Paruh Burung Bukan Reseptor Magnet Navigasi

Tinuku
News KeSimpulan.com - Misteri sistem navigasi burung masih dalam berkas perkara. Burung mengambil rute ribuan kilometer tanpa tersesat untuk pulang.

Beberapa burung melakukan migrasi tahunan sejauh 81.600 kilometer di antara kutub ke kutub. Grand teori medan magnet semakin populer. Usulan teori ini ditopang oleh dua hipotesis bagaimana burung dapat merasakan medan magnet bumi.

Satu hipotesis melibatkan spin elektron. Karena proses ini membutuhkan cahaya, molekul di mata burung dapat terbuka untuk merasakan magnet.

Hipotesis kedua mengklaim sel kaya zat besi. Beberapa bakteri hidup dalam mineral besi magnetit sehingga sel-sel di paruh burung mempengaruhi jalur penerbangan.

Pada tahun 2007, satu tim peneliti mengklaim bahwa paruh merpati mengandung 6 patch sel kaya besi untuk navigasi.

Sekarang Christoph Treiber dari Institute of Molecular Pathology di Vienna, Austria, dan rekan menguji dua hipotesis tersebut.

Tim mengumpulkan lebih dari 200 merpati di seluruh Eropa. Paruh dihapus dan diiris masing-masing menjadi sebanyak 2.500 bagian. Mereka mencari molekul magnetit menggunakan noda yang berubah biru ketika bereaksi di hadapan besi.

"Banyak kekecewaan, kami tidak menemukan zat kaya besi di 6 wilayah yang dilaporkan sebelumnya," kata David Anthony Keays dari dari Institute of Molecular Pathology.

Bahkan tim semakin kecewa dan tidak yakin bahwa di dalam paruh ini adalah sel neuron. Ketika dieriksa sel di bawah mikroskop elektron, sama sekali tidak terlihat seperti neuron melainkan struktur sel darah putih sebagai makrofag.

"Argumen kami bahwa sel-sel ini tidak ada hubungannya dengan magnetoreception," kata Keays.

Bagaimana burung menavigasi adalah teka-teki rumit. Pencitraan otak dan penelitian lain yang menggunakan medan magnet di laboratorium menunjukkan burung mengambil informasi dari sensor di suatu tempat di atau di dekat paruh. Penelitian lain menunjukkan protein cryptochrome di retina mata juga terlibat dalam mendeteksi medan magnet.

Keays mengatakan dirinya tidak menantang hipotesis dasar bahwa burung dapat mendeteksi medan magnet Bumi, tapi temuan penelitian sebelumnya yang didasarkan pada identifikasi menggunakan sel magnetik-sensing harus ditinjau kembali.

"Ini cukup provokatif," kata Steven Reppert dari University of Massachusetts di Worcester.
  1. Christoph Daniel Treiber (Institute of Molecular Pathology, Dr Bohr-Gasse, 1030 Vienna, Austria) et.al. Clusters of iron-rich cells in the upper beak of pigeons are macrophages not magnetosensitive neurons. Nature, 11 April 2012, DOI:10.1038/nature11046
  2. Gerta Fleissner (AG NCR, FB Biowissenschaften, J. W. Goethe-Universit├Ąt Siesmayerstr. 70 D-60054 Frankfurt a. M. Germany) et.al. A novel concept of Fe-mineral-based magnetoreception: histological and physicochemical data from the upper beak of homing pigeons. Naturwissenschaften, Volume 94, Number 8, 631-642, Thursday, March 15, 2007, DOI: 10.1007/s00114-007-0236-0

David Keays http://www.imp.ac.at/research/david-keays/
Steven Reppert http://profiles.umassmed.edu/profiles/ProfileDetails.aspx?From=SE&Person=622

Gambar : M. Lythgoe & J. Riegler/UCL Centre for Advanced Biomedical Imaging
Video : Christoph Treiber et.al. Nature, DOI:10.1038/nature11046
YouTube : KeSimpulanTube http://www.youtube.com/user/KeSimpulanTube




Tinuku Store

No comments:

Post a Comment