bagaimana kita memahami ini?

Banyak orang mengklaim tingkat pendidikan dan kemiskinan penyebab terorisme. Ini tidak benar.

Dr. Azahari, para jagger Jemaah Islamiyah dan Al Qaeda serta semua pembajak 9/11 adalah orang-orang perguruan tinggi. Aksi terorisme merusak dan menghancurkan ekonomi. Tidak ada keuntungan ekonomis dan justru membuat semakin miskin. Jadi pendidikan dan ekonomi bukan penyebab.

Terorisme juga tidak muncul sebagai akibat penindasan politik. Dalam kasus Islam, tidak ada keraguan bahwa banyak orang terdidik dari kelas menengah siap membunuh dan mati untuk Allah.

"Karena Quran membuat teorirsme sebagai kesempatan karir. Kepercayaan Muslim atas kesyahidan dan jihad maka tindakan pelaku bom bunuh diri menjadi benar-benar dipahami," kata Sam Harris, neurosaintis, penulis dan pendiri Project Reason.

Iman yang memotivasi Muslim dan keyakinan adalah kunci untuk memahami psikologis terorisme bunuh diri. Ketika bomber bunuh diri terbangun maka segera disambut 72 bidadari perawan di surga. Mereka percaya akan dikenang sebagai pahlawan atas nama kemuliaan Allah.

Tidak perlu sebuah imajinasi untuk menebak apa yang mereka kotbahkan. Epistemologi bukan keseluruhan cerita. Aksi memerlukan keyakinan tapi keyakinan tidak tercipta di ruang hampa. Memahami motif pelaku bom bunuh diri menuntut penyelidikan komunitas dan konteks.

Inilah yang mendorong antropolog Scott Atran mewawancarai teroris bunuh diri yang gagal untuk menjelaskan profil otak teroris bunuh diri. Panggilan untuk mati syahid menawarkan kesempatan untuk bergabung dengan komunitas yang kohesif dan mendukung terorisme.

Ketika Anda mengidolakan teroris dengan seperangkat kitab suci dan ritual yang menjanjikan kemuliaan dalam kekal dimana zikir di dunia yang tidak akan pernah memberi mereka nikmati selama hidup.

Antropolog Richard Sosis menunjukkan pengorbanan komune agama mengharuskan anggota untuk menjauhi yang haram hingga cara berpakaian sangat efektif mengikat anggota.

Keyakinan individu dan masyarakat membantu kita memahami jiwa pelaku bom bunuh diri. Tapi penjelasan belum juga cukup bagi kita bertanya-tanya. DNA memiliki satu tujuan yaitu replikasi maka seleksi alam harus memberi kita cara untuk menghentikan proses ini.
  1. Richard Sosis (University of Connecticut) dan Eric R. Bressler (McMaster University). Cooperation and Commune Longevity: A Test of the Costly Signaling Theory of Religion. Cross-Cultural Research, May 2003 vol.37 no.2 211-239, DOI:10.1177/1069397103037002003
  2. Scott Atran (CNRS–Institut Jean Nicod, 1 bis Avenue Lowendal, 75007 Paris, France, and Institute for Social Research, University of Michigan, Ann Arbor, MI 48106–1248, USA. E-mail: satran@umich.edu). Genesis of Suicide Terrorism. Science, 7 March 2003: Vol.299 no.5612 pp.1534-1539, DOI:10.1126/science.1078854

Sam Harris http://en.wikipedia.org/wiki/Sam_Harris_(author)
Scott Atran http://sitemaker.umich.edu/satran/home

Tinuku Store

No comments:

Post a Comment